Studi: Vaksin Sinovac Tak Efektif Lawan Varian Gamma

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Brasilia - Vaksin COVID-19 Sinovac, 'alat' utama dalam perang Brasil melawan pandemi, dianggap kurang efektif terhadap varian Gamma yang pertama kali terdeteksi di negara Amerika Selatan tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa antibodi yang dihasilkan oleh vaksin bekerja kurang baik terhadap varian Gamma, demikian dikutip dari laman Channel News Asia, Jumat (9/7/2021).

Kapasitas Gamma untuk menghindari respons sistem kekebalan kerap berhasil dan bahkan terjadi pada orang yang sudah divaksinasi, kata penelitian.

Dalam studi kecil, para peneliti di University of Campinas di Brasil memaparkan baik Gamma dan jenis varian sebelumnya mampu memaparkan banyak orang yang sudah divaksinasi.

Dalam kelompok yang divaksinasi, 18 orang menerima satu dosis Sinovac, sementara 20 orang menerima suntikan kedua dan 15 lainnya telah divaksinasi Sinovac pada uji klinis Agustus 2020.

Mereka menemukan bahwa Gamma mampu lolos dari antibodi hampir ke semua peserta yang hanya menerima satu dosis, serta mereka yang divaksinasi pada tahun 2020.

Sinovac telah disetujui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk penggunaan darurat pada Juni 2021.

Pada saat itu, WHO mengatakan bahwa vaksin Sinovac memiliki kemanjuran 51 persen terhadap penyakit simtomatik dan 100 persen terhadap rawat inap.

Beda Hasil di Turki

Isikli Tosun Baba (60) memegang dan mengenakan bendera Turki di Oncupinar, Kilis, Turki, Minggu (28/1). (AP Photo/Lefteris Pitarakis)
Isikli Tosun Baba (60) memegang dan mengenakan bendera Turki di Oncupinar, Kilis, Turki, Minggu (28/1). (AP Photo/Lefteris Pitarakis)

Tetapi hasil dari uji coba fase 3 CoronaVac di Turki yang diterbitkan di Lancet menemukan dua dosis vaksin memiliki kemanjuran 83,5 persen dalam melindungi seseorang terhadap infeksi simtomatik.

Ia juga menemukan vaksin itu 100 persen efektif melawan rawat inap.

Penelitian ini melibatkan 6.559 peserta yang menerima vaksin dan 3.470 yang diberi plasebo.

Semua adalah orang dewasa berusia antara 18 dan 59 dan diberi dosis 14 hari secara terpisah.

"Dunia membutuhkan setiap dosis vaksin yang aman dan efektif untuk melawan SARS-CoV-2," kata peneliti.

Kedua penelitian tersebut akan dipresentasikan pada Kongres Mikrobiologi Klinis dan Penyakit Menular Eropa tahun ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel