Stunting dan Ancaman Genting Post Gen Z

Dian Lestari Ningsih, ekoapriyanto
·Bacaan 4 menit

<p>VIVA – Perang melawan pandemi COVID-19 belum berakhir. Babak baru penanganan pandemi telah memasuki tahap pemberian vaksin. Diharapkan dengan adanya vaksinasi tersebut situasi akan semakin membaik. Termasuk kinerja pembangunan yang sempat terganggu akibat pandemi juga diharapkan segera pulih dan kembali normal.

Sebelum pandemi, Indonesia tengah fokus pada penurunan angka prevalensi stunting. Penanggulangan stunting masuk dalam program strategis pemerintah di bidang kesehatan. Target penurunan stunting dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dicanangkan sebesar 14,00 persen. Namun dengan adanya pandemi COVID-19 dikhawatirkan penanganan stunting terganggu dan menjadi lebih buruk. Situasi tersebut membawa “Post Gen Z” pada ancaman stunting yang lebih besar.

Siapakah “Post Gen Z”? Mereka adalah balita dan anak-anak kelompok umur s.d 7 tahun (lahir tahun 2013 dst). Post Gen Z menjadi kelompok usia paling rentan terhadap stunting karena masih berada dalam proses tumbuh kembang. Jumlah Post Gen Z di Indonesia berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sebesar 10,88 persen dari total jumlah penduduk yang sebesar 270,20 juta jiwa. Besarnya jumlah post gen Z pun sudah selayaknya menjadi perhatian lebih bagi pemerintah dalam rangka penurunan stunting.

Potret Stunting

Seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK) pada anak adalah tahapan yang sangat penting. Kekurangan gizi pada 1.000 HPK akan berisiko terjadinya stunting. Stunting atau kerdil/pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang.

Walaupun identik dengan tampilan fisik anak, namun stunting tidak hanya sekedar memiliki tinggi badan lebih pendek dibandingkan tinggi badan anak seumurannya. Kondisi stunting dapat menyebabkan anak lebih rentan terhadap penyakit serta mengalami keterhambatan dalam pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif yang tentunya memengaruhi tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan.

Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) 2019 yang dilakukan Kementerian Kesehatan dan BPS, memotret prevalensi stunting di Indonesia sebesar 27,67.

Artinya hampir sepertiga dari jumlah anak balita (Post Gen Z) mengalami masalah gizi yang mengakibatkan tinggi badannya lebih rendah dari kelompok seusianya. Kerja keras pemerintah Indonesia dalam menurunkan prevalensi stunting sebenarnya terbilang cukup moncer. Hal itu dapat dilihat dari penurunan angka stunting di Indonesia dari 30,80 persen (Riskesdas, 2018) menjadi 27,67 (SSGBI, 2019).

Yang artinya terjadi penurunan sebesar 3,13 persen dalam setahun. Namun kembali perlu diingat, pandemi COVID-19 benar-benar menjadi ancaman genting terhadap pemenuhan gizi anak balita hingga menyebabkan stunting.

Resiko Stunting Imbas Pandemi

Bukan tanpa alasan jika pandemi COVID-19 menjadi ancaman peningkatan angka stunting. UNICEF pun memperkirakan peningkatan jumlah kasus stunting akibat kekurangan gizi akut sebanyak 15 persen atau setara dengan 7 juta kasus di seluruh dunia.’

Pembatasan kegiatan kemasyarakatan selama pandemi COVID-19 dengan adanya penerapan physical distancing hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam menekan penyebaran COVID-19, di lain sisi dapat menghambat akses konsumsi dan pelayanan gizi serta kesehatan anak, termasuk pelayanan gizi (imunisasi) di posyandu. Kondisi ini diperparah dengan belum optimalnya pola asuh yang baik, sehingga dapat menyebabkan peningkatan prevalensi stunting.

Layanan posyandu seperti imunisasi dasar menjadi bagian penting yang tak bisa ditawar dalam pencegahan stunting. Namun di masa pandemi COVID-19 layanan di beberapa fasilitas kesehatan mengalami pengurangan.

Salah satunya yaitu cakupan layanan imunisasi dasar lengkap bagi balita. Hasil survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan dan UNICEF terhadap lebih dari 5.300 fasilitas kesehatan di Indonesia pada bulan April 2020, menunjukkan bahwa hampir 83,9 persen menyatakan layanan imunisasi mengalami gangguan signifikan.

Padahal saat normal saja atau sebelum pandemi, persentase balita usia 12-23 bulan yang mendapat imunisasi dasar lengkap di Indonesia masih tergolong minim yaitu sebesar 57,17 persen menurut data Susenas Maret 2020.

Pandemi COVID-19 pun telah mendorong terjadinya kenaikan persentase penduduk miskin Indonesia sebesar 0,56 persen poin menjadi 9,78 persen per Maret 2020. Stunting memang selalu diidentikkan dengan kemiskinan. Ketika suatu rumah tangga miskin, kemungkinan besar kemampuan dalam memenuhi asupan gizi yang cukup bagi “buah hati”nya akan semakin berkurang.

Terjadinya pandemi tentu sontak memengaruhi aktivitas perekonomian menjadi tak menentu sehingga sebagian orang kehilangan/berkurang pendapatannya. Hasil Sakernas Agustus 2020 menunjukkan sebanyak 2,56 juta orang menganggur karena COVID-19; 1,77 juta orang sementara tidak bekerja karena COVID-19 dan 24,03 juta orang penduduk bekerja mengalami pengurangan jam kerja karena COVID-19.

Pemberian makanan bergizi bagi anak umur 6-23 bulan sangat penting untuk meningkatkan kesehatan dan perkembangan anak, khususnya menghindarkan dari ancaman stunting. Asupan makanan gizi yang cukup mencakup pemberian keragaman makanan yang setidaknya terdiri 4 kelompok makanan.

Keragaman makanan yang dimaksud mengandung karbohidrat, protein, dan zat penting lainnya yang dibutuhkan untuk pemenuhan gizi anak. Namun kondisi akibat pandemi membuat sebagian para orang tua tidak bisa berbuat banyak.

Rumah tangga dengan kuintil pengeluaran rendah cenderung kurang mampu memenuhi asupan gizi anak balitanya. Secara umum persentase balita umur 6-23 bulan yang menerima 4 kelompok makanan dalam 24 jam terakhir pada tahun 2020 hanya sebesar 69,93 persen.

Pengendalian Stunting

Kekhawatirkan pengendalian stunting menjadi lebih buruk lagi sebagai imbas pandemi COVID-19 mutlak diantisipasi. Bagi pemerintah selaku pembuat kebijakan, memastikan pelayanan kesehatan di posyandu bagi ibu hamil dan balita tetap terlaksana perlu dilakukan dan tentunya disertai protokol kesehatan.

Pembagian BPNT bagi keluarga tidak mampu agar tercapai keragaman pemberian gizi bagi anak balita juga perlu slebih diperluas jangkauannya. Selanjutnya yang tak kalah penting yaitu peningkatan pemahaman pencegahan stunting pada ibu hamil melalui kegiatan edukasi dan sosialisasi. Diperlukan kerjasama antar berbagai pihak dalam mengoptimalkan perbaikan gizi anak balita Post Gen Z. Sehingga kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan terjaga dan ancaman terhadap stunting kian sirna.