Suara dari Stalaktit-Stalakmit Goa Gong Pacitan  

TEMPO.CO, Pacitan - Dijuluki sebagai Kota 1001 Gua, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, memiliki satu gua terkenal: Goa Gong. Terletak di Dusun Pule, Desa Bomo, Kecamatan Punung, 37 kilometer dari Kota Pacitan, obyek wisata ini bisa dicapai menggunakan mobil atau motor. Kondisi jalan pun telah beraspal, tapi alurnya cukup berliku. Di antaranya ada tebing serta jurang pegunungan.

Goa Gong diklaim sebagai gua terindah se-Asia Tenggara. Waktu Tempo berkunjung pada awal April 2013, terlihat jika pujian itu tidak berlebihan. Goa Gong memang bagus dan unik.

Cukup dengan membayar tiket masuk Rp 6.000 per orang, Tempo memasuki Goa Gong bersama satu pemandu, Adi Haryono. Suasana Goa Gong tengah sepi kala itu karena bukan akhir pekan atau musim liburan. Mulut Goa Gong tak begitu lebar. Namun, ketika masuk lebih dalam lagi, sejumlah ruangan gua tampak luas.

"Goa Gong memiliki jalur jalan sepanjang 300 meter," kata Adi. "Di sini ada tujuh ruangan dan empat sendang atau sungai mata air."

Keunikan Goa Gong sendiri terletak pada stalaktit dan stalakmit yang dapat berbunyi seperti gong ketika dipukul. Keanehan itu pula yang membuatnya berjuluk Goa Gong. Kata Adi, dulu sering terdengar suara gamelan, termasuk bunyi gong dari dalam gua. "Ada suara, tapi tak terjamah. Jadi, dulu dianggap angker."

Berdasarkan cerita turun-temurun, Goa Gong ditemukan dua sesepuh Desa Bomo, Mbah Noyo Soemito serta Mbah Joyo Rejo, pada 1924. Kala itu, kekeringan tengah melanda Pacitan. Dan kedua lelaki itu bertapa dalam Goa Gong hingga menemukan empat mata air. Namun, sepeninggal Mbah Noyo, Goa Gong tidak pernah lagi disinggahi penduduk. Baru pada 5 Maret 1995, masyarakat setempat kembali mencari keberadaan gua.

"Awalnya ayah saya yang cerita tentang goa yang ditemukan kakek," kata Wakino, cucu Mbah Noyo, dalam buku panduan wisata Goa Gong. "Lalu saya mengajak beberapa orang mencari gua ini."

Proses pembentukan stalaktit dan stalakmit batu kapur itu sangatlah lama sampai membuatnya berupa seperti batu marmer dan kristal. Bentuk ornamen stalaktit dan stalakmit yang unik dan beragam itu menambah keindahan goa. "Stalaktit dan stalakmit yang menimbulkan suara gong, di antaranya Selo Citro Tirto Agung dan Senden Bumi," kata Adi.

Pada tahun 1996, Pemerintah Kabupaten Pacitan membangun fasilitas tangga jalan, pagar, lampu penerangan, dan mesin pendingin ruangan. Namun, bentuk gua yang menjorok jauh serta curam ke dalam membuat udara sangat pengap dan lembab. Karena itu, pengunjung harus mengatur napas kala menyusurinya. "Jalan setapaknya licin dan basah, jadi harus hati-hati."

Goa Gong hanya memiliki satu akses pintu masuk dan keluar. Dengan demikian, pengunjung harus berjalan melalui rute satu arah memutar, mulai dari pintu masuk sampai keluar. Ruang tengah dan ujung gua bentuknya cukup luas dan menjorok. Semakin ke ujung gua, semakin ke bawah.

Bila belum puas menyusuri Goa Gong, Anda dapat mampir ke Goa Tabuhan di Dusun Tabuhan, Desa Wareng, Kecamatan Punung. Bisa juga bermain air di Pantai Klayar, tujuh kilometer di selatan Goa Gong.

ISHOMUDDIN

Topik terhangat:

Ujian Nasional | Bom Boston | Lion Air Jatuh | Preman Yogya | Prahara Demokrat

Terpopuler:

Situs Sejarah Banyuwangi Rusak 

Jorok, Pendaki Semeru Didenda Rp 100 Ribu 

Raksasa Muncul di Festival Layang-Layang Prancis

Sabang Kembali Didatangi Kapal Pesiar

Mentawai Punya Dua Titik Ombak Terbaik Dunia  

 

 

 

 

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.