Suara Hati Bocah 10 Tahun Palestina: AS, Berhenti Kirim Senjata ke Israel

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Gaza - Sebuah video seorang gadis Palestina berusia 10 tahun di Gaza yang terkepung oleh serangan Israel menarik perhatian dunia.

Kala itu, ia mendesak orang-orang untuk mengingat bahwa "anak-anak sekarat" akibat serangan udara Israel, demikian dikutip dari laman Independent.co.uk, Rabu (19/5/2021).

Nadeen Abed al Lateef mengatakan kepada wartawan pada Minggu 16 Mei, di salah satu hari paling mematikan dalam serangan itu: "Kami sekarat. Kami bahkan tidak pantas menerima ini."

Mengenakan kemeja ungu, dan berdiri bersama saudara laki-lakinya yang berusia enam tahun di reruntuhan, siswi yang duduk di sekolah dasar Palestina itu mengatakan kepada NBC News: "Orang-orang Amerika, berhenti memberi, berhenti memberikan senjata kepada penjajah. Itulah cara Anda dapat membantu kami."

Lebih dari 200 orang diperkirakan tewas di Gaza setelah serangan udara berulang kali oleh Israel, termasuk 61 anak-anak Palestina.

Sementara itu, diperkirakan 10 orang Israel tewas akibat serangan 3.300 roket dari Hamas sejak awal konflik, termasuk dua anak, menurut laporan pihak berwenang Israel.

Hamas, yang menguasai kota Gaza, dianggap sebagai organisasi teroris oleh Israel dan AS.

Cita-cita Ingin Jadi Dokter

Militan Palestina Hamas meluncurkan roket menuju Israel dari Rafah, di Jalur Gaza selatan, Rabu (12/5/2021) dinihari. Hamas menyatakan mereka telah menembakkan lebih dari 200 roket ke Israel sebagai pembalasan atas serangan di sebuah blok menara di Gaza. (SAID KHATIB / AFP)
Militan Palestina Hamas meluncurkan roket menuju Israel dari Rafah, di Jalur Gaza selatan, Rabu (12/5/2021) dinihari. Hamas menyatakan mereka telah menembakkan lebih dari 200 roket ke Israel sebagai pembalasan atas serangan di sebuah blok menara di Gaza. (SAID KHATIB / AFP)

Nadeen mengatakan bahwa situasi tersebut membuatnya "ingin menangis" ketika melihat begitu banyak orang yang ketakutan.

Anak berusia 10 tahun itu ingin menjadi dokter tetapi mengatakan bahwa sekolahnya ditutup dan pengajaran online terhenti karena serangan tersebut.

"Ketika saya besar nanti, saya ingin menjadi dokter untuk membantu orang-orang, tetapi saya tidak bisa. Tidak ada pembelajaran. Saya tidak punya hak untuk belajar karena penjajah. Hak saya untuk belajar hilang."

Dia menambahkan: "Saya ingin menjalani hidup saya, jika saya tertembak saya tidak peduli, saya masih akan pergi belajar. Impian saya adalah menjadi seorang dokter. Saya tidak peduli jika Anda menembak saya."

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel