Subholding Gas Pertamina Integrasikan Infrastruktur Pipa dan Non-Pipa, untuk Apa?

Merdeka.com - Merdeka.com - Subholding Gas PT Pertamina (Persero), PT PGN Tbk mengintegrasikan infrastruktur gas bumi sebagai upaya meningkatkan pemanfaatan gas bumi nasional.

General Manager PGN Sales Operation Region (SOR) III, Edi Armawiria mengatakan dalam waktu dekat, proyek Jambaran Tiung Biru (JTB) memungkinkan Jawa Timur memiliki surplus gas.

"PGN sebagai Subholding Gas Pertamina bersiap meutilisasi potensi cadangan tersebut dengan integrasi infrastruktur gas bumi sehingga bisa meningkatkan akses energi bagi seluruh masyarakat," katanya di Jakarta, Kamis (1/9).

Menurut dia, integrasi infrastruktur gas bumi PGN itu dilakukan pada infrastruktur pipa dan non-pipa.

"Di Jawa, pipa gas sudah membentang di Jawa bagian barat dan Jawa Timur. Saat ini sedang berproses untuk menyambungkan Jawa Tengah dengan Jawa Barat melalui pipa Semarang-Cirebon. Ada beberapa inisiatif yang sedang dikembangkan Subholding Gas dengan badan usaha lainnya baik infrastruktur pipa maupun nonpipa," ujarnya saat paparan di Gas Expo 2022, Surabaya, Jatim, Senin (29/8).

PGN SOR III melayani pemanfaatan gas bumi di wilayah Jateng dan Jatim dengan infrastruktur pipa transmisi sepanjang 961 km dan distribusi 2.947 km. Sementara infrastruktur nonpipa untuk utilisasi CNG dan LNG.

Pengembangan infrastruktur nonpipa untuk mempercepat pemanfaatan gas bumi terutama segmen retail seperti hotel, restoran, dan kafe.

Sejumlah SPBG juga dioperasikan untuk menyediakan bahan bakar gas yang lebih hemat dan ramah lingkungan bagi transportasi.

Percepat Pengembangan Gas Rumah Tangga

PGN juga tengah mempercepat pengembangan jaringan gas rumah tangga dengan investasi mandiri, yang diharapkan memenuhi kebutuhan masyarakat dengan harga lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar nonsubsidi.

Di Jateng dan Jatim, PGN memiliki pelanggan rumah tangga sebanyak 149.115 sambungan rumah (SR).

"Pada prinsipnya, PGN siap menyalurkan gas bumi serta mengembangkan infrastrukturnya untuk memberi nilai tambah bagi kawasan industri di Jateng dan Jatim. Pasokan gas bumi juga mencukupi dalam jangka panjang, di antaranya dari pemasok di Selat Madura dan JTB," lanjut Edi.

Pada acara yang sama, Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman menyampaikan dengan penemuan cadangan baru, para pemangku kepentingan diharapkan bisa memiliki persepsi yang sama untuk memanfaatkan gas secara optimal. Termasuk mengembangkan industri berbahan baku gas di Jatim dan Jateng.

Menurut Fatar, diperlukan sinergi untuk mendapatkan solusi bersama terkait akses produksi gas dan mencapai target penyerapan gas. "Harus dipikirkan juga bagaimana bisa meningkatkan pemanfaatan gas bumi di Jatim dan Jateng agar nilai tambah lebih besar dan mampu memberikan dampak positif berganda bagi tumbuhnya industri penunjang di kedua provinsi tersebut," ujarnya.

Kata BPH Migas

Sedangkan, Komite BPH Migas Wahyudi Anas menambahkan Jatim dan Jateng sudah terpasang pipa transmisi gas bumi dengan kapasitas besar, sehingga memudahkan pengembangan jaringan distribusi yang terintegrasi dan terstruktur untuk menarik investor baru.

Dalam upaya optimasi pemanfaatan gas, PGN tengah menggarap proyek regasifikasi kilang Pertamina Group yakni di GRR Tuban yang terletak 55 km dari pipa Gresik-Semarang. Volume kebutuhan gas mencapai 227 BBTUD pada 2027 dan meningkat menjadi 351 BBTUD periode 2028-2046.

Edi juga mengatakan jaringan infrastruktur PGN terintegrasi dari hulu hingga hilir yang menghubungkan pasokan dengan pelanggan.

Seluruh infrastruktur tersebut memiliki reliability yang baik. Sinergi dan kolaborasi di lingkup Pertamina Group juga digiatkan sebagai strategi jangka panjang Subholding Gas dalam memperkuat pasokan gas.

Hingga saat ini, PGN telah beroperasi di 17 provinsi yang meliputi 67 kabupaten/kota, dan akan terus membuka wilayah baru. Berbagai segmen pelanggan yang menikmati gas bumi mulai dari rumah tangga, SPBG, usaha skala kecil, komersial, industri, dan pembangkit listrik. [idr]