Subsidi Bunga Ringankan Beban Konsumen Membayar Cicilan KPR

1 / 1

Subsidi Bunga Ringankan Beban Konsumen Membayar Cicilan KPR

 RumahCom – Agenda pemerintah memberikan subsidi bunga untuk kredit konsumsi, termasuk untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dinilai sebagai langkah mitigasi untuk mempertahankan kesanggupan konsumen dalam membayar cicilan KPR di tengah pandemi covid-19.

“Ini bisa diartikan sebagai langkah pengamanan supaya para konsumen properti tetap bisa membayar cicilan KPR yang telah dibiayai perbankan dan tidak menjadi kredit macet,” kata Wakil Ketua Umum DPP REI, Bambang Eka Jaya.

Direktur Eksekutif Indonesia Properti Watch (IPW), Ali Tranghanda juga mengapresiasi kebijakan mitigasi tersebut. Dirinya meyakini kebijakan itu bisa meningkatkan daya tarik pasar properti meskipun saat ini masih banyak yang belum fokus untuk membeli properti. “Dampaknya memang belum bisa dipastikan. Tapi, saya yakin kalangan menengah ke atas masih punya daya beli,” ujarnya.

Corporate Secretary Bank Mandiri, Rully Setiawan pun menyampaikan pendapatnya dari sisi perbankan yang masih memilih wait and see terlebih dahulu atas masukan beleid kebijakan itu. Pihaknya, katanya, masih perlu mempelajari terlebih dahulu kebijakan terbaru ini dan menyiapkan ketentuan internal sebagai aturan pelaksana kebijakan tersebut. “Yang pasti, kami sebagai bank milik pemerintah tentu akan mendukung penuh kebijakan OJK sebagai regulator,” tutur Rully.

Sebagai informasi, saat ini, pemerintah sedang membentuk beleid berkaitan subsidi bunga untuk kredit konsumsi. Adapun menurut Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Anto Prabowo, nantinya target penerima subsidi bunga KPR dari pemerintah adalah tipe rumah 21 meter persegi, 22 meter persegi, sampai 70 meter persegi.

Subsidi ini akan diberi selama enam bulan, mulai dari bulan April sampai September 2020 dalam dua tahap untuk dua golongan. Pertama, bagi nilai kredit di bawah Rp500 juta akan diberikan subsidi bunga enam persen untuk tiga bulan pertama serta tiga persen untuk tiga bulan selanjutnya. Kedua, untuk nilai kredit di atas Rp500 juta sampai Rp10 miliar akan menerima subsidi tiga persen untuk tiga bulan pertama dan dua persen untuk tiga bulan selanjutnya.

Kebijakan stimulus

Wakil Ketua Umum DPP REI, Bambang Eka Jaya juga memaparkan kebijakan positif dari sisi mitigasi yang sejauh ini telah banyak dikeluarkan oleh pemerintah. Berikutnya yang ditunggu para pengembang adalah kebijakan yang bersifat stimulus.

Hal itu dinilai perlu untuk membuat situasi pasar yang kondusif dengan kemudahan-kemudahan dari pemerintah. Tujuannya agar sesudah covid-19 ini teratasi, masyarakat berkeinginan untuk membeli properti, baik properti baru ataupun properti sekunder.

Bambang pun mencontohkan, pilihan yang bisa diambil pemerintah antara lain dengan memberikan relaksasi bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) selama jangka waktu tertentu, misalnya dalam satu tahun. Sedangkan, untuk pasar sekunder, pemerintah bisa menjalankan relaksasi PPh dan BPHTB. “Relaksasi ini nantinya langsung ke masyarakat, dan ini murni insentif. Artinya, baru berlaku kebijakan tersebut ketika ada penjualan. Dengan demikian, itu akan seketika merangsang pasar,” ungkap Bambang.

Bambang pun yakin efek bawaan dari kebijakan itu akan memberikan dorongan bagi pasar baru dan properti baru yang ujungnya menciptakan lapangan kerja baru.

Sumber: Medcom

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah.