Subsidi Energi Diperkirakan Membengkak Seiring Kenaikan Harga Minyak Dunia

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyebut ada kemungkinan subsidi energi akan membengkak, menyusul asumsi harga minyak dunia yang terus naik. Kondisi geopolitik global imbas perang Rusia-Ukraina turut berperan dalam kenaikan harga energi ini.

Untuk itu, pemerintah masih mengkaji berbagai skenario. Salah satunya dengan merevisi Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014. Di sini akan diatur penyaluran BBM Subsidi jenis Solar dan BBM Penugasan jenis Pertalite. Termasuk, acuan harga minyak mentah dalam negeri atau Indonesia Crude Price (ICP).

"Nanti kan kita harus lihat fluktuasi dari harga minyak dunia, karena kan masih fluktuasi yang tertinggi pernah USD 117 (per barel) tapi kemarin sudah turun sedikit di atas USD 100 (per barel)," kata dia kepada wartawan di Jakarta Convention Center, Rabu (27/7).

Dia pun menyiapkan beberapa skenario terkait harga minyak dunia, mulai dari skema terburuk, skema terbaik, dan skema normal. Paling tinggi, dia mengasumsikan harga minyak dunia mencapai USD 200 per barel. Dengan begitu, angka subsidi yang akan ditanggung pemerintah juga akan meningkat.

"Kita lihat ada 2 skenario, ada worst case sama good case, sama normal. Ini kita kan (berada di angka) USD 100 (per barel), tapi kalau worst case hitungannya bisa jadi USD 200 per barel, kalau (harganya) USD 200 itu dikalikan 2 saja," terangnya.

"Nah ini yang harus bisa kita antisipasi untuk itu kita memang harus tepat sasaran," imbuhnya.

Untuk diketahui, subsidi sektor energi yang digelontorkan pemerintah saat ini sekitar Rp 502 triliun. Angka ini didominasi oleh subsidi ke bahan bakar minyak.

Reporter: Arief Rahman H.

Sumber: Liputan6.com [azz]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel