Subsitusi Impor Ditargetkan Bisa Tembus Rp 152 Triliun di 2022

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, meluncurkan program substitusi impor 35 persen pada 2022. Targetnya, nilai subtitusi bisa mencapai Rp 152,83 triliun atau 35 persen dari potensi impor 2019 senilai Rp 434 triliun.

"Langkah-langkah yang akan kami lakukan adalah penurunan impor melalui substitusi impor dan peningkatan utilisasi sektor industri,” ujarnya dalam rapat bersama DPR, Jakarta, Selasa (9/2/2021).

Langkah-langkah untuk mengakselerasi program substitusi impor dan mendorong akselerasi pertumbuhan industri pada 2021, akan diimplementasikan ke dalam empat program utama.

“Yaitu, program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), kebijakan harga gas, program hilirisasi mineral, serta program Bangga Buatan Indonesia,” jelas dia.

Implementasi program P3DN akan dapat memberikan kesempatan kepada industri-industri di Indonesia untuk tumbuh.

Potensi dari APBN mencapai Rp 607 triliun, yang terdiri atas Belanja Barang senilai Rp 357,4 triliun dan Belanja Modal Rp 250,3 triliun.

"Sejak Timnas P3DN diluncurkan pada tahun 2018, Kemenperin telah mengeluarkan sertifikat TKDN untuk lebih dari 10.000 produk. Tentunya ke depan kami akan akselerasi lagi,” ujarnya.

Terkait kebijakan harga gas, pada 2020 terdapat 176 perusahaan dari tujuh sektor yang telah mendapat fasilitas tersebut.

“Dengan adanya fasilitasi ini, beberapa perusahaan mulai merencanakan untuk memperbarui teknologi agar dapat memanfaatkan gas bumi dengan lebih efisien,” tuturnya.

Selain itu, Agus mengemukakan bahwa penerapan harga gas di Jawa bagian Barat telah ter-cover 100 persen. Sedangkan Jawa bagian Timur telah mencapai 82 persen, serta wilayah Sumatera sekitar 20-30 persen.

“Kami menargetkan agar semua sektor penerima kebijakan penurunan harga gas ini dapat bertambah dan coveragenya makin meningkat,” katanya.

Hilirisasi Industri

Aktivitas bongkar muat kontainer di dermaga ekspor impor Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Aktivitas bongkar muat kontainer di dermaga ekspor impor Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sementara itu, upaya hilirisasi industri juga ditempuh lewat pengembangan industri smelter, antara lain meliputi pemurnian nikel, nikel kobalt, alumunium, tembaga dan besi baja.

Saat ini secara total RI punya 30 smelter yang beroperasi, sedangkan yang tahap konstruksi 20 smelter dan dalam tahap feasibility study sebanyak 9 smelter.

Kemenperin bertekad mendorong penguatan hilirasi industri pertambangan dan memperkokoh struktur industri dalam negeri.

“Implikasi dari kebijakan ini, industri logam dasar pada 2020 tumbuh 5,87 persen, kemudian ekspornya pun tumbuh 30 persen, bahkan menyumbang devisa negara hingga USD22 miliar,” tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com