Sucinya Kehidupan dan Kematian di Sungai Gangga

TEMPO.CO, Jakarta - Berbeda dengan keadaan di jalanan kota yang semrawut dan ribet, daerah Sungai Gangga sangat sepi dan damai. Layaknya Mekah di Arab Saudi, Sungai Gangga yang terdapat di Kota Varanasi atau Banares menjadi kota paling terkenal di India sebagai tujuan wisata agama Hindu.

Mengutip buku Rp 3 Jutaan Keliling India dalam 8 Hari yang ditulis Rini Raharjanti, dengan ikon Sungai Gangga, Varanasi dikenal sebagai The Holiest Hindu City. Sungai Gangga dianggap suci bagi pemeluk agama Hindu. Menurut statistik, lebih dari 60 ribu pemeluk agama Hindu setiap tahun datang ke Sungai Gangga untuk melakukan ritual keagamaan di tempat ini.

Yang membuat Sungai Gangga unik adalah terjadinya drama kehidupan dan kematian setiap hari di tempat ini. Di satu sisi sungai, banyak orang bersama-sama melakukan ritual keagamaan dengan mandi di Sungai Gangga. Mandi dengan air suci Sungai Gangga dipercaya dapat menghapus dosa dan memberi berkat kehidupan yang lebih baik.

Di sisi lain, beberapa orang berkumpul untuk melakukan ritual pembakaran mayat. Setelah dibakar, abu dibuang ke Sungai Gangga. Ritual ini dipercaya akan mempermudah proses transmisi roh dari kehidupan nyata ke kehidupan akhirat sehingga akan segera mencapai Nirvana.

Di Sungai Gangga, setiap jasad dibakar di Manikarnika Ghat, atau tempat pembakaran utama. Ghat ini beroperasi selama 24 jam untuk membakar sebanyak 150 sampai 240 jenazah setiap hari. Tidak semua jasad di India dibakar. Ada beberapa pengecualian, yakni jasad holy man, wanita hamil, anak-anak, orang yang menderita cacar air, dan orang yang dipatuk ular kobra.

Jika mereka meninggal dunia, jasad mereka akan dibungkus dengan kain kafan kemudian diikatkan ke batu besar. Jasad bersama batu tadi lalu ditenggelamkan di tengah Sungai Gangga. Tak jarang ditemukan mayat mengambang di Sungai Gangga. Menurut orang di sana, kemungkinan ikatan batu pada mayat di dasar sungai longgar atau bahkan mayat itu terlepas dari batu sehingga mengapung di permukaan sungai.

Ketika menelusuri sungai dengan perahu, biasanya ada anak kecil membawa karangan bunga kecil dengan sebatang lilin yang menyala di atasnya. Mereka menjualnya seharga 20 rupee (Rp 4.000). Bunga dan lilin menyala ini disebut flower candle.

Masing-masing orang mengucapkan harapannya sebelum menghanyutkan karangan bunga ke Sungai Gangga. Ritual ini dipercaya akan membawa karma baik dan merupakan tradisi yang selalu dilakukan orang lokal.

Aktivitas yang dilakukan di Sungai Gangga bukan hanya ritual menyucikan diri, membuang abu pembakaran jenazah, dan menenggelamkan orang mati. Kegiatan sehari-hari seperti mencuci pakaian, mandi, menggosok gigi, hingga membuang limbah juga dilakukan di sungai ini.

Menurut riset, dalam 100 mililiter air dari Sungai Gangga, terkandung bakteri sebanyak 1,5 juta. Padahal, air bersih yang layak dipakai mandi idealnya memiliki kandungan bakteri sebanyak 500 dalam 100 mililiter air.

Yang jelas, Sungai Gangga, sekotor apa pun itu, tetap menjadi salah satu sumber mata air bagi kehidupan orang-orang yang hidup di sekitarnya dan akan tetap dianggap suci oleh pemeluk agama Hindu.

RINI K

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.