Sudah Amankah Pesan Liburan ke Luar Negeri Tahun Depan?

Renne R.A Kawilarang, ABC Indonesia
·Bacaan 3 menit

Warga di Australia sepertinya sudah membayangkan pantai-pantai tropis di Bali atau warga Indonesia di Australia yang ingin pulang menengok keluarganya di Indonesia.

Pasalnya, pembatasan sosial terkait COVID-19 di Australia terus dilonggarkan dan kehidupan pun berangsur-angsur pulih kembali seperti sediakala.

Apalagi saat ini banyak penawaran paket akomodasi yang fleksibel atau tur wisata dengan potongan harga yang lumayan.

Namun dengan perbatasan internasional secara umum masih tertutup, seberapa amankah untuk memesan tiket dan akomodasi liburan saat ini?

"Semuanya belum bisa dipastikan," kata Ute Junker, seorang penulis tentang traveling dan liburan.

A map laid out across a table with a camera.
A map laid out across a table with a camera.

Seiring dengan semakin dilonggarkannya pembatasan terkait COVID-19, kini banyak warga Australia mulai mempertimbangkan untuk berlibur keluar negeri. (Unsplash: Annie Spratt)

"Apakah kita sudah bisa keluar negeri? Apakah kita sudah bisa masuk ke negara tujuan? Apakah penerbangan yang sudah dipesan benar-benar bisa berangkat pada waktunya?" kata Ute.

Ia menambahkan saat ini urusan liburan keluar negeri masih sangat berubah-ubah.

"Syarat dan ketentuan sangat bervariasi"

Meskipun paket liburan domestik di dalam Australia kini sudah semakin marak, namun Ute melihat tawaran paket berlibur ke berbagai negara juga terus muncul.

Mereka umumnya menawarkan paket yang berlaku hingga satu atau dua tahun ke depan, ditambah dengan adanya peluang untuk melakukan perubahan jadwal.

Meskipun demikian, pakar hukum dari Griffith University Profesor Leanne Wiseman memperingatkan konsumen untuk tetap memperhatikan syarat dan ketentuan dari penawaran tersebut.

"Apakah kita akan mendapatkan pengembalian uang atau kredit secara penuh, atau apakah uang muka tak bisa dikembalikan," katanya.

Ia menjelaskan penawaran paket-paket liburan memiliki syarat dan ketentuan yang sangat bervariasi, sehingga perlu diperhatikan apakah konsumen bisa mendapatkan kembali uangnya bila tidak jadi berangkat.

Hal serupa disampaikan oleh Jodi Bird, seorang pakar perjalanan, yang mengatakan perlunya mempertimbangkan fleksibilitas untuk mengubah tanggal bila terjadi larangan bepergian.

Masa kadaluarsa dari paket liburan, katanya, juga harus diperhatikan secara teliti.

With international borders still closed, how safe is it to book ahead?
With international borders still closed, how safe is it to book ahead?

Karena perbatasan internasional umumnya masih ditutup, seberapa amankah untuk menjadwalkan liburan saat ini? (Unsplash: Federico Gutierrez)

"Jadi jika paketnya berlaku selama satu tahun, Anda harus mempertimbangkan liburannya dalam satu tahun versus dua tahun," jelasnya.

"Satu tahun pada tahap sekarang terlihat agak optimistis. Apa yang terjadi pada akhir satu tahun itu? Apakah Anda mendapatkan pengembalian uang, atau paketnya kedaluwarsa begitu saja tanpa pengembalian uang?" kata Jodi.

Perlukah asuransi perjalanan?

Pandemi virus corona kini dianggap sebagai "peristiwa yang telah diketahui".

Akibatnya, pihak asuransi mungkin tak akan menanggung biaya medis atau pembatalan paket liburan yang berkaitan dengan pandemi ini.

"Saya belum mengetahui apakah ada asuransi perjalanan yang akan menanggung risiko terkait virus corona atau bila terjadi larangan perjalanan akibat virus corona," jata Jodi.

Menurut Ute, pelancong yang mengambil risiko bepergian tanpa asuransi perjalanan kini harus berpikir dua kali.

Selain besarnya tagihan medis, pandemi virus corona juga menambah kerumitan bagi pelancong yang terlantar.

"Risiko tertular virus corona di satu sisi merupakan hal yang paling sederhana," katanya.

Yang menjadi persoalan, katanya, yaitu kerumitan akibat terlantar di suatu negara karena pembatalan penerbangan, atau berakhir di negara yang tiba-tiba menutup perbatasannya.

A man in hazmat gear sprays disinfectant on the cabin of a plane
A man in hazmat gear sprays disinfectant on the cabin of a plane

Organisasi International Air Transport Association menyatakan larangan bepergian tidak sepenuhnya menghentikan penyebaran virus corona. (Reuters: Kham)

Ute mencontohkan situasi apabila ditemukan adanya kasus COVID di suat bandara besar, maka seluruh rencana liburan pasti akan terganggu.

Ke mana sebaiknya warga Australia berlibur?

Setelah mempertimbangkan segala syarat dan ketentuan serta memahami risiko tawaran paket-paket liburan, lantas kemana sebaiknya warga Australia berlibur saat ini?

Menurut Ute, tempat-tempat seperti New York dan London yang secara tradisional sangat populer di kalangan wisatawan Australia, saat ini berada di luar pertimbangan.

Ia menyarankan agar pelancong melakukan sedikit riset dan melihat negara mana saja yang sudah memungkinkan untuk dikunjungi.

Ute memperingatkan saat ini belum bisa dianggap aman untuk melakukan perjalanan internasional. Namun dia mencontohkan negara seperti Selandia Baru merupakan pilihan yang realistis.

"Kita semua mengetahui Selandia Baru, Pasifik Selatan, dan sebagian negara Asia merupakan tujuan yang akan dibuka lebih awal untuk warga Australia daripada Amerika Utara," katanya.

"Kita semua punya negara tujuan untuk liburan, dan mungkin ini saatnya mengatur kembali semua itu," ujar Ute Junker.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News