Sudah Banyak Dimiliki, Kemenkes Sebut Pengisian Buku KIA Belum Optimal

·Bacaan 4 menit

VIVA – Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan alat pencatatan Kesehatan ibu dan anak di tingkat keluarga. Selain sebagai media pencatatan, buku KIA juga digunakan sebagai media Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) bagi ibu hamil & balita untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara rutin.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan 75,2% ibu hamil dan 65,9% balita (0-59 bulan) memiliki Buku KIA. Walaupun kepemilikan Buku KIA cukup tinggi, namun tantangan lain harus dihadapkan dalam penggunaan Buku KIA yakni pengisiannya masih belum optimal.

“Kami melihat ternyata pemanfaatan Buku KIA di masyarakat hingga saat ini masih belum sesuai harapan. Persoalan lain, pandemi membuat akses terhadap layanan kesehatan seperti di puskesmas atau klinik, rumah bersalin, klinik kesehatan keliling, dan pusat pengobatan tradisional kurang memadai. Untuk itulah, kami melakukan kerja sama dengan berbagai pihak agar edukasi pemanfaatan Buku KIA sesuai sasaran, sehingga orang tua dapat memantau perkembangan anak balita dengan baik,” kata Plt Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Drg. Kartini Rustandi, M. Kes, dalam acara Pentingnya Buku KIA untuk Orangtua Pantau Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak, Kamis 29 Juli 2021.

Lebih lanjut, Kartini menjelaskan, penting untuk orang tua memanfaatkan Buku KIA untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak yang mencakup pertumbuhan panjang badan, pertumbuhan otak hingga perkembangan anggota gerak anak.

“Di masa pandemi pelayanan gizi dan kesehatan lebih diprioritaskan kepada kelompok balita dan ibu hamil serta menyusui yang berisiko. Pada sasaran berisiko, dilakukan dengan janji temu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Pemantauan pertumbuhan di posyandu menyesuaikan dengan kebijakan setempat. Jika posyandu tidak buka, orangtua dianjurkan untuk melakukan pemantauan secara mandiri dengan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA),” tambah Kartini.

Seperti yang kita ketahui, situasi Indonesia belum sepenuhnya lepas dari masalah kekurangan gizi anak, khususnya yang berusia di bawah lima tahun (balita). Tercermin dari prevalensi stunting (pendek) masih sebesar 27,7% sampai 2019, meskipun telah turun dari 30,8% pada tahun sebelumnya.

Angka tersebut mengindikasikan masih ada 3 dari 10 anak balita menderita stunting. Jauh dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni maksimal 20% dari jumlah total anak balita dalam satu negara.

Untuk menekan angka balita stunting sebesar 14 persen pada 2024 sesuai yang diamanatkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, intervensi percepatan penurunan stunting yang terintegrasi harus terus dioptimalkan.

“Di masa pandemi pelayanan gizi dan kesehatan lebih diprioritaskan kepada kelompok balita dan ibu hamil serta menyusui yang berisiko. Pada sasaran berisiko, dilakukan dengan janji temu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Pemantauan pertumbuhan di posyandu menyesuaikan dengan kebijakan setempat. Jika posyandu tidak buka, orangtua dianjurkan untuk melakukan pemantauan secara mandiri dengan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA),” tambah Kartini.

Seperti yang kita ketahui, situasi Indonesia belum sepenuhnya lepas dari masalah kekurangan gizi anak, khususnya yang berusia di bawah lima tahun (balita).

Tercermin dari prevalensi stunting (pendek) masih sebesar 27,7% sampai 2019, meskipun telah turun dari 30,8% pada tahun sebelumnya. Angka tersebut mengindikasikan masih ada 3 dari 10 anak balita menderita stunting.

Jauh dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni maksimal 20% dari jumlah total anak balita dalam satu negara. Untuk menekan angka balita stunting sebesar 14 persen pada 2024 sesuai yang diamanatkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, intervensi percepatan penurunan stunting yang terintegrasi harus terus dioptimalkan.

Di sisi lain, Koordinator Poksi Kesehatan Balita dan Anak Usia Prasekolah dr. Ni Made Diah, P.L.D., MKM mengatakan, agar kapasitas keluarga dalam memonitor perkembangan kesehatan ibu dan anak secara mandiri dapat berlangsung optimal, perlu penguatan edukasi untuk mendukung pemanfaatan Buku KIA terutama dalam kelengkapan pengisiannya oleh orangtua selama masa pandemi agar kesehatan dan tumbuh kembang anak tetap terpantau.

“Setiap informasi tentang kesehatan dan catatan khusus adanya kelainan pada ibu serta anak harus dicatat di dalam Buku KIA. Apabila mengalami kesulitan, orangtua bisa berkonsultasi kepada tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan didahului telekonsultasi sebelum janji temu,” kata Ni Made Diah.

Untuk diketahui, tahun-tahun pertama kehidupan, terutama periode sejak janin dalam kandungan sampai anak berusia 2 tahun merupakan periode yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat pada otak manusia.

Mengingat periode 2 tahun pertama ini merupakan masa yang relatif pendek dan tidak akan terulang kembali, orang tua harus memanfaatkan periode yang singkat ini untuk membentuk anak ke arah yang positif.

Adapun hal tersebut dapat diwujudkan dengan cara memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun.

Selain itu dapat juga dengan pengenalan makanan pendamping ASI yang tepat dan sesuai mulai usia 6 bulan, memberikan stimulasi yang tepat serta memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel