Sudah Bayar Tapi Tetap Nganggur, Kasus Penipuan Naker

Syahdan Nurdin, nurterbit
·Bacaan 2 menit

VIVA - Pagi-pagi Kamis 8 April 2021, sudah dikejutkan oleh berita tindak pidana penipuan di PATROLI Indosiar. Terlapor sebagai tersangka penipuan kasus penerimaan pegawai di Pemkot Bekasi itu, bukan orang biasa.

Siapa dia? Pecinta sepak bola tentu ada yang masih ingat. Dia adalah mantan pemain Timnas Indonesia. Namanya NUR ALIM. Kebetulan kalau namanya sama dengan nama saya. Itu pula yang membuat saya makin terkejut. Etdah...

Kasus Nur Alim adalah bermula dari laporan seorang korban, calon pegawai yang dijanjikan akan diterima bekerja di kantor Pemkot Bekasi, Jawa Barat. Dia mengaku sudah menyetor uang Rp50 juta ke Nur Alim, si "brekele" itu.

Sayangnya, janji tersebut tidak lebih dari hanya PHP, Pemberian Harapan Palsu. Korban tak juga diterima jadi pegawai, sementara uang yang disetor -- entah itu pinjaman dari keluarga, tabungan, atau hasil jual sawah? -- sudah terlanjur melayang ke udara.

Sementara terlapor, Nur Alim, tentu saja tak terima laporan polisi dari korban. Mantan pemain bola ini, mencoba mengelak dan membantah telah melakukan penipuan. Dia bahkan melempar tudingan ke oknum "orang dalam" di Pemkot Bekasi.

Penipuan Pelamar Kerja

Kasus penipuan seperti ini, memang sering terjadi di mana-mana. Di tengah susahnya lapangan kerja, membuka peluang bagi pelaku tindak kriminal untuk mencari korban yang akan ditipunya.

Saya sendiri, sebagai wartawan sekaligus lawyer, beberapa kali mengadvokasi para korban kasus penipuan pelamar kerja. Mereka umumnya wanita, dijanjikan akan bekerja di pabrik setelah menyetor uang 5 - 10 juta. Dibuktikan dengan kuitansi penerimaan uang.

Alhamdulillah, ada yang uangnya dikembalikan 50 persen. Sisanya dicicil. Tapi tidak sedikit korban yang hanya bisa pasrah. Sebab para oknum penipu, belakangan umumnya hanya "calo" penyalur tenaga kerja. Mengaku ada jalinan kerja sama dengan "orang dalam".

Karena posisi pelaku rata-rata hanya perantara, pialang, tentu saja mereka tak punya kantor resmi dengan alamat tetap. Ibaratnya, "marketing gallery"-nya hanya dari mulut ke mulut. Sesama calon korban penipuan saja.

Konyolnya, setiap kali dilakukan pertemuan dengan calon korban, berlangsung di depan kantor, pabrik, atau perusahaan yang konon bakal menerima mereka. Misalnya, saat setor uang administrasi dan lain-lain.

"Ini yang membuat kami para korban yakin kalau mimpi jadi karyawan sebentar lagi terwujud," kata Dila, satu korban. Jika pun belum diterima di kesempatan pertama, sambung Aini, korban lainnya, "kami dijanjikan akan disalurkan ke perusahaan lain".

Begitulah nasib pencari kerja kita. Di saat sulitnya lapangan kerja, ada saja oknum yang mencari celah untuk mengeruk keuntungan. Tugas pemerintah dan polisilah yang berkewajiban mengurai benang kusut "mafia" tenaga kerja ini (Nur Terbit).