Sudah Berbulan-bulan Petani Australia Berjuang Lawan Wabah Tikus

·Bacaan 3 menit

Di Australia tengah muncul perdebatan tentang cara paling ampuh untuk mengatasi masalah hama tikus di bagian timur negara itu. Racun? Pemerintah tidak menyarankannya. Ular? Itu bisa menimbulkan masalah lain. Jadi apa? Steve Evans dari The Canberra Times mencari tahu jawabannya.

Seorang teman saya masih mengingat wabah tikus yang lalu.

Ratusan tikus menyerbu rumahnya di Dubbo, New South Wales. Mereka ada di mana-mana, datang dari bawah pintu, berlarian di loteng, meninggalkan bau busuk yang menjijikkan, antara lain dengan mati di rongga yang tak terjangkau.

Solusi yang terpikir olehnya ialah jebakan brutal yang terbuat dari kertas dan lem. Tikus akan menempel pada kertas dan kemudian dia menenggelamkannya dalam ember. Dia masih ingat kengerian teriakan tikus-tikus itu.

Dalam wabah kali ini, berbagai metode cerdik lainnya telah dicoba.

Banyak toko peralatan kehabisan perangkap tikus komersial, jadi orang-orang berimprovisasi. Seorang warga, misalnya, mengisi ember dengan air dan mengolesi pinggirannya dengan minyak sayur, kemudian meletakkan umpan berupa selai kacang di air. Tikus-tikus yang tak bisa menolak selai kacang tergelincir di tepi ember dan jatuh ke dalam air.

Perangkap tikus
Beberapa petani membuat perangkap untuk menenggelamkan tikus dalam jumlah besar.

Orang-orang pun saling berbagi rekomendasi.

"Gipsum dicampur tepung akan membunuh tikus pada akhirnya, tetapi saya lebih suka melihat tikus-tikus mati di depan saya sehingga saya dapat membuang bangkainya," kata Sue Hodge, seorang petugas kebersihan di kota kecil Canowindra.

Sue lebih suka menggunakan perangkap, meskipun itu tidak sempurna. Dia tahu bahwa beberapa tikus yang disebutnya "berkaki ringan" masih bisa menjilati umpannya dan lolos hidup-hidup.

Beberapa petani mengubah seluruh kontainer pengiriman menjadi perangkap. Triknya adalah memancing tikus dalam jumlah besar di salah satu ujungnya dan menyalurkannya ke umpan dan menenggelamkannya di tangki di ujung yang lain.

Namun itu sulit dan tidak memadai untuk jumlah tikus yang ada, jadi petani-petani lain lebih memilih racun skala industri.

Pemerintah New South Wales sempat mengalokasikan A$50 juta (sekitar Rp540 miliar) dalam bentuk hibah untuk membeli bromadiolone, bahan kimia yang disebut-sebut sebagai "napalm untuk tikus".

Pesawat menyemprotkan racun tikus di atas ladang
Racun menjadi salah satu metode yang digunakan di lapangan, namun ada kekhawatiran kalau ia membawa lebih banyak mudarat daripada manfaat.

Masalahnya adalah ia juga meracuni hal-hal lain dan merusak lingkungan.

Bahan kimia itu dapat membunuh tikus dalam 24 jam namun tetap aktif selama berbulan-bulan, dan masuk ke rantai makanan ketika predator memakan mangsa yang keracunan. Karena itu sekarang Otoritas Pestisida dan Kedokteran Hewan Australia melarang penggunaannya di beberapa tempat.

Solusi lainnya telah ditawarkan. Dr Gavin Smith dari Australian National University menyarankan penggunaan ular sebagai predator alami tikus.

Masalah dengan pandangan holistik ini adalah bahwa mereka SUDAH melakukannya — berbagai laporan mengatakan bahwa ular-ular jauh lebih gemuk tahun ini karena melimpahnya populasi tikus. Dan tikus-tikus masih berkembang biak.

Tikus beranak-pinak dengan pesat di Australia baru-baru ini karena akhir musim kering dan derasnya hujan telah menghasilkan banyak tanaman pangan yang menjadi makanan tikus.

Tetapi ada faktor lain — sedikit dampak negatif dari kemajuan pertanian.

Pemanfaatan lahan menjadi semakin intensif akhir-akhir ini karena metode pertanian telah berkembang. Mesin penabur benih sekarang sangat akurat sehingga dapat menanam benih secara presisi - hanya beberapa milimeter di antara tangkai tanaman yang sudah tua - sehingga tanaman dari musim sebelumnya tidak perlu dibersihkan.

Tanaman pangan yang lebat ini sangat cocok untuk tikus — dan untuk ular. Kemajuan ada harganya.

Mengapa bisa ada wabah tikus?

  • Dimulai pada musim semi 2020 saat musim panen

  • Kondisi cuaca yang ideal untuk kembang biak tikus dan panen yang melimpah menyusul kebakaran hutan besar-besaran dan kekeringan selama bertahun-tahun

  • Tikus berkembang biak dengan makanan yang melimpah karena berkurangnya populasi predator

  • Serangan hama dilaporkan di sekolah, rumah sakit, supermarket dan rumah keluarga

  • Petani disusahkan oleh biaya pengendalian hama dan perusakan tanaman mereka

  • Banyak mesin pertanian juga rusak karena digerogoti tikus

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel