Sudah Divaksin COVID-19, Tapi Kenapa Masih Bisa Tertular?

·Bacaan 7 menit

Masih tidak yakin soal virus corona dan vaksin? Anda tidak sendiri dan ini tidak hanya terjadi di Indonesia.

Informasi soal COVID dan vaksin seringkali membingungkan karena terlalu banyaknya penjelasan dari mereka yang bukan pakar kesehatan atau ilmuwan.

Bahkan beberapa di antaranya adalah hoaks yang bisa mengancam kesehatan kita sendiri.

Di tengah kesibukan menangani pasien di rumah sakit, banyak dokter yang akhirnya ikut berusaha memberikan informasi yang benar soal COVID di akun jejaring sosialnya demi melawan hoaks.

Salah satunya adalah dr Kurniawan Satria Denta, M.SC, Sp.A, yang mendapat banyak pertanyaan dari 'follower'-nya di akun Twitter @sdenta, terutama soal vaksin.

Ia mencoba menjawabnya dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti, lengkap dengan gambar, foto atau 'meme'.

Bersama dengan dr Denta, kami mencoba membahas pertanyaan yang paling sering muncul.

Sebagai latar belakang, dr Denta pernah meneliti di GSK Indonesia dan terlibat proyek pembuatan vaksin selama tujuh tahun sebelum menjadi dokter anak di RSUP Sardjito Yogyakarta.

Kenapa dua kali vaksin masih bisa ketularan?

Ada tiga faktor yang menyebabkan seseorang bisa tertular virus: yaitu faktor manusia, disebut 'host' atau inang, faktor agen atau virusnya itu sendiri, dan faktor lingkungan.

Menurut dr Denta, penularan terjadi kalau ketiga faktor ini tidak seimbang, sehingga kita harus "kuat-kuatan strategi".

"Kita harus bisa lebih unggul daripada si virus ... tapi yang namanya unggul itu [juga termasuk] faktor manusianya dan dibarengi faktor lingkungan," katanya.

"Vaksin itu sederhananya memproduksi antibodi terhadap COVID, tapi kalau cuma berpatokan pada itu saja, tanpa memperhatikan faktor-faktor lainnya, akhirnya muncul kemungkinan tertular."

Untuk lebih mudah memahaminya bayangkan seperti kita sedang berperang.

"Kita sudah menyiapkan pasukan khusus yang antibodi-nya sudah kita latih, tapi bukan berarti kita bebas membongkar pagar benteng padahal tahu di sekitar masih banyak musuhnya," kata dr Denta.

"Kalau kita tiba-tiba bongkar bentengnya, percuma saja, musuhnya terus-terusan menyerang kita, dan collapse [runtuh] juga pasukan khusus kita tadi."

Nah, selanjutnya lihat berapa jumlah musuh yang menyerang tubuh kita.

"Kalau virus yang menyerang kita ada satu, tentunya berbeda dengan kalau jumlah virus yang menyerang satu juta. Kalau satu juta lama-lama kepayahan juga," kata dr Denta.

"Makanya kalau kita lihat, banyak tenaga kesehatan yang jadi korban dari infeksi ini, karena walaupun mereka sudah divaksinasi, gempuran dari COVID-19 itu banyak banget … mungkin paparan terhadap COVID ada dua atau tiga juta, misalnya."

Dokter Denta mengatakan kita harus terus menjaga keseimbangan tiga faktor sampai benar-benar bisa mengendalikan virusnya.

"Kalau di Indonesia, karena virusnya masih banyak, ada di mana-mana dan kita tidak tahu posisinya di mana, akhirnya protokol kesehatannya tetap harus diperkuat dan tetap disiplin."

Jadi ini menjawab kenapa harus tetap ikuti prokes meski sudah divaksinasi.

Perbanyak di rumah kalau bisa, hindari kerumunan atau kegiatan di luar rumah kalau enggak penting-penting banget.

Bisa enggak vaksin yang ada sekarang melawan varian baru?

Saat varian baru dari virus corona bermunculan, banyak yang bertanya "ngapain divaksin? Virusnya berubah terus".

Padahal sebenarnya ilmuwan terus memonitor efektivitas vaksin dalam melawan varian-varian baru virus corona.

Kalau pun Anda meragukan tingkat efikasi vaksin yang ada saat ini, bukan berarti vaksin tersebut tidak akan melindungi tubuh dari varian baru, menurut dr Denta.

Tubuh kita punya kemampuan mengenali virus melalui antigen.

Nah, setiap kali virus ingin masuk ke tubuh, ia bersentuhan dengan sistem imun kita, yang langsung akan mengenali ini musuh atau bukan.

Virus memang bisa bermutasi atau berubah bentuk, tapi kalau antigennya masih sama, tetap bisa dikenali kok.

Untuk memperjelas, bagaimana kalau kita gunakan analogi Mas Adam Suseno, suami dari penyanyi dangdut ternama Inul Daratista.

"Kumis Mas Adam Inul sangat spesifik sekali kan? Jadi kita tahu kita bisa mengenali dia dari kumisnya," kata dr Denta.

"Ketika dia ganti baju pun, selama kumisnya masih ada, kita masih bisa mengenali, 'Oh, ini loh, Mas Adam'," katanya.

Jadi meski virus corona terus bermutasi, bisa jadi lebih kuat atau bahkan jadi lemah, tapi tidak tidak berubah total.

"Jadi katakanlah [virus ini] manusia, mutasinya cuma di jarinya, jarinya berubah bentuk, atau mata, atau alisnya berubah bentuk."

"Tapi selama hidungnya masih ada dan dikenali oleh antibodi kita bahwa itu adalah hidung corona, ya [antigen] akan tetap bisa mengenali," kata dr Denta.

Seperti banyak virus lainnya, virus corona merupakan virus RNA, yang lebih tidak stabil dan lebih rentan untuk bermutasi, jelas dr Denta.

Karenanya, menurut dr Denta ada banyak alasan untuk divaksinasi dengan vaksin yang sudah ada, ketimbang tidak sama sekali.

Ingat: virusnya masih sama!

Takut disuntik AstraZeneca karena kasus pembekuan darah?

Awal Mei lalu, seorang pria asal Jakarta dikabarkan meninggal setelah menerima vaksin AstraZeneca.

Tidak lama setelahnya, dilaporkan juga dua kasus kematian yang dikaitkan dengan vaksin tersebut.

Namun, sudah dapat dipastikan kematian tiga orang tidak ada hubungannya dengan vaksin AstraZeneca, seperti yang dikatakan ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI), Profesor Hindra Irawan Satari, dikutip Kompas (21/06).

dr Denta mengatakan kita tidak seharusnya khawatir, karena prinsip pemberian vaksin adalah untuk menambah perlindungan dan kewaspadaan.

"Proses pemberian vaksin selalu dimonitor, jadi ketika satu kasus terjadi dan misalnya kasusnya cukup serius, yaitu sampai meninggal atau masuk rumah sakit, sudah ada sinyal atau alert ke stakeholder yang memonitor vaksin," katanya.

"Bisa saja keputusan yang mereka ambil adalah untuk withhold [menahan] sementara, atau langsung menarik. Tapi biasanya akan di pause [dihentikan sementara] untuk semua vaksin atau cuma badge tertentu yang kasus tadi terkena."

Mungkin sumber masalahnya bukan vaksin AstraZeneca, tapi berita kematian dikaitkan dengan vaksin terus-terusan diulang, kemudian melekat di pikiran kita.

"Memang tantangan program vaksinasi massal itu seperti ini, jadi begitu ada satu masalah ... dan sampai ke masyarakat, kepercayaan masyarakat akan menurun," katanya.

"Dan walaupun program vaksinasi sudah dimulai lagi setelah ditunda, kepercayaan masyarakat itu tidak bisa naik langsung."

Vaksin COVID ini dibuat terburu-buru ya?

Menurut dr Denta wajar sekali jika ada yang bertanya kenapa vaksin COVID lebih cepat dikembangkan dan dipakai ketimbang vaksin cacar.

Vaksin cacar memang membutuhkan waktu paling tidak 10 tahun untuk dikembangkan.

Pengembangan vaksin COVID-19 memang hanya satu atau dua tahun, tapi dr Denta mengatakan “teknologi yang dipakai sudah dikembangkan selama 15-20 tahun terakhir”.

"Vaksin COVID-19 itu sebenarnya memakai teknologi yang sudah ada untuk memotong waktu penelitian dan pengembangan yang cukup panjang atau cukup signifikan," katanya.

"Jadi misalnya, teknologi vaksin mRNA, dengan viral vector, itu sudah ada sebelumnya. Peneliti tinggal mencocokkan, kira-kira karakteristik virusnya corona sesuai atau tidak dengan teknologi vaksin yang mau kita pakai. Kalau cocok, ya digunakan."

Kesimpulannya, pembuatan vaksin corona sebenarnya “tidak terburu-buru”.

"Makanya tanggal kadaluarsanya mepet ... ini sebenarnya bukan vaksin yang benar-benar baru," kata dr Denta.

Enggak mau pakai Sinovac, memang yang lain lebih baik?

Topik efikasi adalah salah satu yang paling rumit dibahas, makanya sering pula disalahpahami karena sifatnya sangat teknis, menurut dr Denta.

Namun, ketika membaca angka efikasi sebuah vaksin, kita perlu mengetahui hal apa yang dicegah vaksin dengan persentase efikasi tertentu itu.

Di Indonesia, vaksin Sinovac memiliki efikasi sebesar 65,3 persen, jauh lebih tinggi dibanding di Brazil yang sebesar 50,4 persen.

Di Amerika Serikat dan Eropa, efikasi Pfizer mencapai angka 95 persen untuk mencegah penularan virus corona, tapi ini hanya bagi orang-orang yang belum pernah tertular sebelumnya.

Dalam laporan yang sama, AstraZeneca 76 persen efektif dalam mengurangi risiko penyakit bergejala setelah kedua dosis diberikan, dan nilainya 100 persen efektif menangkal penyakit parah.

Nilai efikasi vaksin Sinovac di Indonesia saat ini menunjukkan jumlah penurunan kasus penyakit pada kelompok yang divaksinasi dibandingkan yang tidak divaksinasi atau plasebo, menurut Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof DR Zullies Ikawati dalam laporan CNN Indonesia awal tahun lalu.

Hal yang sama pun dipahami oleh dr Denta.

"Jadi tidak bisa dibandingkan satu-satu angkanya … karena saat melakukan uji coba vaksin, ketika menyebutkan [vaksin Sinovac] 50 persen lebih efektif, itu 50 persen lebih efektif dibandingkan plasebo atau dibandingkan grup yang tidak diberi vaksin," kata dr Denta.

"Jadi bukan 50 persen lebih unggul daripada vaksin lain."

Artikel ini hanya informasi secara umum. Jika Anda membutuhkan saran medis lebih lanjut sebelum vaksin, silakan bertanya kepada dokter.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel