Sudah Jumpa Banyak Ketum Parpol, Kapan Airlangga Bertemu Megawati ?

·Bacaan 2 menit
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto memberikan sambutan serta pidato politik dalam acara HUT Partai Golkar di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Sabtu (23/10/2021). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto telah menggelar safari politik dengan menggelar pertemuan dengan para ketua umum partai politik. Namun, hingga saat ini Airlangga belum ada pertemuan khusus dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Ketua Bidang Penghubung Antar Lembaga Politik DPP Partai Golkar, Firman Subagyo mengatakan menyerahkan sepenuhnya hal itu pada Airlangga sebagai Ketua Umum Golkar.

"Saya belum tahu tentang agenda itu karena nanti tentunya ketua umum yang akan menentukan," ujar Firman Subagyo, Kamis (28/10/2021).

Menurut Firman, partainya saat ini fokus pada konsolidasi ditingkat arus bawah yaitu di tingkat kepengurusan partai Provinsi, Kota dan Kabupaten.

"Untuk mendorong agar Pak Ketua Umum ini tentunya harapan kami terus meningkat yang namanya popularitas dan elektabilitasnya. Namun untuk mengadakan pertemuan (dengan Megawati) adalah keputusan ketua umum," ujarnya.

Mengenai kemungkinan koalisi antara Golkar dengan PDIP, Firman mengatakan koalisi untuk pencalonan presiden itu emang sebuah keharusan, karena hampir tidak ada partai politk yang bisa mencalonkan sendiri.

"Ini konsekuensi daripada multi partai. Oleh karena itu, kemungkinan-kemungkinan di dalam politik itu kan bisa saja terjadi," ujarnya.

Namun menurutnya hal itu akan berproses mengikuti dinamika yang berkembang dan mengikuti irama masing-masing partai.

"Kalau dirasa itu merupakan suatu kebutuhan dan merupakan suatu kesepakatan yang bisa dilakukan ya kenapa tidak, kan begitu," imbuhnya.

Jika penjajakan koalisi terjadi, Firman berharap penentuan capres dan cawapres bukan hanya dari partai mana yang lebih besar dari partai lain.

"Tapi tentunya kan masing-masing bukan karena partai besar, kemudian harus jadi Presiden, bukan karena partai nomer dua, harus terus wakil, bukan begitu," ujar Firman.

Perhatikan Elektabulitas dan Popularitas

Penentuan capres dan cawapres menurut Firman harus juga dilihat dari tingkat keterpilihan, popularitas dan elektabilitas para calonnya.

Dia mengakui penentuan hal tersebut nantinya akan menimbulkan permasalahan antar partai yang ingin berkoalisi.

"(solusinya) itu di menit-menit terakhir, itu akan ada keputusan politik," ujarnya.

Firman mengatakan jika memang koalisi dengan PDI-P mengalami kebuntuan, tentu pihaknya terbuka berkoalisi dengan partai lain. Kebutuan itu terjadi ketika ada keinginan melakukan koalisi, tapi keduanya tetap pada pendirian untuk memposisikan calonnya di nomor 1.

"Jika tidak ada titik temu, tentu harus cari alternatif lain. Bisa saja terjadi (Koalisi dengan Nasdem, PKB dll)," pungkasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel