Sudah Saatnya Fintech Kolaborasi dengan Bank

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom Indef, Aviliani mengatakan sulit bagi perusahaan finance technology (fintech) untuk berkembang tanpa bekerja sama dengan perbankan. Sebab, perusahaan fintech biasanya belum memiliki ekosistem yang sama dengan perbankan.

"Saya percaya fintech itu tanpa bekerja sama denga perbankan itu tidak mudah," kata Aviliani dalam diskusi bertajuk Traditional Bank VS Neo Bank, Jakarta, Selasa (17/11/2020).

Dia menuturkan terlihat dari ratusan fintech yang tidak memiliki ekosistem tidak bisa menjadi besar. Sebaliknya, bila mereka bekerja sama dengan perbankan sulit bagi perbankan untuk bisa menutup biaya operasional.

"Kalau mereka enggak punya ekosistem, mereka tidak akan bisa menjadi besar atau mendapatkan fee base untuk menutup biaya operasional," kata dia.

Kehadiran perusahaan fintech terus berkembang lebih cepat dalam 3-4 tahun terakhir. Meski begitu, Aviliani menilai perusahaan fintech tidak akan bisa menggantikan peran perbankan.

Alasannya, perusahaan fintech yang ada saat ini memiliki keterbatasan dalam melakukan transaksi. Sementara perbankan memiliki batas maksimal.

"Jadi sebenarnya fungsi perbankan itu masih sangat signifikan dan terlihat banyak fintech yang berkolaborasi dengan bank," kata dia

Selain itu, perusahaan fintech juga perlu bekerja sama dengan perbankan untuk mendapatkan sumber pendanaan. Sebab mereka tidak bisa mengumpulkan dana dari masyarakat baik berupa tabungan, giro atau lainnya.

Perusahaan fintech memang memiliki banyak nasabah. Tetapi kurang memiliki keyakinan untuk menempatkan dananya.

"Kedua mereka punya member yang bnayak tapi tidak punya keyakinan kalau menyerahkan uang," kata dia.

Sementara pemberian pendanaan memiliki resiko tidak tertagih. Sehingga perusahaan fintech menempatkan dananya ke bank.

"Makanya mereka konsen menempatkan dananya ke bank . Jadi kemana pun kalau dilihat dari fintech itu ujungnya kolaborasi sama bank," kata dia.

Merdeka.com

Fintech Berkembang Pesat Selama Pandemi Covid-19

Ilustrasi fintech. Dok: sbs.ox.ac.uk
Ilustrasi fintech. Dok: sbs.ox.ac.uk

Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) mencatat, industri fintech di Indonesia terus mengalami peningkatan di masa pandemi covid-19. Salah satunya disebabkan meningkatnya layanan yang ditawarkan fintech sangat beragam.

“Industri fintech di Indonesia terus mengalami peningkatan dan bertumbuh pertumbuhan ini bisa dilihat dari tiga hal,” kata Managing Director of AFTECH Mercy Simorangkir dalam Pekan Fintech Nasional 2020, Senin (16/11/2020).

3 hal itu diantaranya, pertama, bisa dilihat dari meningkatnya jumlah penyelenggara fintech yang berizin di Indonesia.

Kata Mercy, saat ini AFTECH mendata kurang lebih 80 persen dari seluruh jumlah penyelenggara fintech yang berizin merupakan anggota dari asosiasi fintech Indonesia.

“Ketika asosiasi ini berdiri di tahun 2016 kami memiliki anggota didirikan oleh 6 founder kemudian di akhir 2016 ada sekitar 24 penyelenggara fintech,” kata dia.

Misalnya di kuartal II 2020 pada Juni 2020, jumlah startup fintech yang menjadi anggota AFTECH kurang lebih menggambarkan 80 persen dari jumlah penyelenggara fintech berizin yang berada di Indonesia.

Penyebab kedua fintech terus meningkat, bisa dilihat dari meningkatnya keragaman solusi atau layanan keuangan digital yang ditawarkan oleh penyelenggara.

Mercy mengatakan pada awal 2016-2017 model bisnis fintech di Indonesia kebanyakan menawarkan sistem pembayaran atau layanan pinjaman online.

Namun di tahun 2019-2020 sudah terdapat 23 model bisnis fintech, diantaranya digital payment seperti e-money, e-wallet, payment gateway, remiten, dan lainnya. Hal itu dikarenakan trend market dari masyarakat terus mengalami peningkatan dalam mengadaptasi digitalisasi.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: