Sudah Sembuh dari COVID-19, Perlukah Divaksin?

Rochimawati, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sebenarnya vaksinasi bukanlah hal yang baru. Namun, khusus untuk COVID-19, karena penyakit ini tergolong baru, banyak pertanyaan yang kemudian muncul terkait hal ini. Termasuk soal siapa saja orang-orang yang harus divaksin.

Bagi orang-orang yang pernah terinfeksi virus ini, muncul pertanyaan, apakah mereka perlu juga divaksin, mengingat orang yang sudah pernah terinfeksi, sudah terbentuk antibodi di dalam tubuhnya.

Spesialis penyakit dalam, Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, FACG, mengatakan, meski telah sembuh dari COVID-19, orang-orang ini tetap harus mendapatkan vaksin. Apa alasannya?

"Karena ketika kita terinfeksi oleh COVID-19, antibodi yang terbentuk tidak cukup untuk melindungi kita dalam jangka waktu yang panjang. Ada yang disebutkan 3 bulan, ada yang 6 bulan. Jadi kesimpulannya tetap orang yang pernah terinfeksi, dia juga nanti mungkin suatu waktu perlu juga mendapatkan vaksinasi," ujarnya dalam tayangan Hidup Sehat di tvOne, Rabu 6 Januari 2021.

Lebih lanjut Profesor Ari menjelaskan, antibodi pasca COVID-19 biasanya bisa bertahan hingga 3 bulan. Jadi, Ari menyimpulkan, para penyintas COVID-19 tetap harus diberikan vaksin.

"Jadi, vaksin ini tetap diberikan pada orang yang terinfeksi COVID-19. Tapi untuk kesempatan yang pertama, Sinovac belum diperuntukkan untuk orang yang pernah terinfeksi," kata dia.

Ari mengatakan, vaksin secara umum aman digunakan untuk semua umur. Tapi khusus untuk vaksin COVID-19, masih butuh waktu untuk dilakukan penelitian.

"Misalnya Sinovac, risetnya itu pada umur 18-60 tahun. Tapi ada dari vaksin yang lain, Pfizer, yang menjadi sasaran selain tenaga medis dan nakes, itu adalah orang-orang tua. Karena orangtua berisiko kalau terinfeksi bisa jadi kematian. Bahkan kalau liat di media, ada umur 80-an yang mendapat vaksin," tutur dia.

Namun, Ari menjelaskan, vaksin untuk usia anak, juga masih dalam penelitian. Tapi, jika bicara vaksinasi secara umum, bisa untuk semua jenis umur tergantung pada jenis vaksinnya.

"Karena sekali lagi, ini infeksi baru, juga semuanya serba baru. Jadi, bisa saja terjadi perubahan-perubahan di masa datang setelah riset atau data-data ini keluar," kata Prof. Ari.

Seperti diketahui, jumlah kasus COVID-19 saat ini masih tinggi. Untuk itu, cara yang paling efektif dilakukan untuk mencegah penularan yaitu dengan mematuhi protokol kesehatan dan selalu melakukan 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak dan jauhi kerumunan serta Mencuci Tangan Pakai Sabun.

#ingatpesanibu
#satgascovid19
#pakaimasker
#cucitanganpakaisabun
#jagajarak