Sudan Selatan Bergabung dengan IMF dan Bank Dunia

Washington (AFP/ANTARA) - Sudan Selatan, negara terbaru di dunia, bergabung dengan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional, Rabu, di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa bentrokan di perbatasan dengan Sudan kemungkinan meningkat menjadi perang.

Salah satu dari negara-negara berkembang di dunia itu, bangsa miskin Afrika mencapai kemerdekaan dari Sudan pada Juli lalu, setelah lebih dari dua dekade perang.

Sudan Selatan masuk ke dalam dua lembaga keuangan multilateral, datang masing-masing pihak menuduh yang lainnya mengobarkan kerusuhan di sepanjang perbatasan mereka.

Perekonomian Sudan berada dalam krisis setelah kehilangan pendapatan minyak menyusul pemisahan Sudan Selatan.

Dalam upacara penandatanganan di kantor pusat IMF dan World Bank di Washington pada Rabu, Menteri Keuangan dan Perencanaan Ekonomi Sudan Selatan, Kosti Manibe Ngai, menyerahkan permintaan negaranya untuk keanggotaan dimulai pada April 2011.

"Bahkan sebelum kami menjadi anggota, Bank Dunia sudah bekerja sama erat dengan kami," katanya.

"Jadi hari ini kami sangat senang bahwa formalitas akhirnya selesai, dan kami berharap untuk suatu kemitraan jangka panjang dengan Grup Bank Dunia karena kami bekerja sama pada pembangunan yang sangat dibutuhkan Sudan Selatan."


Sudan Selatan menjadi anggota ke-188 lembaga saudara, bergabung bertepatan dengan pertemuan musim semi mereka pekan ini di ibukota AS.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menyambut Sudan Selatan bergabung ke pemberi pinjaman global, mengatakan "IMF akan melakukan yang terbaik untuk membantu negara itu dalam mendirikan dasar bagi stabilitas ekonomi dan pertumbuhan di masa depan."


Sudan Selatan telah mendekati IMF untuk bantuan teknis dalam membangun kapasitas dan lembaga untuk mengelola ekonomi yang baru lahir.

IMF sedang melakukan koordinasi dengan para donor dalam sebuah dana 11 juta dolar AS yang didedikasikan dalam mendukung Sudan Selatan selama empat tahun ke depan. "Uni Eropa berencana untuk tetap bergabung sebagai donor utama," katanya.

Bank Dunia, sebuah pemberi pinjaman pembangunan anti-kemiskinan, juga memuji keanggotaan Sudan Selatan, menyebut negara miskin sebuah "uji kasus" karena pada prinsipnya warga negara yang memimpin pembangunan negara dengan dukungan mitra pembangunan internasional.

"Saya sangat senang menyambut Sudan Selatan, negara terbaru di dunia sebagai anggota terbaru kita dari Kelompok Bank Dunia, untuk membantu mengelola dan menyelesaikan pengembangannya yang banyak tantangan sementara juga membangun koalisi nasional yang luas untuk menjamin perdamaian abadi dan kemakmuran," kata Obiageli Ezekwesili,

wakil presiden Bank Dunia untuk Afrika.

Dia juga berjanji bank akan mendukung perang melawan korupsi,meningkatkan akuntabilitas dan pemerintahan yang baik, dan bekerja sama dengan Sudan Selatan serta masyarakatnya "untuk pengembangan sosial dan ekonomi yang lebih baik."


Bank Dunia telah terlibat dalam pembangunan Sudan Selatan sejak 2005, melalui dana perwalian yang didanai oleh bank dan 13 lembaga donor yang telah mencairkan sekitar 505 juta dolar AS.

Sedikit lebih besar dari Ukraina, Thailand atau Spanyol, Sudan Selatan memiliki beberapa jalan atau infrastruktur. Tingkat kematian anak dan ibu, dan keberadaan sekolah dasar, termasuk yang terburuk di dunia.

Menjelang kemerdekaan Sudan Selatan pada 9 Juli 2011, Bank Dunia mendirikan South Sudan Transition Trust Fund 75 juta dolar AS untuk membantu menyediakan perawatan kesehatan, infrastruktur, dan pekerjaan.

Kelompok Bank Dunia mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan pemerintah dan pemangku kepentingan di Sudan Selatan untuk mengembangkan strategi kemitraan baru penting dua tahun guna mendukung pembangunan Sudan Selatan.

Pintu-pintu dibuka untuk kemajuan negara ini dengan latar belakang meningkatnya kekhawatiran internasional tentang konflik antara Sudan dan Sudan Selatan.

Bentrokan pecah bulan lalu di daerah Heglig dan pekan lalu meningkat dengan gelombang pemboman udara melanda Selatan dan Sudan Selatan menyerang Heglig pada 10 April.

PBB, Amerika Serikat dan Uni Eropa telah mengkritik pendudukan Selatan pada Heglig, ladang minyak yang paling penting di utara, sama-sama mengecam serangan udara terhadap Sudan Selatan.

Pada Selasa, Dewan Keamanan PBB membahas sanksi terhadap

dua bertetangga itu.

Sudan dan Sudan Selatan terkunci "dalam sebuah perang logis" dengan kelompok garis keras mengendalikan kedua negara, utusan perdamaian internasional mengatakan kepada dewan. (rr)