Suhu Dubai Terlalu Panas hingga 46 Derajat Celsius, Pemerintah Bikin Hujan Buatan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Dubai - Suhu Dubai yang melebihi 115 derajat Fahrenheit atau setara dengan 46 derajat Celsius membuat pemerintah memutuskan untuk mengendalikan cuaca yang sangat panas tersebut.

Seperti yang dilansir dari laman Cbs News, Jumat (20/8/2021), para ilmuwan di Uni Emirat Arab kemudian membuat hujan--secara artifisial--menggunakan muatan listrik dari drone untuk memanipulasi cuaca dan memaksa curah hujan di seluruh negara gurun itu. Pejabat meteorologi merilis rekaman video minggu ini yang menunjukkan hujan lebat di Ras al Khaimah, serta beberapa daerah lainnya.

Metode baru penyemaian awan menunjukkan harapan dalam membantu mengurangi kondisi kekeringan di seluruh dunia, tanpa banyak masalah lingkungan seperti metode sebelumnya yang melibatkan semburan garam.

Setiap tahun, Uni Emirat Arab menerima sekitar 4 inci hujan per tahun. Pemerintah berharap bahwa perubahan awan secara teratur untuk menghasilkan hujan akan membantu meringankan beberapa gelombang panas tahunan negara yang gersang itu.

Menurut penelitian dari University of Reading di Inggris, para ilmuwan menciptakan badai menggunakan drone, yang menghantam awan dengan listrik, menciptakan tetesan air hujan yang besar. Tetesan hujan yang lebih besar sangat penting di negara panas, di mana tetesan yang lebih kecil sering menguap sebelum menyentuh tanah.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Salah Satu Negara Pertama yang Menggunakan Teknologi Penyemaian Awan

Ilustrasi hujan (pexels)
Ilustrasi hujan (pexels)

"Sangat menyentuh untuk berpikir bahwa teknologi curah hujan yang saya lihat hari ini, yang masih dikembangkan, suatu hari nanti dapat mendukung negara-negara di lingkungan yang kekurangan air seperti UEA," kata Mansoor Abulhoul, Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Inggris, saat berkunjung ke University of Reading pada bulan Mei, di mana dia ditunjukkan demonstrasi teknologi baru.

"Tentu saja, kemampuan kita untuk memanipulasi cuaca sangat kecil dibandingkan dengan kekuatan alam," kata wakil rektor Robert Van de Noort selama kunjungan tersebut. "Kami sadar bahwa kami sebagai Universitas memiliki peran besar untuk dimainkan, dengan bekerja sama dengan mitra global untuk memahami dan membantu mencegah dampak terburuk dari perubahan iklim.”

Pada 2017, para peneliti di universitas dianugerahi $ 1,5 juta (21,7 miliar rupiah) dalam pendanaan untuk apa yang mereka sebut "Ilmu Peningkatan Hujan," juga dikenal sebagai hujan badai buatan manusia. Total investasi UEA dalam proyek pembuatan hujan adalah $15 juta (217 miliar rupiah), bagian dari "pencarian negara untuk memastikan keamanan air."

"Permukaan air turun drastis di UEA," kata profesor dan ahli meteorologi Universitas Reading Maarten Ambaum kepada BBC News. "Dan tujuannya adalah untuk membantu hujan turun."

UEA adalah salah satu negara pertama di kawasan Teluk yang menggunakan teknologi penyemaian awan, kata Pusat Meteorologi Nasional. Versi konsep tersebut digunakan di setidaknya delapan negara bagian di AS bagian barat, menurut The Scientific American.

Reporter: Ielyfia Prasetio

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel