SukkhaCitta ajak telusuri asal usul pakaian dengan kearifan lokal

·Bacaan 2 menit

Jenama fesyen SukkhaCitta untuk pertama kalinya mengajak para pecinta fesyen menelusuri asal usul pakaian dengan kearifan lokal dalam pameran KAPAS: Healing Mother Earth, Healing Ourselves di Ashta District 8 Jakarta yang resmi dibuka bertepatan dengan Hari Bumi, yakni 22 April 2022.

Founder and CEO of SukkhaCitta Denica Riadini mengatakan, pameran KAPAS akan memperlihatkan proses penanaman kapas dengan kearifan lokal yakni melalui Tumpang Sari atau menanam beberapa jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama agar tanaman-tanaman tersebut dapat bersimbiosis. Proses itulah yang digunakan oleh para perempuan petani dan pengrajin di balik pakaian jenama SukkhaCitta.

Diketahui bahwa sejak 2016, SukkhaCitta telah memberdayakan ribuan perempuan di seluruh Indonesia dengan memberikan akses edukasi dan akses ke pasar yang adil, sehingga berhasil menaikkan pendapatan mereka hingga 60 persen.

"Mereka menanam kapas seperti menanam hutan. 20 jenis tanaman ditanam bersama supaya mereka bisa bersimbiosis. Dengan begitu, mereka tidak perlu lagi menggunakan obat-obatan kimia untuk pestisida dan pupuknya. Kita juga menemukan bahwa ternyata simbiosis ini justru menyembuhkan tanah," jelas Denica saat konferensi pers virtual pada Jumat.

Baca juga: Marsha Timothy-Calla The Label rilis koleksi terbaru "JOURNEY"

"Ini unik banget karena sebenarnya, 99 persen dari kapas yang ada di Indonesia itu sekarang diimpor. Bayangkan kalau kita bisa mengembalikan kembali kapas ke Indonesia karena cara penanaman kapas oleh ibu-ibu ini menarik sekali," imbuhnya.

Co-Founder and Chief of Sustainability Officer SukkhaCitta Bertram Flesch menambahkan bahwa melalui pameran KAPAS, pihaknya juga ingin mengingatkan masyarakat mengenai keberlanjutan atau sustainability bahwa pakaian yang mereka kenakan berasal dari tanah dan harus dapat kembali ke tanah setelah tidak digunakan.

"Tapi itu adalah proses yang sangat panjang. Di KAPAS exhibition kita kasih lihat prosesnya mulai dari farm, bijinya ditanam di tanah sampai jadi pohon kapas, kapasnya diproses jadi benang kemudian ditenun jadi baju, sampai apa yang terjadi setelah baju tidak dipakai lagi," jelas Bertram.

Menurut Bertram, jika pakaian dibuat secara tradisional dan alami seperti menggunakan kapas yang berasal dari pohonnya, maka bisa kembali lagi ke tanah dan menjadi makanan untuk kehidupan selanjutnya.

Berbeda dengan pakaian yang terbuat dari poliester atau bahan kain yang melalui proses kimiawi, Bertram mengatakan pakaian dengan bahan tersebut akan sangat sulit terurai di alam.

"Tapi kita suka lupa kalau baju sekarang banyak yang pakai poliester yang sebenarnya plastik. Plastik bisa aja kita kembalikan ke tanah, tapi tanah enggak bisa menerima," ujar Bertram.

"Jadi kita mau mengingatkan kalau (asal usul) baju itu jalannya sangat panjang dan selalu ada dampak dari apa yang kita pilih, baik itu dampak untuk lingkungan ataupun untuk orang-orang di sekitar," pungkasnya.

Pameran KAPAS: Healing Mother Earth, Healing Ourselves di Ashta District 8 Jakarta akan berlangsung hingga 15 Mei 2022.

Baca juga: Empat "fashion item" karya anak bangsa yang wajib dimiliki

Baca juga: Cara Konscio Studio upayakan fesyen ramah lingkungan

Baca juga: Proyek Lestari Brodo, melestarikan budaya dengan gaya

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel