Suku Baduy Jadi Korban, Polisi Diminta Bongkar Sindikat Pemalsu Madu

Bayu Nugraha, Yandi Deslatama (Serang)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Polda Banten membongkar produksi madu palsu di daerah Jakarta. Madu abal-abal itu kemudian dibungkus sedemikian rupa, hingga terlihat alami dan memiliki corak khas Lebak, Banten.

Setidaknya ada tiga tersangka yang ditangkap, yakni MS (47) pemilik rumah produksi, TM (35) pembuat madu, dan AS (24) sebagai pemasar.

Para pelaku menjual madunya seharga Rp24 ribu per liter. Kemudian oleh pengepul dijual ke pengecer seharga Rp70 ribu. Sampai ke masyarakat, harganya mencapai Rp200 ribu per liter.

Pemerhati adat Baduy, Uday Syuhada, meminta pihak kepolisian bisa mengungkap otak intelektualnya.

"Kita tahu Baduy itu unik, mereka terkenal sebagai masyarakat yang penuh kejujuran, sederhana. Kearifan lokal ini yang dimanfaatkan oleh jaringan itu sebagai pemasar, itulah yang diambil oleh oknum yang tergabung dalam sindikat madu palsu tersebut. Penegak hukum mengambil aktor intelektualnya, jangan mengorbankan masyarakat adat Kanekes yang selama ini hidupnya bersahaja," kata pemerhati Budaya Baduy, Uday Syuhada, ditemui di Kota Serang, Banten, Rabu, 11 November 2020.

Menurut Uday, banyak anak muda Baduy Luar dieksploitasi oleh sindikat pemalsu madu, untuk memasarkannya melalui media sosial dan dijual secara tradisional, dengan berjalan kaki atau bertemu langsung dengan pelanggannya.

Diperlukan upaya serius kepolisian untuk membongkar sindikat pemalsu madu yang memanfaatkan suku asli Banten tersebut.

"Saya ingin mendorong Polda (Banten) menegakkan hukum seadil-adilnya, komunitas adat Baduy sebagai local wisdom-nya harus kita selamatkan. Karena Baduy dalam hal ini menjadi korban, dalam sindikat pemalsuan madu tersebut. Tentu masyarakat Baduy Luar yang dieksploitasi oleh pihak lain," terangnya.

Menurutnya, sebelum madu palsu masuk ke Suku Baduy, anak mudanya masih rajin menggarap ladang. Namun kehidupan remajanya berubah, semenjak madu abal-abal masuk.

Perubahan orientasi hidup ini dikarenakan gencarnya sindikat pemalsu madu membujuk rayu generasi penerus suku asli Banten itu untuk memasarkannya, dengan memanfaatkan kejujuran dan keramahtamahannya.

"Bayangkan mereka yang biasanya menemani orangtuanya ke ladang, berhuma, tetapi dengan iming-iming mencari uang dengan mudah, dengan menjual madu tersebut melalui medsosnya, tentu orientasinya berubah, banyak anak muda Baduy ini enggan pergi ke ladang," tuturnya.

Baca juga: Respons Polri Soal Habib Rizieq Masuk Red Notice Interpol