Suku Bunga Rendah Meski Ada Tapering The Fed Jadi Angin Segar untuk IHSG

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Analis menilai rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) untuk mengurangi pembelian obligasi atau tapering dan tetap mempertahankan suku bunga rendah menjadi angin segar bagi pasar modal.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas, Frankie Prasetio menuturkan, efek dari tapering menjadi momok bagi investor pasar modal adalah kenaikan nilai tukar mata uang terutama dolar AS, jika tingkat suku bunga acuan AS dinaikkan. Akan tetapi, positifnya the Fed masih mempertahankan suku bunga rendah.

"Tentu hal ini angin segar bagi pasar modal setidaknya laju indeks utama yaitu IHSG cukup bertahan dan stabil di tengah situasi global yang masih cukup dinamis di era pandemi ini,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Sabtu (4/9/2021).

Ia mengatakan, masih ada ruang untuk investor asing masuk ke pasar modal negara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini mengingat pasar modal Indonesia masih tergolong belum naik signifikan. Adapun berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), aliran dana investor asing yang masuk pasar saham Indonesia sekitar Rp 22,32 triliun.

Sentimen positif lainnya yang akan angkat IHSG, menurut Frankie, tingkat suku bunga rendah bakal dilakukan oleh Bank Indonesia (BI). Mengingat ekonomi Indonesia masih pada tahap pemulihan. Sentimen tersebut bakal dongkrak IHSG hingga akhir 2021.

"Untuk proyeksinya IHSG akan bergerak antara level 6.100-6.500 sampai akhir tahun nanti. Untuk menopang peningkatan ini tentu diharapkan kasus COVID-19 yang sudah menurun ini dapat dipertahankan,” ujar dia.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Sektor Saham yang Jadi Pilihan

Pengunjung melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12/2020). Pada penutupan akhir tahun, IHSG ditutup melemah 0,95 persen ke level 5.979,07. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Pengunjung melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12/2020). Pada penutupan akhir tahun, IHSG ditutup melemah 0,95 persen ke level 5.979,07. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Frankie menambahkan, emiten-emiten yang telah melakukan penyesuaian kinerjanya pada masa pandemi ini seperti efesiensi dan perbaikan portfolio, tidak sedikit yang sudah menorehkan perbaikan kinerja bila disanding dengan kinerja tahun lalu.

Sedangkan untuk saham, Frankie perkirakan, investor akan kembali saham-saham unggulan yang baik dan stabil tetapi dengan harga saham yang masih lesu pada semester II 2021.

Sebelumnya, IHSG naik pada semester I 2021 ditopang kenaikan saham terutama saham kapitalisasi menengah kecil yang naik hanya berdasarkan sentimen bukan kepada kinerja dan fundamentalnya.

Frankie memilih sektor saham perbankan dan tambang dapat menjadi pertimbangan. Ia menuturkan, sektor saham pilihan bisa mempertimbangkan rekomendasi saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

"Sektor pertambangan jika geliat industri sudah kembali stabil dengan harga komoditas yang masih dalam trend naik, rekomendasi saham seperti PT United Tractors Tbk (UNTR),PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA),” ujar dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel