Sulawesi Tengah Termasuk Provinsi dengan Pengendalian Inflasi yang Baik

Merdeka.com - Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah kembali mengadakan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), yang kali ini dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Tengah.

Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo menilai provinsi Sulawesi Tengah termasuk provinsi yang sangat baik dalam pengendalian inflasi secara nasional, dimana ada dua penghargaan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diperoleh Provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2020 dan 2021.

Tekanan inflasi yang bersumber dari meningkatnya inflasi pada kelompok administered price yang merupakan dampak dari penyesuaian harga BBM serta risiko fluktuasi kelompok volatile foods mendorong perlunya upaya pengendalian inflasi di Provinsi Sulawesi Tengah.

"Kita berkumpul pada pagi hari ini meresmikan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di Provinsi Sulawesi Tengah. Kami mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Gubernur Sulteng," kata Dody, Senin (31/10).

Dia menjelaskan, Bank Indonesia sebagai otoritas moneter fiskal bertugas menjaga kestabilan inflasi serendah-rendahnya dan menjaga nilai tukar tetap stabil.

Tahun ini isu inflasi bukan hanya permasalahan nasional melainkan juga menjadi permasalahan global. Di mana dalam Presidensi G20 Indonesia beberapa waktu lalu, juga dibahas mengenai masalah krisis energi dan krisis inflasi pangan.

"Terkait G20, diskusi global yang sangat kritikal yaitu masalah krisis energi dan krisis inflasi pangan. Bahwa untuk krisis energi apakah Eropa bisa menghadapi musim dingin yang sedang terjadi dengan pasokan gas yang dibatasi oleh Rusia," ujarnya.

Bank Indonesia menilai, akan terjadi potensi kenaikan harga energi, minyak, dan gas beberapa bulan ke depan. Apalagi ditambah dengan ancaman baru Rusia yang akan mengebom semua kapal yang membawa gandum ke seluruh dunia. Hal itu menjadi potensi yang akan mengancam pasokan pangan, khususnya gandum.

"Dua hari yang lalu keluar ancaman Rusia akan mengebom semua kapal yang membawa gandum ke seluruh dunia. Jadi, itu potensi yang muncul baru dari sisi pasokan pangan yang akan terganggu lagi, dengan harga potensi naik," ujarnya.

Oleh karena itu, Bank Indonesia memprediksi risiko harga komoditas masih akan tinggi ke depannya. Artinya, dunia sedang tidak baik-baik saja.

"Kita bukan menakuti tapi bagaimana kita memitigasi, karena semua negara sedang berperang dengan ancaman yang sama, semua menaikan suku bunga. Apapun resiko yang dihadapi dengan konteks masalah pertumbuhan yang melambat adalah prioritas kedua, karena masalah stabilitas tidak ada kata tawar," pungkasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [azz]