Sulbar ekspor cangkang sawit senilai Rp17 miliar ke Jepang

Provinsi Sulawesi Barat kembali melakukan ekspor 10.500 ton cangkang sawit ke Jepang dengan nilai ekonomis Rp17 miliar.


"Permintaan cangkang sawit jelang akhir tahun terus mengalami peningkatan," kata Kepala Karantina Pertanian Mamuju Agus Karyono, pada sertifikasi terhadap 10.500 ton cangkang sawit yang akan diekspor ke Jepang melalui Pelabuhan Belang-Belang Kabupaten Mamuju, Senin.

Selama tahun 2022, Karantina Pertanian Mamuju kata Agus Karyono telah mensertifikasi 66.700 ton cangkang sawit dengan frekuensi pengiriman sebanyak tujuh kali ke Jepang yang nilainya ditaksir mencapai Rp97,7 miliar.

Sebelum diekspor tambah Agus Karyono, Pejabat Karantina terlebih dahulu memastikan cangkang sawit tersebut terbebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK).

Pejabat Karantina lanjut Agus Karyono,
melakukan serangkaian pemeriksaan fisik pada media pembawa, alat angkut dan pengawasan proses fumigasi.

"Setelah dilakukan serangkaian tindakan karantina, Pejabat Karantina menerbitkan sertifikat kesehatan tumbuhan sebagai salah satu persyaratan negara tujuan," terang Agus Karyono.

Permintaan cangkang sawit ke Jepang lanjutnya, cukup tinggi karena kebutuhan Jepang terhadap bahan baku energi sumber terbarukan yang ramah lingkungan, dan cangkang sawit asal Sulbar telah memenuhi kualitas bahan baku yang dibutuhkan.

“Untuk menjaga kualitas, Karantina Pertanian Mamuju memastikan kondisi cangkang sawit tersebut sesuai dengan permintaan negara tujuan dan telah melalui serangkaian tindakan karantina,” jelas Agus Karyono.

Tindakan karantina yang dimaksud, berupa pemeriksaan dokumen dan fisik, pengawasan fumigasi, pemeriksaan alat angkut untuk menghindari adanya hama penyakit yang dapat mengurangi kualitas produk yang diekspor.

Cangkang sawit masuk dalam salah satu dari sembilan komoditas pertanian ekspor unggulan Sulbar yang meliputi olein, stearin, PFAD, oil, kopi, sapu lidi, briket batok kelapa dan durian.

Sub sektor perkebunan CPO dan turunannya mendominasi lebih dari 90 perset dalam hal kontribusi sebagai penyumbang devisa terbesar ekspor.