Sulitnya Memutus Kutukan Pelatih Asing di Persib: Tekanan Besar dari Bobotoh dan Manajemen

Bola.com, Jakarta - Butuh nyali besar menangani tim besar. Itulah yang dihadapi para pelatih Persib Bandung, terutama pelatih asing. Sebab tekanan Bobotoh dan manajemen begitu berat, sehingga kesalahan sedikit saja bisa membuat Anda dipecat.

Terbaru adalah Robert Rene Alberts, pelatih asal Belanda yang telah lama malang melintang di persepakbolaan Indonesia, yang jadi korban kerasnya kehidupan sebagai juru taktik di Persib Bandung. Bekal CV mentereng saja tak akan kuat jika gagal memenuhi hasrat.

Robert Alberts merupakan pelatih asing Persib ke-9 yang dipecat sejak era Liga Indonesia. Nyaris semuanya dianggap gagal dan tak memberikan prestasi nyata.

Persib Bandung pun dikenal sebagai klub Liga Indonesia yang angker buat pelatih asing. Tidak heran muncul anggapan bahwa tim berjulukan Pangeran Biru itu memiliki kutukan yang sulit dicabut.

Dari Marek Andrzej Sledzianowski hingga Robert Rene Alberts, tak satupun dari pelatih asing Persib Bandung yang 'aman' dari tekanan yang datang, baik itu internal tim maupun Bobotoh.

Pelatih Lokal Justru Lebih Sukses

Djadjang Nurdjaman dielu-elukan sebagai pahlawan usai Persib juara Perserikatan 1986. (Bola.com/Dok. Pribadi)
Djadjang Nurdjaman dielu-elukan sebagai pahlawan usai Persib juara Perserikatan 1986. (Bola.com/Dok. Pribadi)

Di era Liga Indonesia hingga sekarang Liga 1, Persib Bandung tercatat dua kali meraih juara, yang pertama didapat pada 1994/1995. Gelar terakhir diperoleh pada Liga Super Indonesia 2014.

Menariknya, sukses tersebut diraih ketika Persib dilatih oleh pelatih lokal. Pada 1994/1995 misalnya, yang sekaligus menandai musim pertama Liga Indonesia, Indra Thohir bertindak sebagai pelatih kepala.

Sementara pada musim 2014, coach Djadjang Nurdjaman yang jadi juru taktik. Bahkan Djanur, begitu ia karib disapa, tercatat sebagai sosok paling sering berada di balik kemudi Persib.

Djanur yang kini melatih tim Jawa Barat lainnya, Persikabo 1973, menangani Persib pada lima kesempatan berbeda. Paling lama terjadi pada periode 2012-2016.

Robert Rene Alberts bertahan selama kurang lebih tiga tahun, namun pada Liga 1 2020/2021, kompetisi tertunda sehingga tak banyak yang bisa ia buktikan kepada Bobotoh. Ya, Bobotoh seringkali jadi elemen penting dalam pengambilan keputusan manajemen klub.

Marek Andrzej Sledzianowski Pelatih Asing Pertama

Ketika Marek Andrzej Sledzianowski kali pertama menginjakkan kaki di Bandung pada 2003, tak sedikit Bobotoh yang melakukan protes. Tradisi menggunakan pelatih asing seketika luntur saat pria asal Polandia ini menangani Persib.

Ia tak sendiri. Sebab datang bersamanya adalah Maciej Dolega, Piotr Orlinski, dan Mariusz Mucharski. Gerbong Polandia bertambah tatkalah Pawel Bocian didatangkan, meski pada akhirnya dicoret usai melakoni dua pertandingan.

Sempat digadang-gadang bakal memberikan warna baru pada permainan Persib, Sledzianowski malah gagal total. Maung Bandung terseok-seok di papan bawah dan nyaris terdegradasi.

Bahkan, Persib mencatatkan rekor buruk yaitu 12 pertandingan tanpa kemenangan. Hingga akhirnya, manajemen memutuskan untuk mendepak Marek beserta tiga pemain bawaannya.

Perlu diketahui, pada musim inilah Persib untuk kali pertama juga menggunakan jasa pemain asing. Sejak 1994, tak ada satupun legiun asing di klub tersebut, baik itu pelatih maupun pemain.

Tidak Kapok, Persib Boyong Rombongan Chile

Juan Paez. (Bola.com/Dody Iryawan)
Juan Paez. (Bola.com/Dody Iryawan)

Kendali Persib sempat dipercayakan kepada duet Bambang Sukowiyono dan Iwan Sunaryo yang bertugas sebagai caretaker alias pelatih sementara, sebelum akhirnya Persib mendatangkan pelatih asing lagi, Juan Antonio Paez.

Sama seperti Sledzianowski, Paez juga membawa serta gerbong dari Chile. Dua legiun asing diterbangkan langsung dari Amerika Selatan, Claudio Lizama dan Alejandro Tobar.

Bedanya, trio Chile ini sanggup mencegah Persib terjerat degradasi. Sebagai hadiah, manajemen klub memberikan kontrak baru kepada Paez untuk mengarungi musim 2004.

Hanya saja, ketika asyik bersaing menuju tangga juara, Paez dan manajemen Persib malah bersitegang. Ini berakibat fatal. Sebab Persib kemudian hanya finis di posisi keenam dari 18 peserta.

Paez memilih mundur dari Persib karena cekcok dengan manajemen, bukti bahwa tekanan tak hanya datang dari Bobotoh, tapi juga internal tim.

Kutukan Berlanjut ke Mario Gomez

Arema FC - Mario Gomez 2 (Bola.com/Adreanus Titus)
Arema FC - Mario Gomez 2 (Bola.com/Adreanus Titus)

Loncat jauh ke musim 2017/2018, Mario Gomez, berbekal CV fantastis bersama raksasa Malaysia, Johor Darul Ta'zim, sebetulnya memberikan angin segar. Banyak yang meyakini bahwa kutukan pelatih asing bakal pupus di tangannya.

Di bawah kepemimpinan pelatih asal Argentina ini, Persib mendatangkan pemain-pemain yang kualitasnya dipandang sebelah mata. Sebut saja Ardi Idrus dan Ghozali Siregar.

Namun, Mario Gomez mampu memoles kemampuan kedua pemain tersebut hingga menjadi tumpuan tim. Hingga Mario Gomez sukses mengantarkan Persib juara paruh musim Liga 1 2018.

Persib berhasil menjadi juara paruh musim setelah di laga terakhir menang 4-3 melawan Persebaya Surabaya. Dengan hasil ini, Persib meraih 29 poin dari 17 pertandingan.

Bukan hanya itu saja, Persib mencatatkan rekor kebobolan paling sedikit dengan 16 gol. Rekor tersebut memang disamai Perseru Serui, tapi Persib unggul produktivitas gol.

Namun, setelah Persib mendapat sanksi kandang usiran, perfoma Supardi Nasir dan kawan-kawan mulai menurun. Kekalahan demi kekalahan harus diderita Persib hingga posisi di puncak klasemen pun terpaksa digeser PSM Makassar.

Di tambah lagi hubungan Mario Gomez dan para pemain yang mulai memburuk. Hal ini karena adanya kabar yang beredar sang pelatih menuduh pemain menerima suap setelah Persib kalah 0-1 dari PSMS Medan meski akhirnya Mario Gomez membantah tudingan tersebut.

Persib Bandung mengakhiri kompetisi Liga 1 2018 dengan menghuni posisi ke 4 dengan 52 poin dari 34 laga. Meskipun gagal juara, Mario Gomez berhasil melampaui target dengan membawa tim bertengger di papan atas.

Daniel Darko Janackovic Tidak Sampai 5 Bulan

Mantan pelatih kesebelasan Pelita Bandung Raya (PBR) Darko Janackovic melaporkan manajemen klub tersebut ke Polda Metro Jaya. (Liputan6.com/Nafiysul Qodar)
Mantan pelatih kesebelasan Pelita Bandung Raya (PBR) Darko Janackovic melaporkan manajemen klub tersebut ke Polda Metro Jaya. (Liputan6.com/Nafiysul Qodar)

Nasib Nahas juga dialami oleh Daniel Darko Janackovic. Dikutip dari laman resmi Persib, juru taktik asal Serbia itu adalah pemegang lisensi A Pro UEFA.

Sebelum gabung Persib, Janackovic menorehkan prestasi gemilang bersama MO Constantine, klub Aljazair, di mana ia dinobatkan sebagai manajer terbaik meski cuma menempati posisi lima klasemen akhir.

Uniknya, usia Janackovic di Persib hanya empat bulan. Beberapa media menyebut cuma dua bulan.

Alasannya sederhana saja, manajemen Persib kecewa dengan hasil uji coba pramusim jelang musim 2010! Posisinya kemudian digantikan oleh Jovo Cuckovic.

Setali tiga uang, tepat pada 20 November 2010, Persib juga mendepak pelatih asing asal Serbia ini sebelum liga berakhir.

Semangat Tinggi Dejan Antonic

Ritual itu dilakukan pelatih Persib, Dejan Antonic, untuk memohon agar diberikan yang terbaik saat pertandingan. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)
Ritual itu dilakukan pelatih Persib, Dejan Antonic, untuk memohon agar diberikan yang terbaik saat pertandingan. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Cerita yang dialami Dejan Antonic terasa paling memilukan. Datang ke Persib dengan rasa percaya tinggi. Pelatih yang sebelumnya menukangi Pelita Bandung Raya tersebut meyakini ia bisa mengulang sukses Djadjang Nurdjaman, yang mempersembahkan gelar Indonesia Super League 2014 dan Piala Presiden 2015.

Nakhoda asal Serbia tersebut pada musim 2014 jadi buah bibir karena sukses meloloskan PBR yang berstatus klub semenjana ke semifinal ISL. Ia sempat digadang-gadang jadi pelatih Timnas Indonesia menggantikan Alfred Riedl seusai gagal Piala AFF 2014.

Dejan didatangkan dengan harapan bisa membantu proses regenerasi di Tim Pangeran Biru. Ia dikenal sebagai pelatih yang senang memberdayakan pemain muda. Tekanan sudah dirasakan Dejan di masa awal kepemimpinannya.

Tekanan Bobotoh, Lagi

<p>Pendukung Persib Bandung, Bobotoh, melakukan unjuk rasa di depan Graha Persib di&nbsp;Jalan Sulanjana, Kota Bandung, Minggu (7/8/2022) malam WIB. Bobotoh menuntut Persib untuk memecat Robert Albert setelah timnya takluk 1-4 dari Borneo FC Samarinda pada pekan ketiga BRI Liga 1. (Bola.com/Erwin Snaz)</p>

Pendukung Persib Bandung, Bobotoh, melakukan unjuk rasa di depan Graha Persib di Jalan Sulanjana, Kota Bandung, Minggu (7/8/2022) malam WIB. Bobotoh menuntut Persib untuk memecat Robert Albert setelah timnya takluk 1-4 dari Borneo FC Samarinda pada pekan ketiga BRI Liga 1. (Bola.com/Erwin Snaz)

Bobotoh mulai sering membanding-bandingkan dirinya dengan Djanur, terutama ketika Persib hanya menjadi runner-up di turnamen Bali Island Cup dan Torabika Bhayangkara Cup. Di dua ajang tersebut Atep dkk. kalah bersaing dari Arema Cronus.

Apesnya langkah Persib tersendat di laga-laga awal Torabika Soccer Championship (TSC) 2016. Maung Bandung seret kemenangan.

Posisi Dejan kian sulit setelah Persib dihajar Bhayangkara Surabaya United 1-4 di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo. Ia sempat bersitegang dengan bobotoh seusai pertandingan.Lantaran tidak tahan dengan tekanan, Dejan Antonic memutuskan mengundurkan diri.

"Saya tidak merasa nyaman bekerja di bawah tekanan seperti ini," ucap mantan pelatih Pro Duta dan Arema IPL tersebut.

Posisi Persib Saat Ini