Sultan HB X dorong petani milenial berinovasi pasarkan produk pangan

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mendorong para petani milenial di wilayahnya berinovasi membangun sistem pemasaran produk pangan lokal dengan memanfaatkan teknologi tepat guna.

"Tetapi memang harus ada verifikasi pada produk yang akan dijual terlebih dahulu. Jangan asal jual, karena punya konsekuensi hukum apabila kualitas tester berbeda dengan kualitas komoditas dagang," kata Sultan dalam sesi dialog Festival Lumbung Mataraman bertajuk "Gebyar Potensi Petani Milenial DIY" di Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Yogyakarta, Selasa.

Berkaca dari program "SiBakul Jogja" milik Dinas Koperasi dan UKM DIY yang sukses memutar uang dan menghidupkan gairah pasar dengan menggunakan teknologi informasi, Sultan berharap sektor pertanian juga dapat melakukan hal serupa.

Di sisi lain, ia juga berharap para petani di DIY mampu memenuhi kebutuhan lokal dengan produk pangan lokal pula.

Namun demikian, apabila belum mampu dan masih menggunakan produk pangan dari luar, Sultan berharap para petani harus mampu mengemas dan melakukan pemasaran dengan lebih menarik.

Ia mengapresiasi antusiasme petani muda (milenial) dalam menghadirkan produk-produk pangan lokal DIY hingga menembus pasar luar daerah.

Sultan menyatakan siap menggelontorkan dana APBD untuk mendukung upaya tersebut.

"Yang terpenting adalah siapa yang mengkonsolidasikannya dan membangun potensi menjadi sesuatu. Kami 'backup' dengan APBD, tidak ada masalah APBD dipakai karena juga punya masyarakat Yogyakarta," ujar dia.

Gubernur DIY pada kesempatan tersebut juga mengajak masyarakat DIY mengonsumsi pangan lokal dengan secara simbolis meluncurkan produk mie cup instan lokal berbahan baku mocaf (modified cassava flour) buatan DIY.

Selain itu, juga memberikan sejumlah penghargaan pada kelembagaan ekonomi petani berprestasi tingkat DIY serta memberikan hibah bangunan dan sarana pendukung kegiatan pertanian pangan nasional.

Kepala DPKP DIY, Sugeng Purwanto, menuturkan hal paling penting dalam memaksimalkan potensi pangan lokal adalah diversifikasi pangan.

Semua jenis bahan makanan, kata dia, diharapkan bisa saling mengganti sehingga jika terjadi kelangkaan satu jenis bahan pokok, akan tersedia bahan yang lain.

Selain bisa memaksimalkan potensi pangan lokal, menurut Sugeng, upaya itu juga bisa menekan laju inflasi yang diakibatkan oleh salah satu bahan pangan seperti kedelai atau cabai.

Sugeng juga berharap petani milenial mampu menghadirkan kemudahan pada penyediaan layanan pemasaran pangan.

"Teknologi itu memberikan kemudahan pada suplai komoditas. Pesanan bisa segera dipenuhi. Jangan sampai konsumen menunggu lama. Dan disediakan juga alternatif pangan pilihan bagi konsumen sehingga tidak hanya terpatok dan fokus pada satu saja. Intinya bahan pangan subtitusi itu juga penting," katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel