Sultan Himayatuddin, Raja Pulau Butan yang Jadi Pahlawan Nasional

Liputan6.com, Jakarta - Sultan Himayatuddin diberikan gelar pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Pemberian gelar pahlawan nasional dilakukan hari ini, Jumat (8/11/2019) di Istana Negara.

Pemberian gelar pahlawan nasional tak hanya kepada Sultan Himayatuddin saja, tetapi ada lima orang lainnya juga. Mereka adalah Abdul Kahar Mudzakkir, Alexander Andries (AA) Maramis, KH Masykur, Prof M Sardjito, dan Ruhana Kudus.

Lantas, siapakah sosok Sultan Himayatuddin? Sultan Himayatuddin merupakan pemimpin Kesultanan Buton yang terletak di Pulau Buton sebelah tenggara Pulau Sulawesi.

Sultan La Karambau yang memiliki gelar Sultan Himayatuddin Ibnu Sultaani Liyaauddin Islamail itu sempat menjabat menjadi Sultan ke-20 pada 1750–1752 dan Sultan ke-23 pada 1760 – 1763.

Sultan Himayatuddin sangat mencintai keadilan, oleh karena itu nuraninya terusik dan jiwanya memberontak saat mengetahui bahwa secara sepihak VOC Belanda membuat aturan pembatasan pelayaran orang Buton, pembebasan pajak atas kapal VOC Belanda yang berlabuh di pelabuhan Buton, dan penghancuran tanaman rempah di Buton.

Aturan-aturan ini menciptakan penderitaan hidup rakyat Buton yang mayoritas menggantungkan hidupnya dalam bidang maritim.

Ketika La Karambau dilantik menjadi Sultan Buton ke-20 dengan gelar Sultan Himayatuddin, ia langsung menyatakan diri menentang dominasi VOC Belanda tersebut.

 

Cucu Sultan Himayatuddin Dibawa Karena Konsisten Lawan VOC

Gedung di antara Restoran Galangan VOC dan Raja Kuring Kota Tua (Liputan6.com/Google Street View)

Penentangan yang pelan tetapi pasti dijalankan hingga akhirnya meletuslah perang secara terbuka antara Kesultanan Buton melawan VOC Belanda yang kulminasinya terjadi pada 1755, di mana pasukan pimpinan Himayatuddin berkekuatan 5.000 prajurit bertempur melawan pasukan VOC Belanda.

Dalam perang tersebut, anak dan cucu Sultan Himayatuddin ditawan dan dibawa oleh VOC Belanda. Sedangkan Himayatuddin bersama pasukannya berpindah ke dalam hutan Siontapina guna memulihkan kekuatan dan menyusun strategi perang gerilya.

Sultan Himayatuddin konsisten berjuang dari dalam hutan dalam mengusir VOC Belanda dari tanah Buton.

Hal ini terbukti dengan penyerangan tiba-tiba yang dilakukannya pada kapal-kapal VOC Belanda saat melintas di perairan Buton dan penyerangan terukur lainnya.

Perang gerilya yang dilakukan oleh Sultan Himayatuddin tercatat berlangsung sejak 1755 hingga 1776 atau selama 21 tahun.

Sultan Himayatuddin yang dikenal tidak pernah mau berkompromi dengan VOC Belanda ini meninggal dunia pada 1776 dalam usia 86 tahun.

 

(Rizki Putra Aslendra)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: