Sultra Perlu Bergerak Bangkitkan Literasi Lewat Kekhasan Daerah

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Beragam cara dilakukan pemerintah daerah untuk mengejar ketertinggalan kualitas sumber daya manusia. Demikian halnya yang dilakukan pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara, yang mulai menitikberatkan fokus pengembangan sumber daya manusia melalui perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Sebagai informasi, inspirasi tersebut diperoleh Gubernur Sultra Ali Mazi ketika mengunjungi Boston Public Library di Massachusetts, Amerika Serikat, pada 2019. Bahkan, di saat itu Gubernur secara khusus menjalin kerja sama dengan Library of Congress (LOC).

"Perpustakaan menyambut baik dan mengapresiasi dengan cara yang ditempuh Gubernur Ali Mazi sekaligus membuktikan dukungan pemerintah daerah terhadap program perpustakaan berbasis inklusi sosial," ungkap Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando, mengawali Webinar 'Meningkatkan Potensi Daerah dan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Budaya Literasi' yang digelar Rabu, (18/11/2020).

Syarif bando lebih jauh mengatakan, pendidikan dan perpustakaan sudah tidak bisa dipisahkan. Namun, ada yang membedakan secara fundamental. Jika pendidikan mengajari hukum-hukum universal, maka perpustakaan adalah ikon peradaban masyarakat tanpa batasan usia atau pun strata sosial untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan informasi yang diperlukan sepanjang hayat.

Bahkan, perhatian pemerintah terhadap perpustakaan begitu besar. Saat ini perpustakaan sudah menjadi urusan wajib nondasar yang perlu dikembangkan di seluruh daerah, baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota. Kepala Perpusnas mengakui kalau seluruh jenis perpustakaan memang memerlukan perhatian khusus, terutama untuk perpustakaan sekolah.

"Pengelolaan perpustakaan sekolah masih menjadi persoalan mendasar, mulai dari kepedulian manajemen sekolah yang rendah sampai terbatasnya sumber daya yang memiliki visi pengembangan serta kemampuan mengelola perpustakaan sekolah,"ungkap Syarif.

Sama seperti di daerah lain, Kepala Perpusnas juga meminta pemerintah Sultra memerhatikan kekhasan daerah (local content) yang bisa menjadi potensi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tidak hanya guru yang mengajarkan tentang Sulawesi Tenggara tapi juga jutaan koleksi buku bisa disediakan melalui perpustakaan. Caranya, mengajak para sastarawan, budayawan, sejarawan, maupun tokoh masyarakat untuk menulis tentang kearifan lokal maupun kekhasan dari Sulawesi Tenggara.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Pemprov Sultra Nur Endang Abbas mengatakan, pembangunan sumber daya manusia dan literasi mempunyai multiplier effect yang juga berkontribusi terhadap peran penting terhadap pertumbuhan ekonomi dan perbaikan kesejahteraan masyarakat.

"Dampak literasi berpengaruh terhadap pendapatan, memajukan daya saing wilayah, memperkuat kapabilitas dan aneka keterampilan serta memperbaiki kualitas hidup," terang Abbas.

Pentingnya perpustakaan diamini Endang Abbas bukan sekadar tempat penyimpanan dan peminjaman koleksi buku. Namun, perlu ditunjang dengan kecanggihan sarana teknologi yang cepat sehingga akses koleksi digital tidak mengalami kendala.

Bahkan, Endang Abbas mengakui pihaknya saat ini memasukkan perpustakaan sebagai salah satu program prioritas pembangunan Sultra. Rancang bangun perpustakaan modern berbasis inklusi sosial untuk menciptakan masyarakat Sultra yang berkualitas dan bermartabat juga sedang disusun pemda.

"Perpustakaan harus dirancang agar memiliki nilai kebermanfaatan yang tinggi di masyarakat dan menjadi ruang terbuka untuk memperoleh solusi dalam upaya meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan," katanya.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Simak juga video pilihan berikut ini: