Sumpah Pemuda dan literasi siswa

Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober, memiliki aneka makna dari tiga poin ikrar kaum muda pada tahun 1928, yakni mengenai Tanah Air, Bangsa, dan Bahasa.

Sumpah mengenai Tanah Air Indonesia dan Bahasa Indonesia bisa dielaborasi dalam beragam aspek kehidupan, terutama mengenai kecintaan pada bangsa dan negara serta pengembangan ilmu pengetahuan atau mencerdaskan bangsa.

Mencerdaskan bangsa hakikatnya adalah membangun spirit bagi seluruh komponen bangsa untuk selalu mencari ilmu dan memperluas wawasan. Jalannya adalah melalui literasi, yang dalam makna sempit melazimkan budaya membaca.

Budaya membaca akan melahirkan generasi cerdas dan bijak. Hal paling mendasar dari budaya membaca itu bisa ditumbuhkan dengan budaya menulis. Menulis tentang apa saja, yang sudah dibiasakan sejak dini, diyakini akan mampu melahirkan generasi gemar membaca.

Sekelompok siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di bawah Yayasan Pa van der Stuer Bekasi yang tergabung dalam grup "Pena Emas" membuat proyek bersama untuk menulis cerita. Kumpulan cerita itu dibukukan dengan judul "Rumahku Indonesiaku". Buku itu diluncurkan pada Jumat, 28 Oktober 2022 dalam ajang Pameran Buku Internasional 2022 di Jakarta, sekaligus menyambut Hari Sumpah Pemuda.

Lewat penulisan buku ini para siswa dilatih mengungkapkan isi pikirannya, termasuk cita-cita di masa depan dan bagaimana mereka memaknai diri dan bangsa ini sebagai bangsa yang besar dan kaya.

Mari kita lihat pada kisah "Rumahku Indonesiaku" yang kemudian menjadi judul buku, ditulis oleh Daniel Phillipo Pattiapon. Tulisan ini mengisahkan kebanggaan dia menjadi warga negeri bernama Indonesia.

Indonesia terdiri dari berbagai suku, budaya, agama, dan alam. Daniel mengaku bangga sebagai anak Indonesia yang lahir dari ayah Suku Ambon dan ibu dari Manado.

Ia merefleksi perjuangan para pendahulu bangsa ini dalam melawan penjajah. Siswa Kelas 8 SMP itu mengajak semua elemen bangsa untuk bersyukur atas anugerah kekayaan bangsa ini yang harus dimaknai dengan hal-hal positif untuk kemajuan.

Daniel juga bercerita mengenai hobi sepak bola dan mengidolakan megabintang Christiano Ronaldo. Ia ingin, kelak memiliki prestasi seperti Ronaldo di bidang sepak bola.

Hal-hal sederhana ia juga ceritakan, seperti makanan kesukaan. Ia menyukai makanan soto, sayur daun singkong, ayam rendang, ayam geprek, ikan cakalang, dan opor ayam.

Atfen Inosensius, dari Papua, bercerita mengenai masa kecilnya di Wamena. Pada tulisan berjudul "Cerita dari Hutan Wamena", ia bercerita bahwa di Kota Wamena banyak sekali hutan dan mata pencaharian warganya bercocok tanam.

Atfen sering diajak ayahnya pergi ke hutan untuk berburu hewan dengan menggunakan panah dan tombak. Karena kekayaan alam Wamena, ia ke hutan tidak perlu membawa bekal. Ketika haus cukup meminum air jernih dan bersih di hutan. Kalau lapar, bisa menggali singkong kemudian dibakar. Atau bisa mengambil pepaya matang di pohon lalu dimakan.

Sementara hasil berburu biasanya dibawa ke rumah untuk dimasak dan dimakan bersama keluarga dan tetangga. Rupanya kebersamaan dalam lingkungan sosial masih terjaga baik di tempat asal Atfen.

Ecclesio Ahazael Blestan Kasakeyan menulis tentang "Robot Penjaga Presiden". Dia terinspirasi membuat cerita itu setelah menonton film ada seorang presiden yang dibunuh. Kebetulan dia juga pernah les membuat robot. Karena itu kelak ia sangat ingin mewujudkan cita-cita mulia membuat robot agar mampu menjaga presiden kita dari gangguan orang tidak bertanggung jawab.

Melihat cerita-cerita yang dituangkan anak dalam buku, hendaknya tidak menggunakan kacamata orang dewasa, apalagi dari sudut penulis profesional.

Dari sisi keberanian menuangkan ide dan upaya-upaya selanjutnya hingga tersaji sebagai cerita, sebetulnya banyak nilai dan pelajaran yang bisa kita ambil.

Nilai-nilai itu, antara lain, mengajarkan pada anak bahwa mereka juga bisa menulis. Proyek dalam grup Pena Emas ini memberi pelajaran besar pada mereka bahwa apa yang mereka kerjakan kemudian diabadikan dalam bentuk tulisan, tidak lah harus mengambil dari peristiwa-peristiwa besar.

Hal-hal sederhana yang selama ini luput dari perhatian, ternyata bisa diolah menjadi bacaan menarik bagi orang lain. Dari bacaan itu orang lain juga bisa menangkap pesan yang terselip untuk diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan.

Artinya mereka yang menulis pada hakikatnya tidak hanya bermakna untuk diri, dalam arti bisa menulis, melainkan juga untuk menginspirasi orang lain, termasuk bagi anak-anak sebayanya yang punya keinginan menulis cerita.

Dampak yang sangat dirasakan oleh orang tua ketika anak-anaknya gemar menulis adalah mengurangi kebiasaan bermain game di rumah. Waktu yang tersedia justru banyak terisi oleh kegiatan positif dengan menghasilkan karya nyata dalam bentuk tulisan.

Dewi Parwati Setyorini, dari Yayasan Dian Sastro yang mendukung program literasi bagi siswa, menyatakan bangga pada anak-anak yang mau meluangkan waktu untuk menulis.

Meskipun yayasan yang didirikan aktris tenar Dian Sastro itu memilih peduli pada isu-isu perempuan, lembaga itu juga memiliki perhatian besar pada masalah pendidikan.

Dengan mulai menulis, menurut Rini, panggilan akrab Dewi Parwati Setyorini, anak-anak akan terbiasa dan diharapkan akan terus menulis.

"Langkah pertama itu yang paling sulit. Karena sudah dimulai, maka anak-anak tetaplah menulis, ya," katanya, dengan lembut, ketika Zoom meeting bersama ANTARA dan para penulis.

Kepala SD K Oa Van der Stuer Agryana menuturkan bahwa dunia pendidikan sempat dibenturkan dengan masalah pandemi COVID-19 sehingga anak-anak harus belajar secara daring dari rumah.

Kondisi itu menjadi tantangan bagi semua insan pendidikan, dan anak-anak di grup Pena Emas mampu menjawab tantangan tersebut.

Aktivis literasi, Naning Pranoto yang menjadi motor penggerak gerakan literasi siswa ini mengaku bangga melihat banyak siswa yang berminat menulis.

Karena itu, ia bersama Shinta Miranda tidak akan pernah lelah untuk memotivasi anak muda agar terus menulis.

Editor: Achmad Zaenal M