Sungai Kayan meluap warnai Lebaran di Bulungan

Curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan Sungai Kayan meluap sehingga hari kedua Lebaran, Selasa (3/5), diwarnai genangan air di sejumlah jalan dan pemukiman warga Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kaliman Utara.

Luapan sungai terpanjang di Kalimantan Utara itu --640 kilometer-- menyebabkan beberapa kawasan yang selama ini dikenal sebagai daerah "langganan banjir" kembali tergenang, baik jalan umum maupun lokasi pemukiman.

Kawasan yang terendam cukup dalam, antara lain Jalan Semangka (sekitar belakang mako/perum perwira korem), Jalan Imam Bonjol, Jalan Cik Ditiro, Jalan Padat Karya Tanjung Palas Hilir, dan beberapa titik di Jalan Bupati Budiman, Jalan Datu Bandahara, termasuk di halaman SMPN 1 Tanjung Palas.

Kondisi serupa terlihat di jalan samping Masjid Raya Istiqomah Tanjung Selor. Demikian juga jalan di depan masjid, yakni Jalan Kolonel Sutadji terlihat beberapa titik tergenang air.

Genangan di beberapa titik jalan utama dan lokasi pemukiman cukup menghambat aktivitas warga dalam merayakan Lebaran hari kedua.

Baca juga: Luapan air Sungai Kayan membanjiri jalan dan permukiman di Bulungan

Luapan air Sungai Kayan juga menghambat aktivitas penyeberangan sungai untuk membawa penumpang dan sepeda motor menggunakan perahu penyeberangan atau "tambangan".

Meskipun ada Jembatan Sungai Kayan yang menghubungkan Tanjung Selor dan Tanjung Palas, namun sebagian warga masih memilih menggunakan jasa perahu "tambangan" karena alasan jarak dan waktu lebih pendek.

"Meskipun jumlah penumpang meningkat tajam hari kedua Lebaran ini namun kita terpaksa membatasi jumlah orang maupun kendaraan yang diangkut, alasan keamanan karena arus sungai deras akibat banjir," kata Udin, salah satu "tukang tambang" (motoris) perahu penyeberangan.

Selain arus sungai deras, alasan lain tukang tambang harus ekstra hati-hati karena saat banjir banyak sampah dari pedalaman memenuhi sungai, yakni ranting dan batang pohon.

"Sampah-sampah dari pedalaman saat banjir itu, yakni batang kayu (ranting dan batang pohon, red.) bisa membahayakan keselamatan pelayaran saat penyeberangan," katanya.

Berdasarkan pengalamannya, gir mesin bisa rusak jika kipas perahu bermotor terhantam batang kayu yang terbawa air banjir itu.

"Biaya perbaikan lumayan karena bisa mencapai jutaan rupiah," kata dia.

Baca juga: Banjir Sungai Kayan telan korban, perahu terbalik di Antutan
Baca juga: Banjir jadi "obyek wisata dadakan" di Bulungan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel