Sungai Suci Gangga Kini Jadi Kuburan Korban COVID-19

·Bacaan 5 menit

Sungai tersuci di India, Gangga, dipenuhi dengan ratusan mayat manusia dalam beberapa hari terakhir - baik mengapung di sungai atau terkubur pasir di tepiannya.

Masyarakat yang hidup dekat sungai dan menggunakan air itu untuk keperluan sehari-hari di negara bagian utara Uttar Pradesh khawatir mayat-mayat itu adalah korban Covid-19.

India telah kewalahan menghadapi gelombang kedua pandemi Covid-19 yang menghancurkan dalam beberapa pekan terakhir.

Tercatat, terdapat lebih dari 25 juta kasus dan 275.000 kematian - walaupun para ahli mengatakan jumlah kematian sebenarnya beberapa kali lebih tinggi.

Mayat-mayat di tepi sungai tersuci di India itu menceritakan kisah tentang korban tewas yang tidak terlihat dan tidak diketahui dalam data resmi.

BBC mewawancarai wartawan lokal, pejabat, dan saksi mata setempat di beberapa distrik yang terkena dampak paling parah di Uttar Pradesh.

Hasilnya, ditemukan cerita di balik ratusan mayat yang mengapung itu mulai dari kepercayaan tradisional, kemiskinan, dan pandemi yang menewaskan orang dengan kecepatan kilat.

Dasar sungai penuh kuburan

Kengerian di Uttar Pradesh itu pertama kali terungkap pada 10 Mei lalu ketika 71 mayat terdampar di tepi sungai desa Chausa Bihar, dekat perbatasan negara bagian.

Peta yang menunjukkan lokasi Chausa dan Guhmar di India Utara.
Peta yang menunjukkan lokasi Chausa dan Guhmar di India Utara.

Neeraj Kumar Singh, inspektur polisi Buxar di Chausa mengatakan kepada BBC, autopsi dilakukan pada sebagian besar mayat yang membusuk, sampel DNA diambil, dan mayat dikuburkan di liang dekat tepi sungai.

Petugas mengatakan beberapa jenazah mungkin berasal dari kremasi rutin yang dilakukan di tepi Sungai Gangga, tetapi ada juga dugaan lain bahwa mayat tersebut telah dibuang ke sungai. Polisi pun memasang jaring di atas air untuk menangkap lebih banyak lagi.

Sehari kemudian, berjarak 10 kilometer dari Chausa, puluhan mayat yang sudah membusuk ditemukan berserakan di tepi sungai di desa Gahmar, Distrik Ghazipur, Uttar Pradesh, dengan anjing liar dan burung gagak "berpesta" di atasnya.

Sungai Gangga, India, Covid
Ratusan mayat ditemukan mengapung di sungai atau terkubur di pasir tepiannya.

Penduduk setempat mengatakan, mayat-mayat itu telah terdampar di tanggul selama beberapa hari, tetapi pihak berwenang telah mengabaikan keluhan mereka tentang bau busuk yang ditimbulkan sampai berita tentang mayat itu menjadi berita utama.

Puluhan tubuh yang bengkak dan busuk mengambang di sungai itu ditemukan warga desa di distrik tetangga Ballia ketika akan berendam pagi di sungai paling suci di India itu. Surat kabar Hindustan melaporkan bahwa polisi menemukan 62 mayat.

Di Kannauj, Kanpur, Unnao, dan Prayagraj, dasar sungai dipenuhi dengan kuburan yang dangkal. Video yang dikirim ke BBC dari tanggul Mehndi ghat di Kannauj menunjukkan sejumlah gundukan yang panjangnya seukuran tubuh manusia.

Banyak yang terlihat seperti benjolan di dasar sungai, masing-masing berisi tubuh manusia. Di dekat Mahadevi Ghat, setidaknya 50 mayat ditemukan.

Perbedaan `masif` dalam jumlah korban tewas

Secara tradisional, umat Hindu mengkremasi jenazah sesama umat yang wafat. Tetapi banyak komunitas mengikuti apa yang dikenal sebagai "Jal Pravah" - praktik melarungkan mayat di sungai seperti anak-anak, gadis yang tidak menikah, atau mereka yang meninggal karena penyakit menular atau gigitan ular.

Banyak orang miskin juga tidak mampu membayar kremasi, sehingga mereka membungkus jenazah dengan kain kasa putih dan mendorongnya ke dalam air.

Ada jenazah diikat dengan batu untuk memastikan mereka tetap terendam, tetapi banyak juga yang terapung tanpa beban. Di waktu normal saja, mayat yang mengapung di Sungai Gangga bukan pemandangan biasa.

Sungai Gangga, India, Covid
Tumpukan kayu pemakaman terlihat di sepanjang tepi Sungai Gangga di Garhmukteshwar, Uttar Pradesh.

Yang jarang terjadi adalah begitu banyak mayat bermunculan dalam waktu sesingkat itu, dan berada di banyak tempat di sepanjang tepi sungai. Seorang jurnalis di Kanpur mengatakan kepada BBC bahwa mayat-mayat itu adalah bukti dari "perbedaan besar antara angka kematian resmi Covid-19 dan angka sebenarnya di lapangan".

Dia mengatakan secara resmi 196 orang telah meninggal akibat virus di Kanpur antara 16 April dan 5 Mei, tetapi data dari tujuh krematorium menunjukkan hampir 8.000 kremasi.

"Semua krematorium listrik beroperasi 24/7 pada bulan April. Itu pun belum cukup, sehingga pemerintah mengizinkan pekarangan luar digunakan untuk kremasi dengan menggunakan kayu," katanya.

"Tetapi mereka hanya menerima jenazah yang datang dari rumah sakit dengan sertifikat Covid-19, dan sejumlah besar orang meninggal di rumah, tanpa menjalani tes apa pun. Keluarga mereka membawa jenazah ke pinggiran kota atau ke distrik tetangga seperti Unnao. Ketika mereka tidak dapat menemukan kayu atau tempat kremasi, mereka hanya menguburnya di dasar sungai. "

Seorang jurnalis di Prayagraj meyakini banyak jenazah itu adalah pasien Covid yang meninggal di rumah tanpa tes, atau orang miskin yang tidak mampu membayar kremasi.

"Ini memilukan," katanya. "Semua orang ini adalah putra, putri, saudara laki-laki, ayah, dan ibu seseorang. Mereka pantas dihormati dalam kematian. Tetapi mereka bahkan belum menjadi bagian dari statistik - mereka meninggal tanpa diketahui dan dikuburkan tanpa diketahui."

Penguburan dari jam 7 pagi sampai 11 malam

Penemuan kuburan dan mayat yang membusuk, serta ketakutan akan terinfeksi virus corona, telah mengirimkan gelombang kejut ke desa-desa di sepanjang tepian sungai.

Berasal dari Himalaya, Gangga adalah salah satu sungai terbesar di dunia. Umat Hindu menganggapnya sakral dan percaya bahwa mandi di Sungai Gangga akan membersihkan dosa-dosa mereka dan menggunakan airnya untuk ritual keagamaan.

Di Kannauj, Jagmohan Tiwari, seorang warga desa berusia 63 tahun mengatakan kepada saluran lokal bahwa dia telah melihat "150-200 kuburan" di dasar sungai. "Penguburan berlangsung dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam," katanya. "Itu menghancurkan jiwa."

Penemuan kuburan tersebut telah memicu kepanikan di daerah tersebut. Orang-orang khawatir jenazah yang terkubur di dasar sungai akan mulai mengapung begitu hujan turun dan permukaan air naik.

Rabu lalu, pemerintah negara bagian melarang "Jal Pravah" dan menawarkan bantuan dana kepada keluarga miskin yang tidak mampu membayar kremasi.

Di banyak tempat, polisi menarik mayat keluar dari sungai dengan tongkat dan merekrut tukang perahu untuk membawa mereka ke darat. Kemudian, jenazah yang membusuk dikubur di dalam lubang atau dibakar di atas kayu bakar.

Vipin Tada, inspektur polisi di Ballia, mengatakan tengah berkomunikasi dengan pemimpin dewan desa untuk membuat mereka sadar bahwa jenazah tidak boleh diapungkan di sungai dan bagi yang tidak mampu membayar kremasi dapat mencari bantuan keuangan.

Hakim Distrik Ghazipur Mangala Prasad Singh mengatakan kepada BBC bahwa tim sedang berpatroli di tanggul dan tempat kremasi untuk menghentikan orang membuang mayat ke dalam air atau menguburnya.

Namun timnya masih menemukan satu atau dua mayat di sungai setiap hari.

"Kami telah melakukan upacara keagamaan terakhir mereka, sesuai ritual," katanya.