Suntik vitamin C untuk kosmetik, kenapa tidak aman dan manfaatnya hanya mitos?

suntik vitamin C
Ilustrasi suntik vitamin C

Layanan injeksi vitamin C dengan jarum suntik bebas diperjual-belikan melalui internet, klinik kecantikan, bahkan beberapa klinik menawarkan jasa layanan di rumah dengan mendatangi konsumen.

Tarif jasa injeksi vitamin C ini beragam, Rp100.000-300.000 untuk satu kali suntikan dengan dosis 1000-4000 miligram. Mereka menjual “janji palsu dan mitos” bahwa injeksi vitamin C kulitnya dapat membuat awet muda, antikeriput, dan jadi lebih putih. Perempuan merupakan sasaran dari pemasaran injeksi vitamin ini.

Padahal, tidak ada bukti klinis yang menunjukkan bahwa injeksi vitamin C yang digunakan secara tunggal atau dikombinasikan dengan gluthathion (bahan antioksidan) dan kolagen dapat meningkatkan elastisitas kulit (antipenuaan dan antikeriput) dan juga memutihkan kulit.

Pada September 2022, Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM) menemukan 11 produk injeksi vitamin C ilegal dengan klaim mencerahkan dan memutihkan kulit.

Vitamin C via oral versus suntik

Agar tidak mudah tertipu dengan janji klinik kecantikan, kita perlu memahami apa itu vitamin C dan bagaimana vitamin ini bekerja untuk tubuh kita.

Vitamin C (asam askorbat) merupakan jenis vitamin larut air yang dibutuhkan dalam tubuh. Kebutuhan dosis vitamin C sebagai suplemen makanan adalah 50-200 miligram per hari untuk dewasa dan 35-100 mg per hari untuk anak-anak.

Karena sifatnya yang larut dalam air, kelebihan asupan vitamuin C tidak akan disimpan dalam tubuh, melainkan langsung dibuang melalui ginjal.

Vitamin ini tidak dapat diproduksi dalam tubuh, namun harus dipenuhi dari asupan makanan seperti buah jeruk, kiwi, mangga, pepaya, semangka, dan suplemen. Suplemen vitamin C banyak dijual untuk memenuhi kebutuhan vitamin C harian atau mengatasi kekurangan vitamin C.

Jika vitamin C tidak memungkinkan digunakan secara oral atau diminum seperti kondisi sulit menelan, mual atau tidak sadarkan diri, vitamin C dapat diberikan secara parenteral (pemberian dengan merobek jaringan melalui jarum suntik).

Vitamin C dalam bentuk tablet yang diminum merupakan golongan obat bebas, sedangkan rute parenteral merupakan obat keras. Obat bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Sedangkan obat keras adalah obat yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter.

Ciri obat keras adalah terdapat lingkaran bulat merah dengan garis tepi berwarna hitam, dengan huruf K di tengah yang menyentuh garis tepi pada kemasan. Obat ini hanya boleh dijual di apotek dan harus dengan resep dokter pada saat membelinya.

Vitamin C untuk kecantikan

Vitamin C sudah digunakan cukup lama sebagai kosmetik dengan penggunaan secara oral dan melalui permukaan kulit.

Vitamin C merupakan salah satu faktor penyerta yang berfungsi untuk meningkatkan kecepatan reaksi kimia enzim proline dan pembentukan lysine hydroxylase untuk menstabilisasi struktur dari kolagen, protein alami untuk mengencangkan kulit.

Vitamin C juga membantu dalam ekspresi gen pembentuk kolagen. Kolagen merupakan komponen kulit yang berperan dalam memperkuat struktur kulit.

Dengan peningkatan konsentrasi kolagen di kulit, maka kulit menjadi bebas dari kerutan dan terlihat lebih kencang. Selain itu, vitamin C memiliki aktivitas antioksidan yang berfungsi untuk menangkal oksidan akibat paparan UV yang memicu proses penuaan pada kulit.

Vitamin C juga menunjukkan aktivitas untuk menurunkan sintesis melanin. Melanin merupakan zat yang memberikan warna pada kulit. Jumlah melanin dalam tubuh dipengaruhi oleh genetik dan faktor lain, seperti paparan sinar UV.

Masalahnya, saat ini banyak masyarakat menggunakan vitamin C sebagai kosmetik dengan pemberian secara suntik. Padahal pada hakikatnya vitamin C injeksi hanya untuk pengobatan kekurangan vitamin C, dengan resep dokter dan harus di bawah pengawasan tenaga kesehatan .

Selain klinik kecantikan, ada juga tenaga keperawatan yang membuka jasa suntik vitamin C tanpa pengawasan dokter dan terbukti melanggar kompetensi dasar perawat.

Popularitas injeksi vitamin C untuk mendukung penampilan juga salah satunya karena dipromosikan oleh selebriti atau beauty influencer.

Kosmetik merupakan bahan yang digunakan pada bagian luar tubuh manusia seperti epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian luar atau gigi dan membran mukosa mulut. Kosmetik untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan, atau memperbaiki bau badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik.

Dari pengertian kosmetik, injeksi vitamin C ini jelas tidak memenuhi kriteria sebagai kosmetik karena penggunaannya dengan merobek jaringan untuk bagian dalam tubuh.

Dampak buruk injeksi

Dosis vitamin C yang diinjeksi, 1000-4000 miligram sekali suntik, melebihi kebutuhan harian tubuh sebagai suplemen sehingga akan memperberat kerja ginjal. Injeksi vitamin C dosis tinggi dapat meningkatkan risiko timbulnya batu ginjal.

Efek samping dari injeksi vitamin C juga dapat diakibatkan oleh proses pengaplikasian injeksi jika tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan, seperti pembengkakan atau infeksi.

Kita, terutama kaum perempuan, yang menginginkan penampilan menarik, harus lebih kritis. Salah satunya, ceklah nomor izin edar dari Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM) pada kosmetik yang digunakan. Nomor izin edar ini merupakan salah satu usaha yang dilakukan pemerintah untuk penjaminan mutu produk.

Selain itu, pahami betul bahwa setiap produk memiliki rasio manfaat dan risiko, sehingga penggunaannya perlu sesuai dengan indikasi pada produk.

Tak perlu injeksi vitamin C

Penggunaan vitamin C untuk tujuan kosmetik sebaiknya digunakan secara oral atau melalui permukaan kulit. Produk yang digunakan harus memiliki izin BPOM. Dalam penggunaannya, konsumen perlu melihat indikasi atau petunjuk penggunaan.

Untuk tujuan mendukung kesehatan, kekurangan asupan vitamin C ditandai dengan kelelahan dan gangguan pada proses penyembuhan luka. Kekurangan vitamin C yang cukup parah dikenal dengan istilah scurvy, yang mempengaruhi pembentukan kolagen, penyerapan zat besi, pertumbuhan tulang tidak merata dan adanya struktur kulit dengan warna yang tidak merata.

Deteksi kekurangan vitamin C dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan memeriksa keadaan fisik, uji kadar pada darah dan pada anak dapat dilakukan x-ray pada tulang.

Untuk penanganan kekurangan vitamin C dapat dilakukan dengan konsumsi suplemen vitamin C dosis tinggi, yang diikuti dengan asupan nutrisi yang mengandung vitamin C seperti buah dan sayur. Gejala kekurangan ini biasanya berkurang setelah pengobatan 1-2 minggu.

Jadi, jangan mudah percaya dengan pemasaran suntik vitamin C, karena layanan itu justru membahayakan kesehatan Anda.