Suporter Persib dan Persija Berulah, Menpora Bongkar Nasib Liga 1

Robbi Yanto
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pendukung Persija Jakarta tumpah ruah di sejumlah jalanan Jakarta untuk euforia juara tim kesayangan di Piala Menpora.

Macan Kemayoran berhasil mengalahkan Persib Bandung 2-1 pada leg kedua final di Stadion Manahan, Solo, Minggu 25 April 2021.

Hasil ini membuat Tim Macan Kemayoran unggul agregrat 4-1 usai menang 2-0 pada final leg pertama.

Sementara sebagian pendukung Persib Bandung menumpahkan kekecewaannya. Mereka merusak kantor PT Persib Bandung dan melakukan aksi tidak pantas dengan melakukan sweeping terhadap kendaraan plat B.

Jika mengingat ke belakang, ide penyelenggaran Piala Menpora adalah sebagai ajang ujian apakah bisa lolos untuk menggelar Liga 1 dan Liga 2.

Kelancaran gelaran ini akan menjadi bahan penilaian Polri untuk memberikan izin bergulirnya Liga 1 dan Liga musim 2021/2022.

Lantas bagaimana nasib Liga 1? Jika turnamen pramusim saja akibatnya seperti ini, tentu ketika kompetisi resmi dijalankan bakal ada risiko yang lebih besar.

Menpora Zaidunin Amali mengatakan, pihaknya menyerahkan penanganan pelanggaran yan dilakukan suporter Persija dan Persib kepada pihak kepoliisian.

Untuk peluang kompetisi, Amali menyebut masih optimistis. Sebab, aksi suporter itu terjadi setelah gelaran Piala Menpora ditutup.

"Kita harus pisahkan antara selama turnamen dan apa yang terjadi di luarnya. Bagi saya apa yang sudah dilaksanakan PSSI itu menggambarkan bahwa kita bisa melakukan seperti yang saya sampaikan turnamen ini ujian, dan kita bisa melakukan itu dengan aman," kata Amali.

"Sehingga kalau itu menjadi ukuran pelaksaan saya kira itu tidak ada masalah. Jangan dicampur setelah selesai. Tapi, ini menjadi pelajran bagi penyelenggara buat PSSI dan tentu buat kita semua supaya apa yang sudah bagus di Piala Menpora ini bisa kita pertahankan dan apa yang menjadi kekurangan kita perbaiki," jelasnya.

Amali menambahkan, edukasi suporter selama ini memang menjadi tugas penting seluruh stakeholder sepakbola.

Dia berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga. "Memang sekali lagi urusan suporter ini kita berusaha mengedukasi tapi karena ini menyangkut orang banyak menjadi sulit," jelasnya