Surabaya Segera PTM Terbatas, Begini Saran Epidemiolog Unair

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Surabaya - Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Windhu Purnomo angkat bicara terkait rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

Menurutnya, Pemkot Surabaya harus melakukan asesmen terhadap semua aspek. Terutama yang paling penting terkait asesmen risiko di masyarakat. Ia mencontohkan, berdasar asesmen paling utama yaitu terkait positivity rate memang tampak sudah sangat menurun dibandingkan sebelumnya.

“Indikator utama adalah positifitas, kalau belum di bawah 10 persen sangat berisiko buat anak itu, bagi guru, bahkan bagi keluarga dari murid ini. Sekarang kalau lihat data, Surabaya sudah bagus, tapi masih di atas 13,74 persen. Kalau saya mending ditunda dulu,” ujarnya, Selasa (31/8/2021).

Apabila memang nekat dibuka, lanjut Windhu, maka asesmen ini harus dilakukan ketat. Misal, kesiapan sekolah menggelar PTM dengan protokol kesehatan, lalu kesehatan tenaga pendidik dan keluarga di rumah, Jika guru atau keluarga memiliki komorbid, maka siswa diminta untuk tidak mengikuti PTM, termasuk guru yang berusia di atas 60 tahun dan memiliki komorbid.

"Tak kalah penting, risiko perjalanan dari rumah ke sekolah dan sebaliknya. Sebab, perjalanan siswa ini penuh risiko jika tidak terpantau," ucapnya.

Windhu kembali mencontohkan, misal ada anak yang menggunakan kendaraan umum ketika berangkat ke sekolah. Karena kondisi kendaraan umum yang tidak mungkin ada penerapan protokol kesehatan membuat anak-anak rawan terpapar jika ada satu orang pembawa virus. Apalagi, dengan varian baru membuat anak-anak mudah terpapar.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Harus Sudah Vaksin

“Yang sulit itu di luar sekolah karena kalau keluar dari rumah ke sekolah kan ada perjalanan. Kalau bisa dipastikan anak itu langsung datang ke sekolah, begitu juga saat pulang, gak masalah. Itu pun harus diperhatikan. Kalau naik kendaraan umum berisiko karena gak bisa dikendalikan siapa yang mengawasi murid, Kalau di sekolah bisa dikendalikan,” jelasnya.

Belum lagi, lanjut Windhu, kalau dalam perjalanan anak-anak ini masih mampir untuk nongkrong dan sebagainya bisa menjadi berbahaya. Sehingga, skema antar jemput menjadi solusi.

Kemudian yang harus diperhatikan lainnya adalah seluruh siswa dan tenaga pendidik harus sudah menerima vaksinasi dua dosis. “Ya harus kan, ini buat proteksi,” ujarnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel