Surabaya Termasuk Kota dengan Toleransi Tinggi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Hari Toleransi Internasional diperingati setiap 16 November. Peringatan Hari Toleransi Internasional ini untuk mendidik masyarakat tentang isu dan masalah perbedaan yang ada di tengah kehidupan sosial.

Peringatan Hari Toleransi Internasional ini dideklarasikan oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Negara-negara anggota UNESCO menerapkan sebuah deklarasi prinsip-prinsip toleransi pada 16 November 1995. Pada 1996, Majelis Umum PBB mengundang negara-negara anggota PBB untuk memperingati Hari Toleransi Internasional setiap 16 November.

Harapan ada Hari Toleransi Internasional untuk menciptakan kesadaran tentang toleransi, yaitu bentuk saling menghormati antar budaya, kepercayaan, etnis, serta juga memahami risiko-risiko yang ditimbulkan jika ada bentuk intoleran yang lahir di tengah masyarakat.

Khususnya di Indonesia, yang terdiri dari berbagai suku, ras maupun agama, berbagai budaya, menerapkan nilai-nilai toleransi sangat penting, dan diajarkan sejak dini kepada anak.

Berdasarkan data dari laman dpm-ptsp.surabaya.go.id, jumlah penduduk yang tinggal di Surabaya mencapai sekitar 3.052.020 orang pada 2017. Meski di Surabaya, Suku Jawa (83,68 persen) adalah mayoritas, tetapi terdapat pula warganya yang berasal dari berbagai suku bangsa, mulai dari suku Madura (7,5 persen), Tionghoa (7,25 persen), dan Arab (2,04 persen).

Sebagai pusat pendidikan di Jawa Timur, Surabaya pun menjadi tempat tinggal para mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, bahkan mereka juga membentuk wadah komunitas asal mereka.

Sebagai pusat kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia dan pusat perekonomian di Jawa Timur, berdampak pada banyaknya warga asing yang datang dan tinggal di daerah Surabaya,mulai dari etnis Tionghoa, Arab, Korea, dan Jepang.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Laporan Setara Sebut Surabaya Masuk Kota dengan Toleransi Tinggi

Jalan MERR IIC Surabaya, Jawa Timur. (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Jalan MERR IIC Surabaya, Jawa Timur. (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Bahkan, berdasarkan laporan dari setara-institute.org dalam indeks kota toleransi yang dirilis 2018, mencantumkan Surabaya sebagai salah satu dari sepuluh kota yang angka toleransinya tinggi. Kota Pahlawan berhasil menduduki peringkat ke-10 dengan torehan poin 5.823.

Yang menjadi patokan untuk memberikan gelar kota toleran dalam studi indexing tersebut adalah kota yang memiliki beberapa atribut seperti pemerintah kota tersebut memiliki regulasi yang kondusif bagi praktik dan promosi toleransi, pernyataan dan tindakan aparatur pemerintah kota tersebut kondusif bagi praktik dan promosi toleransi.

Kemudian, kota tersebut tingkat peristiwa dan tindakan pelanggaran kebebasan beragama rendah atau bahkan tidak ada sama sekali, dan yang terakhir kota tersebut menunjukkan upaya yang cukup dalam tata kelola keberagaman identitas keagamaan warganya.

Kota Pahlawan juga merupakan salah satu kota yang menjadi pusat penyebaran Agama Islam paling awal di Pulau Jawa. Selain Islam (85,1 persen), agama lain yang dianut sebagian penduduk adalah Kristen (9,1 persen), Katolik (4,0 persen), Hindu (0,3 persen) dan Buddha (1,5 persen). Walaupun Islam merupakan mayoritas di Surabaya, kerukunan antar umat beragama untuk saling menghormati, menghargai, dan saling bekerjasama sangat terjaga.

Salah satu wujud toleransi yang ada di Surabaya, ialah dengan ada rumah ibadah dari 6 agama yang berbeda berdiri tegak secara berdampingan. Rumah-rumah ibadah tersebut berlokasi di perumahan Royal Residence Surabaya.

Dalam perumahan elit yang beralamatkan di Jalan Raya Wiyung tersebut berjejer rapi rumah ibadah dari agama yang beragam. Mulai dari Gereja Katolik, Gereja Kristen, Masjid Muhajirin, Vihara, Klenteng, dan Pura.

(Ihsan Risniawan-FIS UNY)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini