Surat dari Dira untuk Presiden Jokowi

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Aceh - Muara aksi penyegelan sejumlah rumah yang dihuni oleh keturunan serta kerabat eks pejuang Darul Islam (DI) di Banda Aceh pada 9 April lalu masih belum diketahui. Sejak surat peringatan ketiga diajukan oleh Kodam Iskandar Muda (IM) selaku pihak yang mengaku sebagai pemilik sah tempat tersebut, sampai saat ini belum terendus adanya ancang-ancang yang lebih serius dari TNI. Sementara para penghuni tempat tersebut masih tinggal di situ.

Sejumlah Kepala Keluarga (KK) masih berada di bawah bayang-bayang aneksasi sambil menunggu kabar lanjutan dari Badan Pertanahan (BPN). Sejak pengajuan pendaftaran sertifikat ditolak, bersama kuasa hukum dari YLBHI-LBH Banda Aceh, warga yang terancam didepak dari tempat itu telah melayangkan permohonan penyelesaian sengketa kepada BPN.

Masalah ini juga diadukan ke Komnas HAM Kantor Perwakilan Aceh pada hari yang sama ketika aksi penyegelan dilakukan oleh pihak Kodam IM pada 9 April lalu. Melalui pesan WhatsApp, Eka Azmiyadi, yang menerima pengaduan warga ke Komnas HAM Kantor Perwakilan Aceh pada hari itu, mengatakan bahwa kasus ini sudah dalam penanganan kendati tidak dijelaskan seperti apa penanganan yang dimaksud.

Staf YLBHI-LBH Banda Aceh, Muhammad Azhari, juga dalam pesan singkatnya, menjawab bahwa dirinya belum menerima perkembangan apa pun dari Komnas HAM Kantor Perwakilan Aceh terkait masalah ini. Sementara itu, Liputan6.com mendapat kiriman foto surat dari seorang gadis kecil yang ditujukan langsung kepada Presiden Joko Widodo.

Surat bertanggal 31 Mei itu berisi unek-unek seorang anak kecil yang tinggal di kompleks perumahan tersebut. Hasil saduran surat tersebut dapat diihat dilihat di bawah ini:

Salinan Surat yang Ditujukan kepada Presiden Joko Widodo

Salinan Surat yang Ditujukan kepada Presiden Joko Widodo (Liputan6.com/Rino Abonita)
Salinan Surat yang Ditujukan kepada Presiden Joko Widodo (Liputan6.com/Rino Abonita)

Assalamualaikum, wr, wb

Teruntuk presiden kami Bapak Joko Widodo Presiden Republik Indonesia. Saya Dira Wattini yang berumur 12 tahun ingin mengadu. Saya tinggal di jalan THM. Daud Beureueh, No. 139, Lampriet, depan asrama PHB seberang jalan Klinik Cempaka Lima, Banda Aceh. Dari saya dilahirkan di sini hingga saat ini, hidup saya tentram, aman, dan nyaman.

Namun, tiba-tiba, datanglah Bapak TNI ingin mengambil rumah saya satu-satunya tempat saya bertahan hidup. Mereka para bapak TNI datang ke rumah saya dengan suara tingginya, marah-marah kepada orang tua saya. Mereka berkata rumah saya adalah milik mereka. Kedai depan rumah saya disegel, rumah saya menjadi 'X' menggunakan cat. Saya tidak punya tempat tinggal selain di sini. Orang tua saya tidak memiliki uang yang cukup, tidak mampu menyewa apalagi membeli rumah baru. Sekolah sudah hampir dimulai tapi saya tidak punya tempat tinggal.

Menurut saya mendengar percakapan orang tua saya, perumahan ini milik DI (Darul Islam) yang diberikan oleh pemerintah dengan nama asrama Dewan Revolusi bukan asrama TNI. Kami tinggal semua dari keturunan DI. Ada yang tinggal semenjak tahun 1962 hingga sekarang. Para bapak TNI terus berdatangan ramai-ramai, membuat saya grogi dan takut. Saya merasa sedih dan tertekan saat mereka sangat menginginkan mengambil rumah saya dan membentak orang tua saya.

Saya tidak mau diusir dari rumah saya oleh Bapak TNI. Jika saya diusir, di mana saya akan tinggal? Dan, bagaimana cara saya bertahan hidup serta sekolah? Jika saya sekeluarga saya diusir, kami akan mati kelaparan yang tidak memiliki rumah. Saya sangat takut dan sedih. Perjalanan hidup saya masih panjang, kakak-abang saya belum satu pun yang lulus sekolah. Kami masih bergantung pada orang tua kami namun orang tua kami juga tak memiliki uang.

Saya sangat memohon kepada Bapak Presiden kami, Pak Joko Widodo, tolong bantu kami, di sini saya tertekan dan mengadu dengan penuh kemohonan serta keadilan. Saya masih ingin hidup seperti biasa. Saya tidak mau diusir, hidup saya dalam kesusahan berat. Teruntuk Presiden, saya mohon kabulilah permintaan saya yang tak berdaya ini. Ke mana saya harus pergi. Saya sangat takut. Saya mohon tolonglah saya dan keluarga saya. Saya tak mau lagi melihat orang tua saya dibentak/dimarahi bapak TNI terus-menerus. Jadi saya mohon & terima kasih.

Sekian

Salam dari Dira Wattini, sehat selalu untuk Pak Presiden.

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel