Suriah Rayakan Sudah Setengah Abad Kekuasaan Dinasti Assad

Ezra Sihite, DW Indonesia
·Bacaan 4 menit

Pada Jumat, 13 November 1970, seorang perwira muda angkatan udara Suriah melancarkan kudeta tidak berdarah di Damaskus, dan merebut kekuasaan dari Presiden Nazim al-Qudsi dalam tempo singkat.

Pemberontakan Hafez Assad merupakan kudeta militer pertama sejak kemerdekaan dari Prancis pada 1946, dan saat itu diyakini akan disusul oleh kudeta-kudeta lain. Namun separuh abad kemudian, dinasti Assad masih berkuasa di Suriah.

Saat ini negeri itu luluh lantak oleh perang saudara selama satu dekade yang menewaskan setengah juta manusia, memaksa separuh populasi mengungsi dan menghancurkan ekonomi. Namun meski wilayah yang dikuasai pemerintah menyusut, kekuasaan Bashar Assad, putra kedua Hafez, justru semakin menguat.

Serupa seperti keluarga Castro di Kuba atau dinasti Kim di Korea Utara, klan Assad mencengkeram Suriah layaknya sebuah monarki absolut.

Masa jabatan Bashar yang separuhnya dihabiskan memerangi pemberontakan, berbeda dengan sang ayah dalam beberapa hal: Dia bergantung kepada sekutu luar seperti Iran dan Rusia ketimbang menggelorakan nasionalisme Arab. Bashar juga membangun kleptokrasi kroni ketimbang menanamkan sosialisme seperti Hafez. Meski demikian, keduanya menggunakan cara yang sama, yakni kebijakan represif, tanpa kompromi dan berdarah.

“Tidak diragukan bahwa 50 tahun kekuasaan keluarga Assad yang kejam dan tanpa ampun, membuat Suriah menjadi negeri yang hancur, gagal dan hampir dilupakan,” kata Neil Quilliam, peneliti Afrika Utara dan Timur Tengah di Chatham House.

“Kejam tapi cemerlang”

Setelah kudeta 1970, Hafez Assad mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan menempatkan anggota sekte Syiah Alawi di posisi kunci pemerintahan.

Kekuasaannya bersifat absolut. Mukhabarat atau polisi rahasia yang berkeliaran dengan menenteng pistol sembari mengendarai sedan Peugeot berwarna putih pucat memastikan warga mematuhi ketertiban dan meredam setiap jentik pemberontakan.

Hafez menjadikan Suriah sebagai salah satu kekuatan regional di Timur Tengah. Dia dihormati lantaran bersikeras menolak damai di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, dan membuat Amerika Serikat frustrasi oleh kelihaiannya menegosiasikan tambahan wilayah teritorial sebagai ganti rugi atas gencatan senjata.

Dalam perang Irak-Iran pada 1981, dia membelot dengan memihak Teheran, ketika dunia Arab bersatu mendukung Saddam Hussein. Keputusannya itu membuka poros politik yang kelak menyelamatkan kekuasaan anaknya. Selaras dengan itu, Hafez juga menyatakan dukungan terbuka terhadap invasi AS ke Kuwait buat mengusir militer Irak.

“Dia kejam, tapi pria berotak cemerlang yang pernah meratakan satu desa dengan tanah sebagai pelajaran bagi musuh-musuhnya,” tulis bekas Presiden AS, Bill Clinton, ketika mengenang sejumlah perjumpaannya dengan Assad dalam biografinya, “Hidupku".

Clinton merujuk pada pembantaian di Hama pada 1982, ketika pasukan pemerintah membunuh ribuan warga sipil untuk meredam pemberontakan Ikhwanul Muslimin. Peristiwa itu mewariskan dendam yang ikut membakar perlawanan terhadap Bashar Assad berpuluh tahun kemudian.

“Salah satu elemen kunci dalam kemampuan rezim Assad bertahan di kekuasaan adalah dengan tidak berkompromi dalam isu domestik, memanfaatkan pergeseran geopolitik di kawasan dan global, serta menunggu musuh bergerak duluan,” kata Sam Dagher, penulis buku “Assad atau Kami Bakar Negeri ini: Bagaimana Nafsu Kuasa Satu Keluarga Menghancurkan Suriah.”

Tantangan dan Kesempatan

Bashar dielu-elukan sebagai tokoh reformasi dan pembaharu ketika mengisi kursi yang ditinggalkan sang ayah, pada tahun 2000 lalu. Penerimaan yang besar boleh jadi berakar pada latar belakang Bashar yang jauh dari kekuasaan.

Namanya baru mencuat ke daftar atas pewaris tahta ketika putra tertua Hafez, Bassel, tewas dalam kecelakaan mobil pada 1994. Bashar berbanding kontras dengan saudara tuanya itu. Jika Bassel meniti karir militer dan sibuk membantu sang ayah memerintah, adiknya memilih belajar Oftalmologi di London, Inggris.

Di awal masa pemerintahannya, Bashar berusaha menepati reputasinya sebagai pembaru dengan membuka keran kebebasan berpendapat di Suriah. Namun keterbukaan itu tidak berlangsung lama, menyusul perubahan gaya pemerintahan Bashar yang mulai meniru sang ayah.

Dia menentang invasi AS ke Irak pada 2003 karena khawatir dijadikan sasaran selanjutnya. Bashar membiarkan gerilyawan asing memasuki Irak dari wilayah Suriah, dan ikut mengobarkan gelombang pemberontakan terhadap pendudukan AS.

Dia dipaksa mengakhiri intervensi Suriah di Lebanon setelah Damaskus dituduh bersalah mendalangi pembunuhan terhadap bekas Perdana Menteri Rafiq Hariri, meski tetap menjalin kontak dengan Hizbullah.

Serupa ayahnya, Bashar Assad tidak kenal ampun ketika gelombang protes Musim Semi Arab tiba di Damaskus. Namun kebijakan tangan besi yang selama ini berhasil, gagal meredam api yang kemudian menyebar ke seantero negeri, dan mengubah Suriah jadi ladang petualangan militer kekuatan asing seperti Turki, AS dan negara-negara Teluk Persia.

Dia membuka pintu bagi Iran dan Rusia ketika pasukannya mulai menyusut drastis. Kota-kota dibuat rata dengan tanah. Bashar juga dituduh menggunakan senjata kimia terhadap penduduk sendiri dan membabi buta merebut wilayah dari tentara pemberontak. Akibatnya jutaan penduduk melarikan diri ke Eropa atau mendarat di kamp-kamp pengungsi di Yordania dan Turki.

“Selama hidup saya, saya dan warga Suriah pernah mencoblos empat kali untuk satu-satunya presiden di surat suara, Hafez Assad,” kata Zaher Sahloul, warga Suriah yang bermigrasi ke AS. "Saya berharap kampung halaman saya suatu saat bisa merasakan pemilu yang bebas.”

“Warisan kekuasaan Bashar akan melampaui Hafez dan menjadikannya sinonim bagi kekejaman, kehancuran yang disengaja terhadap sebuah negeri besar, dan brutalisasi terhadap bangsa yang indah,” pungkasnya.

rzn/gtp

Artikel ini dibuat secara eksklusif oleh kantor berita Associated Press dan disadur ulang sesuai konteks.