Survei: 1 dari 4 Pekerja Pikir-pikir Hengkang dari Tempat Kerja Setelah Pandemi Berakhir

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Pada 2019, pekerja yang berhenti dari pekerjaan mereka mencapai rekor di Amerika. Di mana, para ahli ketenagakerjaan mengatakan pekerja melakukannya untuk mengamankan kenaikan gaji dan promosi yang tidak mereka dapatkan dari tempat kerja mereka sebelumnya.

Kemudian, mulai Maret 2020, pasar tenaga kerja kehilangan 20,5 juta pekerjaan dalam beberapa minggu pertama di tengah pandemi virus corona.

Sekarang, setahun kemudian, masih ada hampir 7,9 juta lebih sedikit orang Amerika yang dianggap bekerja dibandingkan pada Februari 2020. Sementara angkatan kerja turun menjadi 3,9 juta.

Mengutip dari CNBC, Selasa (27/4/2021), dengan tanda-tanda yang mengarah ke pemulihan di banyak sektor ekonomi, para pekerja tetap kembali merasakan keinginan untuk lepas dari pekerjaan mereka saat ini.

Menurut beberapa perkiraan, 1 dari 4 pekerja berencana untuk mencari peluang dengan pemberi kerja baru setelah ancaman pandemi mereda, menurut survei Prudential Financial's Pulse of the American Worker.

Data yang dikumpulkan Morning Consult atas nama Prudential pada Maret 2021, mencakup sampel 2.000 orang dewasa yang dipekerjakan. Ini termasuk sampel pekerja yang signifikan secara statistik yang sedang atau telah bekerja dari jarak jauh selama pandemi.

Berikut ini sekilas tentang siapa yang berencana pergi dan apa yang harus dipikirkan oleh para pemberi kerja saat mereka berusaha mempertahankan atau merekrut dalam lingkungan pasca-pandemi.

Siapa yang akan pergi dan mengapa

Ilustrasi Foto Bekerja di Kantor (iStockphoto)
Ilustrasi Foto Bekerja di Kantor (iStockphoto)

Dari 26 persen pekerja yang berencana meninggalkan pekerjaan mereka setelah pandemi, 80 persen melakukannya karena mereka mengkhawatirkan kemajuan karir mereka. Sementara itu, 72 persen mengatakan pandemi menyebabkan mereka memikirkan kembali keahlian mereka.

Lebih dari separuh pencari kerja potensial telah mencari pelatihan dan keterampilan baru selama pandemi, kemungkinan dalam rangka untuk bersiap berganti pekerjaan dalam beberapa bulan mendatang.

Pekerja yang sangat ingin berhenti mengatakan bahwa mereka sedang mencari pekerjaan baru dengan lebih banyak fleksibilitas.

Memang, bahkan di antara mereka yang tidak mempertimbangkan untuk berganti pekerjaan, setengah dari orang yang saat ini bekerja dari jarak jauh mengatakan jika perusahaan mereka saat ini tidak terus menawarkan opsi kerja jarak jauh untuk jangka panjang, mereka akan mencari pekerjaan di perusahaan yang melakukannya.

Pangsa orang yang berpikir untuk berhenti dan alasan mereka sebenarnya tidak mengejutkan menurut Derek Avery, seorang peneliti dan profesor psikologi industri/organisasi dari University of Houston.

Dengan demikian, saat tempat kerja mencari cara untuk memperluas pengaturan fleksibel mereka pasca pandemi, dia khawatir tempat kerja dapat memperluas kesenjangan antara orang yang mampu bergerak ke atas dan memiliki fleksibilitas dengan pekerja yang cenderung tidak dapat menggerakkan pemberi kerja untuk mendapatkan keterampilan, uang, status, atau fleksibilitas baru.

"Gagasan melompat kapal untuk mendapatkan penawaran lain dan meningkatkan nilai pasar Anda cenderung bekerja lebih baik untuk anggota kelompok dominan, termasuk pria kulit putih, tetapi kurang (efektif) untuk wanita dan minoritas,” ujar Avery.

Saat ini, orang yang dapat bekerja dari jarak jauh cenderung adalah pekerja berkulit putih, berpendidikan perguruan tinggi, dan sudah berpenghasilan tinggi.

"Jika tempat kerja pasca pandemi mempercepat tren ini, hal itu dapat memperburuk ketimpangan pendapatan yang ada," kata Avery.

Apa yang harus dipikirkan oleh perusahaan

Ilustrasi Foto Bekerja di Kantor (iStockphoto)
Ilustrasi Foto Bekerja di Kantor (iStockphoto)

Bahkan satu orang saja yang mempertimbangkan untuk berhenti dari pekerjaannya akan menimbulkan kekhawatiran bagi "pemimpin manapun" dari sebuah organisasi, kata wakil ketua Prudential Financial, Rob Falzon.

Untuk sesama pemberi kerja, Falzon menunjukkan tiga bidang perhatian yang harus dipikirkan oleh para pemimpin dalam strategi retensi mereka.

Pertama, Falzon mengatakan organisasi harus memikirkan kembali bagaimana mereka mempertahankan budaya perusahaan mereka dan membantu karyawan tetap merasa terhubung meski dari jarak jauh. Perpecahan yang berkembang terutama selama setahun terakhir, dapat "membuat orang lebih terbuka untuk berganti pekerjaan dan menerima panggilan telepon (dari penawar kerja lainnya)," katanya.

Namun, dia memperingatkan agar tidak membawa semua orang kembali ke kantor secara penuh waktu. Survei Prudential menambah suara penelitian yang menunjukkan bahwa para pekerja lebih ingin melanjutkan pengaturan fleksibel mereka bahkan untuk jangka waktu lama setelah risiko pandemi mereda.

Sebagian besar menginginkan model kerja hybrid, dimana mereka dapat membagi waktu antara kantor dan lokasi tempat mereka menjalankan bekerja dari jarak jauh. 68% pekerja percaya bahwa keseimbangan ini adalah model tempat kerja yang "ideal" dan hal ini disetujui oleh Falzon.

Kedua, dia mengatakan pandemi telah meningkatkan kecemasan pekerja bahwa mereka tidak mempelajari keterampilan baru atau melihat ruang untuk maju kecuali mereka meninggalkan perusahaan, sesuatu yang sudah lama mengganggu pekerja tetapi sangat dirasakan terutama pada tahun lalu.

“Salah satu hasil dari pandemi adalah percepatan adopsi teknologi untuk tetap kompetitif, dan oleh karena itu diperlukan keterampilan belajar,” jelas Falzon.

Namun pada tahun lalu, banyak organisasi kurang fokus pada pelatihan keterampilan dan lebih banyak mengalihkan operasi bisnis mereka, serta menyediakan sumber daya darurat bagi pekerja untuk masalah seperti kesehatan mental dan perawatan anak.

Saat perusahaan mempertimbangkan masa depan dari penawaran tunjangan mereka, Falzon mengatakan penting pula untuk mempertimbangkan strategi bagi karyawan untuk dapat meningkatkan keterampilannya, memberikan komunikasi yang jelas akan adanya potensi promosi, dan yang tidak kalah penting dan menjadi perhatian para pekerja: ketahanan finansial.

Dengan pekerja yang lebih mampu mengambil pekerjaan dari mana saja, mereka akan mencari pekerjaan yang bergaji tinggi, memiliki kesempatan untuk belajar dan terus maju, serta memberikan manfaat yang memusatkan keseimbangan kehidupan kerja.

Seperti yang diperingatkan oleh Falzon: "Jika Anda seorang pemberi kerja dan Anda tidak bersikap akomodatif, Anda akan kehilangan bakat."

Reporter: Priscilla Dewi Kirana

Saksikan Video Ini