Survei Ap-NORC: Warga Amerika miliki ketakutan kuat pada infeksi baru

DES MOINES, Iowa (AP) - Kekhawatiran kuat tentang gelombang kedua infeksi corona memperkuat penentangan luas di antara warga Amerika untuk pembukaan kembali tempat-tempat umum, menurut sebuah jajak pendapat baru, bahkan ketika banyak pemimpin negara bagian meningkatkan upaya untuk mengembalikan kehidupan seperti sebelum wabah.

Namun dukungan untuk pembatasan kesehatan masyarakat yang diberlakukan untuk mengendalikan penyebaran virus tidak lagi luar biasa. Ini telah terkikis selama sebulan terakhir oleh perpecahan partisan yang melebar, dengan Demokrat lebih berhati-hati dan Partai Republik lebih santai saat Presiden Donald Trump mendesak negara-negara bagian untuk "membuka negara kita," menurut survei baru dari Associated Press dan Pusat Penelitian Kebiajkan Publik NORC.

Jajak pendapat menemukan bahwa 83% warga Amerika setidaknya agak khawatir bahwa mencabut pembatasan di daerah mereka akan menyebabkan infeksi tambahan, dengan 54% mengatakan mereka sangat khawatir atau ketakutan jika langkah-langkah tersebut akan mengakibatkan lonjakan kasus COVID-19.

“Oh, saya ingin melakukan perawatan rambut dan kuku. Itu salah satu kesenangan kecil yang Anda dapatkan,” kata Kathy Bishop, seorang spesialis penagihan berusia 59 tahun yang menderita pneumonia dua tahun lalu. "Tapi saya hanya akan menahan diri saya. Itu tidak sepadan dengan risikonya. "

Bishop tinggal di pinggiran barat Columbus, Ohio, negara bagian di mana Gubernur Partai Republik Mike DeWine adalah satu diantara sejumlah kepala eksekutif negara bagian yang memimpin pembukaan kembali bisnis secara bertahap seperti salon, tempat pangkas rambut, restoran dan bar.

Tetapi bahkan setelah menghabiskan sembilan minggu di rumah, Bishop adalah salah satu dari mayoritas kuat orang Amerika yang mendukung kriteria ketat untuk pembukaan kembali ekonomi yang melampaui mengenakan masker di tempat-tempat umum dan melanjutkan jarak sosial.

Sekitar 8 dari 10 orang Amerika mengatakan bahwa sangat penting untuk kembali meminta orang-orang melakukan karantina sendiri jika mereka terkena virus. Sekitar 6 dari 10 juga mengatakan memiliki pengujian luas untuk virus corona di daerah mereka sangat penting untuk memulihkan kembali kegiatan publik, bersama dengan mengharuskan orang untuk menjaga jarak 6 kaki (1,8 meter) di sebagian besar tempat dan mengenakan masker wajah ketika mereka berada di dekat orang lain di luar rumah mereka.

Hampir selaras dengan keinginan publik untuk tindakan pencegahan yang ketat: Hampir setengahnya mengatakan bahwa sangat penting untuk memastikan vaksin tersedia sebelum kehidupan publik dilanjutkan. Sepertiga yang lain mengatakan itu penting tetapi bukan yang utama.

Secara keseluruhan, temuan itu menunjukkan bahwa sementara beberapa orang Amerika ingin kehidupan kembali seperti biasa, sebagian besar tidak melihat negara itu kembali normal dalam waktu dekat. Sebagai gantinya, sebagian besar orang Amerika membayangkan masa berlarut-larut berlakunya jarak fisik, wajah tertutup dan karantina berselang di depan, mungkin sampai vaksin tersedia.

Joe Yeskewicz, dari Middleboro, Massachusetts, mengatakan dia yakin vaksin adalah suatu keharusan bagi kotanya yang berpenduduk 23.000 di selatan Boston untuk sepenuhnya dibuka kembali. Dia termasuk di antara hampir 8 dari 10 orang Amerika yang tidak memperkirakan akan ada vaksin sebelum akhir tahun.

“Ini sangat baru, sangat tidak dapat diprediksi dan sangat, sangat menular,” kata pensiunan guru dan profesor perguruan tinggi berusia 76 tahun itu tentang virus tersebut. “Vaksin ini diperkirakan dapat memakan waktu bertahun-tahun karena harus menjalani program pengujian yang kuat agar efektif dan aman. Terlepas dari optimisme, ini akan memakan waktu cukup lama. "

Survei AP-NORC terbaru dilakukan selama akhir pekan lalu, sebelum berita Senin tentang hasil positif dalam uji klinis vaksin potensial. Ditemukan bahwa mayoritas kuat dari sekitar 6 dari 10 warga Amerika mendukung kebijakan yang mengharuskan orang untuk tinggal di rumah mereka kecuali untuk tugas-tugas penting, dengan sekitar sepertiga dari negara ini sangat mendukung pendekatan itu.

Meskipun masih kuat, dukungan untuk langkah-langkah guna mengendalikan virus corona telah menurun dalam sebulan terakhir - 80% mendukung perintah tinggal di rumah

Penurunan itu sebagian besar didorong oleh perubahan sikap di kalangan pendukung Republik, ketika Trump dan beberapa gubernur GOP secara agresif mendesak dan bergerak untuk membuka kembali bisnis dan tempat-tempat umum. Beberapa orang di Wisconsin langsung menuju kedai minum lokal minggu lalu setelah Mahkamah Agung negara bagian yang dikontrol kelompok konservatif itu menguatkan banding legislatif yang dikendalikan GOP terhadap Gubernur Demokrat, Tony Evers, atas perintah tinggal di rumah.

Hanya 45% dari Partai Republik sekarang mengatakan mereka mendukung perintah tinggal di rumah, kelompok yang menentang berjumlah lebih kurang sama. Sebulan yang lalu, 70% dari simpatisan Partai Republik mendukung itu. Di antara simpatisan Demokrat, 78% menyukai perintah tinggal di rumah, turun dari 91% pada bulan April.

Hanya sekitar sepertiga dari Partai Republik mengatakan mereka sangat atau terlalu prihatin tentang kemungkinan infeksi tambahan jika pembatasan dicabut, dibandingkan dengan tiga perempat dari Demokrat.

Peggy Dullum, seorang pendukung Partai Republik berusia 65 tahun dan pensiunan pekerja kesehatan negara bagian dari pinggiran kota Sacramento, California, mengatakan dia pernah mendukung langkah-langkah penguncian ketat untuk mengendalikan virus. Tapi dia sekarang berpikir mereka telah melampaui tujuan mereka.

"Jika mereka telah membuka semua ritel, itu akan menyebar di kegiatan sosial daripada terjebak di beberapa lokasi ritel di mana orang-orang berkerumun tanpa masker," kata Dullum. "Wajibkan semua orang memakai masker, alih-alih msukarela, dan kita mungkin bisa membuat ekonomi terus bergerak dengan tempo yang pasti selama bulan kedua."

Tetapi Yeskewicz, simpatisan independen yang cenderung ke arah Demokrat dari Massachusetts, menolaknya.

"Kami tidak bisa hanya mengembalikan hak istimewa secara sewenang-wenang hanya karena orang-orang begitu putus asa sehingga mereka tidak tahan lagi," kata Yeskewicz. "Ini bukan tentang hak-hak orang yang dilanggar. Mereka mencoba untuk membuatmu tetap hidup, dasar bodoh! ”