Survei: Kasus COVID-19 di Jakarta Didominasi Orang Overweight dan Gula Darah Tinggi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Survei mengenai prevalensi antibodi positif COVID-19 yang disebabkan virus Corona atau SARS CoV-2 di DKI Jakarta, menemukan, hampir separuh penduduk Ibu Kota telah terpapar Corona.

Survei serologi kerjasama antara Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Tim Pandemi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI), Lembaga Eijkman, dan CDC Indonesia secara spesifik mengukur proporsi warga DKI Jakarta yang memiliki antibodi terhadap virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 yang telah menjadi pandemi di seluruh dunia.

Hasilnya, sebagaimana diungkap Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono, jumlah estimasi warga yang terinfeksi COVID-19 sebanyak 4,7 juta dari total penduduk DKI Jakarta yang jumlahnya 10 juta jiwa atau hampir separuhnya.

"Jadi, sistem kita yang terdeteksi hanya sekitar 8,1 persen. Jadi, yang tidak terdeteksi kira-kira lebih, bulatkan, 90 persen," kata Pandu dalam diskusi virtual, Sabtu, 10 Juli 2021 dikutip News Liputan6.com.

Survei serologi dilaksanakan berbasis populasi dengan metode sampling dalam kurun waktu 15 hingga 31 Maret 2021, dan dilakukan di 100 kelurahan di enam wilayah Ibu Kota.

Dari survei tersebut diperoleh sebuah fakta bahwa semakin meningkat indeks massa tubuh (IMT), semakin banyak yang pernah terinfeksi COVID-19 di Jakarta.

Pada bagian 'IMT dan Kadar Gula Darah Tinggi Lebih Berisiko', diketahui bahwa orang dengan overweight dan obesitas mendominasi populasi yang mengalami COVID-19, berikut rinciannya:

1. Kurus ( kurang dari 18,4 kg/m^2) = 33,8 persen

2. Normal atau 18,5 sampai 25,0 kg/m^2 = 42,0 persen

3. Overweight atau 25,1 sampai 27,0 kg/m^2 = 52,9 persen

4. Obesitas atau lebih dari 27,0 kg/m^2 = 51,6 persen

Orang dengan Gula Darah Tinggi Berisiko Mengalami COVID-19

Dan, orang dengan kadar gula darah sewaktu tinggi mengalami hal serupa dalam kaitannya kategori populasi yang berisiko terinfeksi virus Corona penyebab COVID-19.

< 200 mg/dL = 45,9 persen

+200 mg/dL = 53,0 persen.

Di bagian tersebut tertulis bahwa semua indikator yang ditampilkan memiliki relative standard error antara 2,3 sampai 6,9 persen, kecuali prevalensi pada kelompok umur 1 sampai 4 tahun (10,8 persen, Kepulauan Seribu (15,2 persen), dan status gizi kurus (9,3 persen)

Sebaran Wilayah Berdasarkan Survei

Pandu menyatakan bahwa hampir separuh penduduk Ibu Kota yang terpapar Virus Corona penyebab COVID-19 tersebar di wilayah yang merata di enam kota/kabupaten DKI Jakarta.

Wilayah tertinggi terpapar COVID-19 yaitu Jakarta Pusat (53,7 persen) dan terendah di Kepulauan Seribu (39,3 persen). Menurut Pandu, wilayah Jakarta Pusat merupakan daerah dengan banyak perkantoran.

"Ternyata dari hasil studi hampir separuh penduduk Jakarta pernah terinfeksi, itu angkanya 44,5 persen. Artinya bahwa ini cukup besar karena Jakarta memang epicenter dari pandemi dan menjadi kontributor terbesar," katanya.

Dari kondisi tersebut Pandu pun menyimpulkan hal tersebut terjadi disebabkan kurangnya tingkat deteksi kasus positif di Ibu Kota. Meskipun DKI Jakarta telah melakukan tes melebihi standar minimum yang ditetapkan organisasi kesehatan dunia (WHO).

"Kesimpulannya bahwa deteksi kasus COVID-19 di Jakarta itu masih rendah. Kalau kita melihat penduduk Jakarta 10,6 juta prevalensi yang kita temukan pada Maret," kata Pandu.

Infografis Obesitas

Arya Permana, salah satu contoh kasus obesitas yang mengkhawatirkan (liputan6.com/Tri yasni)
Arya Permana, salah satu contoh kasus obesitas yang mengkhawatirkan (liputan6.com/Tri yasni)

Simak Video Berikut Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel