Survei: Kekhawatiran warga Afghanistan pada keamanan dirinya meningkat

Kabul, Afghanistan (AP) - Warga Afghanistan semakin mengkhawatirkan keselamatan pribadi mereka, tetapi sedikit lebih percaya bahwa negara mereka yang lelah berperang bergerak ke arah yang benar, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, menurut survei baru yang dirilis pada Selasa (3/12).

Jajak pendapat Asia Foundation menemukan bahwa 74,5% responden mengatakan mereka selalu, sering atau kadang-kadang mengkhawatirkan akan keselamatan pribadi mereka, meningkat lebih dari 3 poin persentase dibanding pada 2018.

"Meningkatnya optimisme seputar pembicaraan damai bersama dengan kekhawatiran yang terus-menerus tentang ketidakamanan dan ekonomi terus mempengaruhi pandangan Afghanistan," kata Abdullah Ahmadzai, perwakilan negara itu untuk Asia Foundation dalam survei.

Sebanyak 17.812 responden berusia 18 tahun ke atas disurvei secara tatap muka di 34 provinsi dari 11 Juli 2019 hingga 7 Agustus 2019, kata yayasan yang bermarkas di San Francisco itu.

Optimisme tentang arah negara berada pada titik tertinggi pada tahun 2013, sebelum menurun ke level terendah sepanjang masa pada tahun 2016 karena kekhawatiran tentang ekonomi, pemilihan yang sulit dan dampak pengurangan drastis pasukan asing.

Tahun ini, 36,1% responden mengatakan negara ini berada di arah yang benar, naik dari 32,8% pada 2017 dan 2018, sementara 58,2% mengatakan negara ini menuju ke arah yang salah, turun sedikit dari 61,3% pada 2018.

Salah satu pendorong utama dalam optimisme adalah jumlah responden yang mengutip "perdamaian dan akhir perang," meningkat dari 16,4% pada 2018 menjadi 26,3% tahun ini.

Presiden Donald Trump, dalam kunjungan liburan Thanksgiving yang mengejutkan kepada pasukan AS di Afghanistan minggu lalu, mengumumkan bahwa AS dan Taliban telah terlibat dalam pembicaraan damai dan bersikeras bahwa Taliban ingin membuat kesepakatan setelah serangan besar AS dalam beberapa bulan terakhir.

Perjalanan itu terjadi setelah Trump tiba-tiba menghentikan pembicaraan damai dengan Taliban pada September, membatalkan pertemuan rahasia dengan para pemimpin Taliban dan Afghanistan di tempat peristirahatan kepresidenan Camp David setelah serangkaian aksi kekerasan yang mematikan, yang ditutup oleh pemboman di Kabul yang menewaskan 12 orang, termasuk seorang prajurit Amerika.

Itu mengakhiri upaya hampir setahun oleh AS untuk mencapai penyelesaian politik dengan Taliban.