Survei: Mayoritas Masyarakat Tolak Beli BBM & Minyak Goreng Pakai Aplikasi

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah berencana membatasi konsumsi BBM bersubsidi dengan menggunakan aplikasi digital MyPertamina. Nantinya, hanya kendaraan terdaftar yang boleh menikmati jenis bensin yang disubsidi pemerintah. Sayangnya, rencana kebijakan tersebut ditentang masyarakat.

Hasil survei yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan mayoritas responden mengaku tidak setuju jika pembelian BBM jenis Pertalite dan Solar dilakukan menggunakan aplikasi MyPertamina. Tercermin dari hasil survei yang menyatakan 43,6 persen menyatakan tidak sama sekali dan 29,6 persen menyatakan kurang setuju.

"Sekitar 73 persen responden menyatakan tidak setuju menggunakan aplikasi MyPertamina. Jadi ini belum menjadi isu populer di masyarakat," kata Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan saat merilis hasil survei di akun Youtube Lembaga Survei Indonesia LSI-Lembaga, dikutip Rabu, (7/9).

Sementara itu, yang menyatakan setuju dengan rencana pemerintah ini hanya 19,4 persen dan 1,9 persen sangat setuju jika pemerintah menerapkan penggunaan aplikasi MyPertamina untuk membeli BBM subsidi.

Tak hanya pembelian BBM subsidi dengan aplikasi yang ditolak masyarakat, pembelian minyak goreng curah dengan aplikasi PeduliLindungi juga mendapatkan penolakan. Hal ini tercermin dari hasil survei yang menyatakan tidak setuju sama sekali dengan penggunaan aplikasi PeduliLindungi untuk pembelian minyak goreng curah sebanyak 46,2 persen.

Lalu yang menjawab kurang setuju dengan kebijakan tersebut sebanyak 31 persen. "Penggunaan aplikasi PeduliLindungi juga ditentang mayoritas masyarakat. Kebanyakan, lebih dari 77 persen tidak setuju dengan penggunaan aplikasi tersebut," kata Hanan.

Sementara itu, hanya 16,1 persen yang setuju dan 1 persen yang sangat setuju dengan kebijakan pemerintah itu. Sisanya 5,7 persen tidak memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. "Yang setuju hanya 17 persen, jadi ini bukan program yang populer juga," kata Hanan.

Sebagai informasi, survei nasional yang dilakukan LSI ini berlangsung pada 13-21 Agustus 2022 dengan metode multistage random sampling. Survei ini dilakukan kepada 1.220 responden yang sudah berumur 17 tahun atau lebih atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

Adapun tingkat margin of error plus minus 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20 persen dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). [azz]