Survei Membuktikan Sedikit Warga AS yang Khawatir Menyebarkan Misinformasi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta- Hasil survei oleh The Pearson Institute and the Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research menemukan bahwa hanya sedikit warga Amerika Serikat yang sangat khawatir bahwa mereka sendiri bertanggung jawab atas penyebaran misinformasi.

Kira-kira hanya 2 dari 10 warga AS mengatakan terkait hal tersebut. Bahkan, 6 dari 10 warga khawatir bahwa teman atau keluarga mereka telah menjadi bagian dari penyebaran misinformasi.

Survei juga menunjukkan, warga AS bersedia menyalahkan semua orang kecuali diri mereka sendiri karena menyebarkan misinformasi dengan 53 persen dari mereka mengatakan, mereka tidak khawatir bahwa mereka tidak menyebarkan misinformasi.

“Kami sering melihat orang sangat khawatir tentang misinformasi tetapi mereka berpikir bahwa itu sesuatu yang terjadi pada orang lain, orang lain dibodohi olehnya, orang lain menyebarkannya,” ucap profesor psikologi yang mempelajari bagaimana klaim salah tersebar di Universitas Vanderbilt, Lisa Fazio.

Ia menambahkan, kebanyakan orang tidak mengenali peran mereka sendiri dalampenyebaran misinformasi.

Orang dewasa muda lebih cenderung khawatir bahwa mereka menyebarkan informasi bohong. Sebanyak 25 persen dengan usia 18 hingga 29 merupakan kelompok umur yang sangat khawatir dibanding dengan 14 persen dengan kelompok 60 ke atas.

Menurut Fazio, kelompok dewasa tua dengan persentase 63 persen, lebih cenderung membagikan sebuah artikel yang berasal dari situs web yang salah.

Mereka berpikir, perusahaan media sosial dan orang yang menggunakannya, menanggung banyak kesalahan pada situasi ini. Sekitar setengah dari warga AS menyalahkan pemerintah dan sekitar tiga perempat warga menunjuk pengguna media sosial dan perusahaan teknologi.

Bukti nyata terjadi pada keluarga Carmen Speller, mahasiswa pascasarjana di Lexington, Kentucky, yang tidak mempercayai vaksin Covid-19 karena telah melihat misinformasi dari tayangan di TV atau membaca berita dari situs web. Bahkan, Speller sendiri dianggap gila karena memercayai informasi seputar Covid-19 dari pemerintah.

“Saya merasa mereka memercayai bahwa saya yang menerima misinformasi. Saya yangmembabi buta mengikut perkataan pemerintah, itu yang saya dengar kebanyakan,” ucapSpeller, melansir Associated Press, Jumat (10/10/2021).

Melihat hasil survei ini, masyarakat diminta untuk memeriksa kembali informasi yang diterimanya dari media manapun sebelum membagikannya kepada orang lain. Speller telah mencerminkan tindakan tersebut dengan mencari informasi yang kredibel dari institusi kesehatan, jika informasi tersebut seputar kesehatan, khususnya Covid-19.

“Saya cenderung untuk tidak membagikan informasi yang tidak saya temukan di situs resmi ke media sosial. Saya terbuka kepada orang yang menunjukkan bahwa informasi ini salah dan saya akan memeriksa informasi tersebut,” ucap Speller.

Penulis:Amadea Claritta - Universitas Multimedia Nusantara

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel