Survei Nilai Ekonomi Indonesia Buruk, Menteri Bahlil Beri Pembelaan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Hasil Survei Indikator Politik Indonesia menemukan fakta terkait kondisi perekonomian nasional. Sebanyak 44,1 persen responden menilai kondisi ekonomi Indonesia berada dalam keadaan yang tidak ba menyenangkan.

Sementara 36,7 persen menganggap ekonomi nasional buruk dan 7,4 persen menilai kondisi ekonomi sangat buruk.

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia memberi respons hal ini. Dia mengaku sepakat bila ada yang menyebut kondisi ekonomi saat ini sedang tidak baik. Namun bila dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, kondisi Indonesia cukup lebih baik.

"Sebanyak 44,2 persen kinerja ekonomi tidak menggembirakan, kemungkinan itu saya katakan benar. Namun kinerja ekonomi kita dibandingkan negara lain di Asia Tenggara, kita masih cukup lebih baik," kata Bahlil di Jakarta, Minggu (26/9/2021).

Bahlil menjelaskan, pertumbuhan ekonomi nasional sejak kuartal IV-2020 mulai mengalami tren perbaikan dengan tumbuh -2,19 persen (qtq).

Kemudian pada kuartal I-2021 tumbuh 0,74 persen (qtq)dan di kuartal II-2021 tumbuh 3,31 persen (qtq) atau 7,07 persen (yoy).

Hanya saja, tren positif tersebut kemungkinan terhambat karena hantaman gelombang kedua penyebaran virus corona varian delta yang lebih besar jumlah masyarakat yang terinfeksi.

Meski begitu, dibandingkan tahun lalu, dia menilai penurunan ekonomi yang terjadi lebih baik dibandingkan saat pertama kali terjadi pandemi.

"Kita dihantam lagi dengan Covid-19 gelombang kedua. Itu lebih dahsyat dibandingkan gelombang pertama," kata dia.

"Tapi kita bersyukur apa yang terjadi dan dilakukan pemerintah yang bikin berbagai strategi ini alhamdulillah berjalan dan hasilnya seperti yang kita rasakan sekarang. Indonesia berhasil keluar dari zona merah," sambungnya.

Hasil Survei

Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Suasana arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Indikator Politik Indonesia menyampaikan hasil survei terbaru mengenai evaluasi publik terhadap pemulihan ekonomi di Indonesia.

Hasil survei menunjukkan, masih banyak masyarakat menilai kondisi ekonomi nasional masih buruk.

Survei ini dilakukan Indikator Politik Indonesia sejak tanggal 17 sampai 21 September 2021. Sampel survei sebanyak 1.200 responden dipilih secara acak dari kumpulan sampel acak survei tatap muka langsung yang dilakukan pada Maret 2018 hingga Juni 2021.

Dari 1.200 responden, margin of error sekitar kurang lebih 2.9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh provinsi. Survei menggunakan telepon.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel