Survei: Pandemi dan Ramadhan, Kecemasan-Depresi Meningkat di Indonesia

Lutfi Dwi Puji Astuti
·Bacaan 2 menit

VIVA – Bulan Ramadhan adalah bulan yang selalu ditunggu umat Muslim. Ramadhan menjadi momen introspeksi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik, salah satunya menjadi pribadi yang ikhlas.

Tak cuma itu, Ramadhan bahkan menjadi salah satu tantangan, bagaimana kita mengatur keuangan. Terlebih di tengah pandemi COVID-19 dan saat bulan Ramadhan.

Harumi Supit, Head of Corporate Communication OVO pada kesempatan Konferensi Pers Virtual OVO #RaihIkhlas mengungkapkan, untuk mendukung masyarakat, pihaknya pun melakukan survei untuk mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan masyarakat dan tingkat depresei masyarakat di tengah pandemi.

Psikolog, Irma Gustiana pun mengakui, di tengah pandemi ini apalagi berbarengan dengan bulan Ramadhan, banyak persoalan muncul.

“Banyak persoalan bermunculan selama pandemi ini. Bukan hanya masalah kesehatan, ini juga mengubah hampir seluruh lini kehidupan, termasuk perekonomian bahkan psikologis seseorang." kata Psikolog Irma Gustiana A, S.Psi, M.Psi lewat acara Konferensi Pers Virtual OVO #RaihIkhlas dan Survei Perilaku Konsumen saat Ramadhan, Selasa, 13 April 2021.

Dari kecemasan tersebut, dilakukanlah survei. Berdasarkan data Lembaga Penelitian SurveyMeter, pada akhir Mei 2020 tingkat kecemasan dan depresi penduduk Indonesia pada masa pandemi meningkat, 55 persen mengalami gangguan kecemasan dan 58 persen mengalami gangguan depresi.

"Ketidakikhlasan dalam menerima masalah, takdir, atau apa yang ada dalam hidup akan menghalangi kebahagiaan dan menurunkan kualitas hidup, baik fisik maupun mental. Oleh karena itu, berupayalah untuk ikhlas, sabar, dan senantiasa bersyukur,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, diberitahukan juga survei perilaku masyarakat Indonesia terkait pengelolaan keuangan di bulan Ramadhan dan masa pandemi.

Tujuan dilakukannya survei ini adalah ingin mengetahui perilaku masyarakat Indonesia dalam pengelolaan keuangan di bulan Ramadhan khususnya di masa pandemi. Dan survei tersebut mengungkap beberapa fakta, antara lain:

1. 6 dari 10 orang mengaku sulit mengatur keuangan selama Ramadhan, terlebih karena pandemi dimana kebutuhan cenderung lebih banyak.

2. 52 persen orang menggunakan dana darurat yang ditarik dari tabungan/ investasi guna memenuhi kebutuhan saat Ramadhan.

3. 4 dari 10 orang melenceng jauh dari rencana awal terkait perencanaan keuangan saat Ramadhan.

4. 43 persen orang menggunakan seluruh THR-nya untuk kebutuhan Ramadhan dan Idul Fitri.

5. Hanya 4 dari 10 orang yang menyimpan THR-nya untuk tabungan jangka panjang.

6. 50 persen orang akan tetap memberi THR meskipun tidak dapat bertemu saudara dan kerabat. THR tersebut akan dibagikan melalui transfer.

7. Tidak mendapat THR menjadi kekhawatiran terbanyak yang dipilih responden terkait Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini.

8. Mayoritas responden memilih untuk menyalurkan THR sebagai hadiah untuk orang lain, kebutuhan sehari-hari, ditabung dan berinvestasi.

“Kami memahami tantangan yang begitu besar di bulan Ramadhan dan masa pandemi, dengan adanya kampanye #RaihIkhlas dan hasil survei pengelolaan keuangan ini diharapkan dapat membantu masyarakat Indonesia mengatur kelola keuangan lebih baik dan dapat bersama dapat meraih ikhlas, menerima kondisi ini dan terus bersemangat menjalani Ramadan yang khidmat,” tutup Harumi.

Laporan: Prima Nadya Rahayu