Survei: Pengaruh Diplomatik Indonesia Anjlok Gara-gara COVID-19

Renne R.A Kawilarang, ABC Indonesia
·Bacaan 3 menit

Pengaruh diplomatik Indonesia anjlok sebesar 5,2 persen akibat buruknya penanganan COVID-19, namun mengalami peningkatan reputasi dalam hubungan ekonomi sebesar 0,9 persen.

Demikian hasil survei lembaga pemikir ternama Australia Lowy Institute yang dirilis pekan ini, bertajuk "Asia Power Index 2020", yang mengukur reputasi suatu negara dalam sejumlah indikator.

Asia Power Index terdiri atas delapan tolok ukur tema kekuatan, 30 sub tema, serta 128 indikator.

Lebih dari setengah indikator-indikator ini merupakan hasil riset Lowy sendiri dan selebihnya dikompilasi dari sumber-sumber publikasi nasional dan internasional.

Laporan Lowy yang diterima ABC Indonesia menyebutkan reputasi Indonesia juga mengalami penurunan dalam hal jaringan pertahanan, ketangguhan dan kapabilitas militer.

Sebaliknya, Indonesia meraih poin tertinggi di bidang relasi ekonomi, pengaruh budaya, kapabilitas ekonomi serta sumberdaya masa depan.

"Faktor terbesar yang berkontribusi terhadap menurunnya kekuatan Indonesia di Asia tahun ini yaitu cara mereka menangani COVID-19," jelas Alyssa Leng dari Lowy Institute dan terlibat dalam survei ini.

"[Penanganan COVID-19 Indonesia] terburuk kelima di antara negara-negara kawasan," katanya kepada wartawan ABC Indonesia Farid M. Ibrahim.

Laporan Lowy menyebutkan secara keseluruhan skor Indonesia tahun ini menurun 0,7 persen dibandingkan tahun lalu.

Negara ini termasuk satu dari 18 negara di kawasan yang juga mengalami penurunan reputasi, terutama karena dampak pandemi virus corona.

Disebutkan, Indonesia mendapatkan skor terbaik untuk sumberdaya masa depan, menempati urusan ke-5, namun mendapatkan skor terendah dalam tolok ukur jaringan pertahanan, menempati urutan ke-14.

Menurut Alyssa, cara Indonesia menangani pandemi tidak disukai oleh para responden yang disurvei, yang terdiri dari kalangan diplomat, pengambil kebijakan, analis serta pakar kesehatan.

"Para pakar ini juga berpandangan bahwa reputasi internasional Indonesia semakin memburuk akibat cara penanganan virus," katanya.

"Selain itu mereka juga berpandangan bahwa Indonesia tak berkontribusi banyak pada langkah-langkah multilateral dalam penanganan pandemi," tambah Alyssa.

reputasi covid.jpg
reputasi covid.jpg

Laporan ini menyebutkan Indonesia mengalami peningkatan besar dalam hal hubungan ekonomi, yaitu naik satu peringkat.

Peningkatan ini terutama mencerminkan ratifikasi perjanjian perdagangan bebas dengan Australia atau IA CEPA, yang mulai berlaku awal Juli lalu.

"Terkait dengan hubungan ekonomi, perolehan (skor) Indonesia mencerminkan ratifikasi IA CEPA. Perjanjian perdagangan bebas ini merupakan sinyal positif dari meningkatnya integrasi perdagangan kedua negara di kawasan," jelas Alyssa.

Indeks Kekuatan Negara Asia

Laporan tahunan Asia Power Index mulai dilakukan Lowy Institute sejak 2018, mengukur sumberdaya dan pengaruh negara-negara di Asia.

Ada 26 negara dan teritori yang diamati mulai dari Pakistan di sebelah barat, Rusia di utara, hingga Australia dan Amerika Serikat.

Untuk tahun ini, indeks Lowy menggunakan tiga indikator baru untuk mengungkap ancaman ekologis, dialog keamanan, dan persepsi terhadap penanganan pandemi COVID-19.

grafik lowy.jpg
grafik lowy.jpg

Indeks Kekuatan Negara Asia Tahun 2020 yang dirilis Lowy Institute menunjukkan secara keseluruhan Indonesia mengalami penurunan 0,7 poin atau sekitar 3 persen.

Survei ini menyebutkan hanya tiga negara yang berasal dari kelompok negara dengan kekuatan menengah (middle powers) yang mengalami peningkatan pengaruh di tahun 2020. Yaitu, Vietnam, Australia dan Taiwan.

Dikatakan, kemampuan ketiga negara ini menangani pandemi COVID-19 bukan satu-satunya kondisi yang menyebabkan hal itu.

Sebab, ada negara lain seperti Selandia Baru dan Korea Selatan yang dianggap berhasil menangani pandemi namun tetap mengalami penurunan pengaruh.

Faktor lain yang menjadikan Vietnam, Australia dan Taiwan kian berpengaruh yaitu kemampuan mereka memanfaatkan peluang untuk membentuk tatanan di kawasan, meskipun ketiga negara ini belum cukup kuat untuk memaksaan tatanan tersebut.

Laporan Lowy mengatakan kinerja ketiga negara ini menggambarkan bagaimana masa depan kawasan akan ditentukan oleh multipolaritas asimetris.

"Di saat Amerika Serikat maupun China tak dapat membangun keunggulan di Asia, maka pilihan dan kepentingan negara-negara middle powers yang akan jadi penentu," kata laporan itu.

Secara keseluruhan Vietnam telah menggeser Selandia Baru di posisi 12 tahun ini setelah mendapatkan skor tertinggi sebagai negara berpengaruh yaitu 1,3 poin.

Vietnam kini hanya berada 1 poin di bawah posisi Indonesia untuk skor keseluruhan.