Survei Puspoll: Sosok Capres Koalisi Poros Islam Masih Terpecah

·Bacaan 2 menit

VIVA – Direktur Eksekutif Puspoll Indonesia, Muslimin Tanja mengatakan, pengetahuan atau akses publik (awareness) terhadap pemberitaan dan perbincangan publik terkait wacana koalisi poros Islam untuk Pemilu Presiden 2024 masih sangat rendah. Kebanyakan, publik belum pernah mendengar wacana koalisi poros Islam.

Hal itu berdasarkan hasil survei Puspoll Indonesia yang dilakukan pada periode 20-29 April 2021, dengan sampel sebanyak 1.600 responden yang tersebar di 34 provinsi. Sedangkan metodenya melalui wawancara tatap muka dengan kuesioner terstruktur.

Adapun survei ini menggunakan metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error ± (2,45 persen) pada tingkat kepercayaan 95 persen, dan usia minimum responden 17 tahun atau sudah memenuhi syarat pemilih.

"Hanya 14,8 persen responden yang menjawab pernah mendengar wacana koalisi poros Islam, dan 59,4 persen yang menjawab tidak atau belum mendengar," kata Muslimin saat diskusi online, Minggu, 23 Mei 2021.

Menurut dia, dari 14,8 persen responden yang menjawab pernah mendengar wacana koalilsi poros Islam itu sebanyak 46 persen menyatakan yakin akan terbentuk, dan 43 persen tidak yakin kalau poros Islam bakal terwujud. "Sisanya menjawab tidak tahu," ujarnya.

Kemudian, Muslimin mengatakan 41,8 persen responden menjawab yakin kalau poros Islam terbentuk akan memperjuangkan kepentingan-kepentingan umat Islam. Sementara, sebanyak 32,1 persen menjawab tidak yakin dan yang tidak terlalu peduli dengan koalisi poros Islam ini sekitar 14,7 persen.

"Artinya, dari sisi orang yang mendengarkan mengikuti pemberitaan ini baru 46 persen dan mengatakan ini baru bisa terwujud. Itu dari persepktif publik, tentu ini tidak kemudian menjadi apakah bisa terjadi atau tidak karena publik. Tentunya, koalisi dibangun pada saat menjelang pilpres," ujarnya.

Tantangan lain bagi koalisi poros Islam, kata dia, tentu sosok calon Presiden (capres). Lantaran itu, Muslimin mengatakan pihaknya memprospek delapan nama dan terlihat pemilih PKB itu cenderung suaranya lebih banyak kepada Prabowo Subianto dnegan 22,4 persen dan Ganjar Pranowo sebesar 21,8 persen.

Selanjutnya, pemilih PKS lebih memilih Anies Baswedan sebesar 40,7 persen dan Prabowo sebesar 26,3 persen. Kemudian, PPP memilih Ridwan Kamil sebesar 33,3 persen, Anies, Ganjar dan Prabowo sebesar 11,1 persen. Lalu, pemilih PAN memilih Anies dan Prabowo sebesar 25,0 persen; terakhir PBB memilih Anies sebanyak 66,7 persen.

"Ini sebaran poros Islam kalau dilihat pemilih partainya, itu masih tersebar suaranya ke beberapa nama calon, belum mengerecut pada satu nama. Ini tantangan bagi partai poros Islam, basis suara pemilih kecenderungan ketokohan calon presiden masih berbeda-beda," katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel