Survei: Rakyat Inginkan Revisi UU Pemilihan Presiden

Jakarta (ANTARA) - Lembaga survei Media Survey Nasional menyebutkan ada kecenderungan rakyat Indonesia menginginkan revisi terhadap Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden RI, khususnya terkait dengan angka ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold).

Menurut Direktur Eksekutif Media Survey Nasional (Median), Rico Marbun, dalam siaran pers di Jakarta, Selasa, survei yang dilaksanakan pada tanggal 21 Desember 2012 hingga 4 Januari 2013 itu bertujuan menganalisis kecenderungan suara publik terhadap usulan revisi UU Pemilu Presiden dan Wakil Presiden RI, khususnya mengenai poin angka "presidential threshold".

"Total responden 1.400 orang di 33 provinsi di Indonesia, dipilih secara acak dengan metode `multistage random sampling`," katanya.

Hasilnya, kata dia, mengenai usulan revisi UU Pilpres, berdasarkan hasil survei diketahui bahwa sebagian besar publik, sebesar 52,08 persen ternyata lebih menginginkan adanya revisi terhadap UU yang menjadi dasar pemilihan presiden 2014 itu.

Mereka yang berpendapat tidak perlu adanya revisi relatif kecil, hanya 20,9 persen. Sisanya sebesar 27,01 persen menjawab tidak tahu.

"Suara sebagian besar masyarakat ini bertolak belakang dengan keinginan beberapa fraksi, terutama fraksi besar, di DPR yang tetap mempertahankan UU Pilpres itu," kata Rico.

Setidaknya, kata dia, pilihan sebagian besar publik yang menghendaki adanya revisi terhadap UU Pilpres itu searah dengan pendapat sebagian besar masyarakat yang mengharapkan adanya calon presiden yang lebih bervariasi pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden RI 2014.

Berdasarkan temuan survei diketahui bahwa sebanyak 64,78 persen responden lebih menyukai banyaknya calon presiden sehingga mereka memiliki lebih banyak alternatif pilihan.

"Keberadaan calon presiden yang lebih banyak itu bisa jadi menggambarkan realita kejenuhan masyarakat terhadap pilihan calon presiden yang ada saat ini," katanya.(rr)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.