Survei SMRC: 39 Persen Warga Takut Bicara Masalah Politik

Syahrul Ansyari, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA - Survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terkini menunjukkan semakin banyak warga yang takut bicara masalah politik. Survei menemukan penilaian, warga takut karena penangkapan semena-mena aparat penegak hukum.

Survei menunjukkan sekitar 39 persen warga menyatakan masyarakat sering atau selalu takut bicara masalah politik, dan 32 persen menyatakan masyarakat takut karena penangkapan semena-mena aparat hukum.

“Walau tidak mayoritas, tapi kita perlu peduli karena angka ini menunjukkan peningkatan dari waktu-waktu sebelumnya,” kata Manajer Program SMRC, Saidiman Ahmad, dalam rilis hasil surveinya bertajuk 'Sikap Publik Nasional terhadap FPI dan HTI', Selasa 6 April 2021 di Jakarta.

Survei berskala nasional itu dilakukan pada 28 Februari-5 Maret 2021 dengan melibatkan 1.064 responden yang dipilih secara acak. Adapun batas kesalahan dalam survei atau margin of error diperkirakan kurang lebih 3,07 persen.

Baca juga: Survei: 94 Persen Masyarakat Setuju Sekolah Tatap Muka Kembali

Menurut Saidiman, yang menilai masyarakat takut berbicara tentang masalah politik naik 14 persen jika membandingkan survei yang serupa pada medi Juli 2009 lalu.

Demikian pula, yang menilai masyarakat takut karena karena penangkapan semena-mena oleh aparat hukum naik dari 23 persen.

Selain itu, survei SMRC juga menunjukkan, yang menilai masyarakat takut ikut organisasi naik dari 9 persen pada survei Juli 2009 menjadi 20 persen saat ini. Artinya, dari responden yang dimintai pendapatnya, mengatkan semakin banyak warga mengatakan sekarang masyarakat takut ikut organisasi.

Survei SMRC juga menemukan, yang menilai masyarakat takut melaksanakan ajaran agama meningkat dari hanya 2 persen pada survei Juli 2009 menjadi 11 persen dalam survei Maret 2021. Dengan demikian, semakin banyak warga yang menjadi takut melaksanakan ajaran agama.

“Kecenderungan ini perlu diperhatikan secara serius oleh pemerintah mengingat dalam masyarakat demokratis, warga justru seharusnya berani membicarakan masalah politik, berorganisasi, serta tidak khawatir dengan aparat keamanan, dan tidak takut untuk melaksanakan ajaran agamanya,” ujar Saidiman.

Saidiman menunjukkan, bahwa kecenderungan masyarakat sering takut bicara politik ini ditemukan di kalangan mereka yang cenderung menganggap negatif kinerja Jokowi dan pemerintahannya.

Sekitar 48 persen dari warga yang kurang dan tidak puas dengan kinerja Jokowi menganggap takut bicara politik. Sementara sebaliknya, di kalangan yang sangat/cukup puas angkanya hanya 37 persen.