Survei: Warga kulit hitam di AS nilai rasisme tantangan berkepanjangan

Dua pertiga warga kulit hitam di Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa meningkatnya fokus pada ras dan ketidaksetaraan rasial baru-baru ini di negara tersebut belum menghasilkan perubahan yang memperbaiki kehidupan warga kulit hitam, demikian dilansir CNN pada Selasa (30/8) mengutip laporan baru dari Pew Research Center.

"Temuan ini menandai perubahan yang pesimistis: Pada September 2020, mayoritas warga dewasa kulit hitam (56 persen) merasa perhatian yang lebih besar tentang isu ras dan kesetaraan menyusul protes pada musim panas yang dipicu oleh pembunuhan George Floyd akan mengarah pada perubahan yang memperbaiki kehidupan masyarakat kulit hitam," tulis laporan tersebut.

Kendati demikian, survei baru itu menunjukkan 65 persen warga dewasa kulit hitam mengatakan bahwa perubahan tersebut belum terwujud. Hanya 13 persen responden yang menilai sangat atau mungkin sekali warga kulit hitam di Amerika Serikat akan mencapai kesetaraan, dengan sedikit variasi pada usia, jenis kelamin, wilayah, atau tingkat pendidikan di antara responden tersebut.

"Survei itu, yang meliputi wawancara dengan 3.000 lebih warga kulit hitam Amerika di seluruh negeri yang dilakukan musim gugur lalu, menemukan bahwa 82 persen responden menganggap rasisme sebagai masalah utama bagi warga kulit hitam di Amerika Serikat," menurut laporan itu.

Sekitar delapan dari 10 warga kulit hitam Amerika melaporkan pernah mengalami diskriminasi secara langsung karena ras atau etnis mereka (79 persen), termasuk 15 persen yang mengatakan sering mengalami diskriminasi seperti itu.

Sementara itu, kira-kira tujuh dari 10 (68 persen) orang mengatakan diskriminasi rasial adalah alasan utama banyaknya warga kulit hitam tidak bisa maju belakangan ini, tambah laporan tersebut.